Duka Bima dan Sumbawa 2016: Pahami Karakteristik Bencana Jadi Kunci Minimalisasi Dampak

Kejadian Banjir Bima Periode Desember 2016

Belum hilang dari ingatan, Gempa Bumi Aceh pada 7 Desember 2016 yang menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal, Indonesia kembali dilanda duka. Rabu, 21 Desember 2016 dan Jum’at, 23 Desember 2016 kembali terjadi bencana alam yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Barat. Banjir besar melanda Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa. Kejadian banjir terbesar melanda Kota Bima. Setidaknya enam kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Empunda, Rasanae Timur, Asa Kota, Raba, Rasanae Barat, dan Rasanae terendam banjir dengan ketinggian satu hingga tiga meter. Berdasarkan press release yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tanggal 26 Desember 2016, banjir yang merendam 33 desa tersebut ditaksir menyebabkan kerugian lebih dari satu trilliyun. Banjir besar tersebut menyebabkan kerusakan pada fasilitas kesehatan (64,4 M), fasilitas pendidikan (9,2 M), infrastruktur (259 M), komplek perkantoran (30,1 M), komplek pertokoan (420 Juta), komplek perumahan (30,1 M) serta lahan pertanian (5,81 M). Kerugian tersebut berpotensi besaar mengalami peningkatan mengingat hujan deras masih terus terjadi hingga saat ini.

Dampak sekunder yang diakibatkan oleh banjir besar di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa adalah terganggunya aktivitas perekonomian masyarakat. Jalan yang sebagian besar tertutup air dan terkadang masih berlumpur, menyebabkan masyarakat tidak dapat melakukan pekerjaan rutin mereka, sehingga untuk sementara waktu masyarakat cenderung pasif dan mengandalkan bantuan dari donatur dan pemerintah karena aktivitas sehari-hari memang belum dapat dilakukan secara normal. Jaringan listrik dan telekomunikasi yang rusak akibat banjir juga menyebabkan masyarakat tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Tanpa kita sadari, jaringan listrik dan telekomunikasi memang sudah menjadi salah satu kebutuhan primer masyarakat sehingga ketika jaringan listrik dan telekomunikasi bermasalah, secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh dalam penghidupan masyarakat. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BNPB, di Kota Bima jumlah masyarakat terdampak mencapai 105.753 jiwa, sedangkan jumlah pengungsi mencapai 8.941 jiwa yang tersebar di 30 titik.

Banjir susulan yang terjadi pada jum’at 23 Desember 2016 juga memperparah kondisi masyarakat di Kota Bima. Meski tidak sebesar banjir yang terjadi di hari rabu, 21 Desember 2016, banjir susulan ini menggenangi kawasan pemukiman masyarakat. Warga yang sebelumnya sudah kembali ke rumah mereka pasca dievakuasi harus kembali ke tempat pengungsian karena banjir susulan tersebut. Data sementara yang diperoleh dari BPBD Kota Bima, menunjukkan bahwa terdapat 593 rumah rusak berat, 2.400 rumah rusak sedang, 16.226 rumah rusak ringan. Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat banjir yang terjadi di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa. Meski tidak terdapat korban bencana, kejadian banjir selalu menyengsarakan masyarakat karena bencana banjir biasanya terjadi pada waktu yang cukup lama. Menilik dari fenomena tersebut, akhirnya diambil keputusan bahwa masa tanggap darurat diperpanjang hingga 5 Januari 2017.

Proses Terjadinya Banjir Bima 2016

Secara klimatis, banjir di Nusa Tenggara Barat, khususnya Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa disebabkan oleh hujan ekstrem. Berdasarkan analisis dari BMKG, hujan ekstrem tersebut disebabkan oleh Siklon Tropis Yvette. Saat ini, posisi Siklon Tropis Yvette berada di Samudera Hindia Selatan Bali, sekitar 620 km sebelah selatan Denpasar dengan arah dan kecepatan gerak Utara Timur Laut. Siklon Tropis Yvette menyebabkan hujan deras di wilayah Indonesia bagian selatan. Berdasarkan prediksi cuaca yang diperoleh dari web storm surf, hujan masih akan terjadi secara fluktuatif di daerah Nusa Tenggara Barat, namun intensitasnya cenderung menurun dibandingkan dengan hujan yang terjadi pada minggu lalu. Kenampakan arah dan kecepatan angin di daerah Nusa Tenggara Barat dan wilayah sekitar dapat dilihat pada Gambar 1.

2 -bima
Gambar 1. Kecepatan dan Arah Angin daerah Sumbawa dan Sekitarnya (Sumber: Stormsurf, 2016)

Angin yang berhembus di Pulau Sumbawa berasal dari Australia bagian Barat dibelokkan menuju arah timur laut. Iklim yang terdapat di Australia bagian Barat dipengaruhi adanya gurun, sehingga iklim yang terdapat di Pulau Sumbawa merupakan iklim kering. Iklim kering memiliki karakter dengan hujan yang sedikit yang terjadi dalam waktu setahun. Karakter hujan yang sedikit dalam kurun waktu setahun akan berdampak pada intensitas curah hujan yang tinggi dalam kurun waktu yang singkat. Curah hujan yang tinggi dengan tidak diimbangi adanya vegetasi penutup yang rapat akan menyebabkan terjadinya limpasan air permukaan. Air tidak dapat terserap ke dalam tanah, kemudian langsung terlimpas ke permukaan. Limpasan air permukaan yang memiliki kapasitas dan debit yang besar akan menyebabkan terjadinya bencana banjir bandang yang banyak diketahui banyak orang. Banjir bandang memiliki kecepatan arus yang tinggi, sehingga mampu melalukan segala sesuatu yang dilalui.

Secara morfologis, Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa terletak di daerah hilir yang merupakan outlet dari akumulasi air di daerah hulu (Gambar 2). Secara logika, sangat wajar ketika tiga daerah tersebut dilanda oleh banjir. Berdasarkan unit lahannya, Kota Bima tergolong dalam Sistem Lahan Nanga Nae (NNE). NNE merupakan sistem lahan yang terbentuk dari sedimentasi material yang ada di bagian hilir. Sistem lahan ini memiliki didominasi oleh tanah Ustropepts dan Fluvaquents yang dicirikan oleh tanah yang terletak di bagian hilir. Sistem lahan ini dicirikan oleh drainase yang kurang baik, sehingga hujan yang jatuh tidak dapat diserap tanah dengan baik. Hal tersebut berakibat pada terjadinya limpasan permukaan. Saat limpasan permukaan menuju aliran sungai dan sungai tidak dapat menampung akan terjadi banjir.

3 -bima
Gambar 2. Citra SRTM Sebagian Nusa Tenggara (Sumber: Analisis, 2016)

Salah satu masalah yang bukan diakibatkan oleh faktor edafik dan klimatik adalah faktor penggundulan hutan. Faktor ekonomi menjadi permasalahan di beberapa daerah di Indonesia menyebabkan masyarakat sering salah langkah dalam usaha untuk memenuhi hajat hidupnya. Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penahan air sehingga air tidak segera bergerak menuju hilir tidak berfungsi secara mestinya.

Pola pemukiman di Kota Bima yang notabene terletak di daerah hilir, sangat dekat dengan sungai. Asosiasi antara sungai dengan pemukiman tersebut menyebabkan masyarakat akan terpapar terhadap bencana banjir, khususnya banjir luapan. Empat faktor yang berkolaborasi tersebut menyebabkan banjir bandang dan banjir luapan sehingga menyebabkan kerugian lebih dari satu triliyun.

Tahap Saat Bencana dan Proses Rehabilitasi Pasca Banjir Bima

Proses evakuasi korban bencana banjir Bima dilakukan oleh BPBD dan SKPD setempat, sebelum akhirnya dibantu oleh Pemerintah Pusat dan stake-holder terkait. Titik pengungsian disebar ke daerah yang benar-benar aman dari ancaman bencana banjir seperti di masjid dan bukit Penaraga, Rite, Santi, Tambana, Dana Traha, Bukit Jatiwangi, Bukit Kosambo Mande, Soncotengge, Bukit Penatoi, dan Dorolonda. Proses evakuasi membutuhkan usaha lebih karena bencana banjir masih terjadi di beberapa titik, hal tersebut menyebabkan laju kendaraan sedikit terhambat oleh air dan endapan sedimen yang terbawa oleh banjir. Di sisi lain, keberadaan perahu karet untuk evakuasi korban banjir jumlahnya masih terbatas. Hal tersebut diperparah dengan rusaknya beberapa jembatan di Kota Bima seperti Jembatan Penato’I dan Padolo.

Pelan tapi pasti, bantuan terus berdatangan ke Kota Bima. Bantuan tersebut kebanyakan dalam bentuk makanan, tenda, matras dan kebutuhan dasar lainnya. Bantuan berupa relawan dan tenaga medis juga terus berdatangan untuk membantu korban bencana banjir Bima. Kebutuhan masyarakat yang cukup mendesak adalah penyediaan air bersih. Air bersih mulai langka karena banyak mata air maupun sumber air yang diterjang oleh banjir. Belum lagi hal tersebut diperparah dengan pemadaman listrik yang dilakukan PLN karena Gardu Induk PLN juga direndam oleh banjir. Rusaknya jembatan dan terhalangnya aksesibilitas jalan juga turut mempersulit distribusi logistik ke barak pengungsian. Beberapa logistik memang sudah disalurkan, namun sebagian yang lain belum karena permasalahan aksesibilitas. Tambahan perahu karet mutlak diperlukan untuk menyalurkan bantuan kepada para pengungsi.

Keberadaan masyarakat di barak pengungsian tentunya tidak senyaman di rumah masing-masing. Masyarakat tentu akan merasa insecure karena berada di tempat baru dan fasilitas yang tentunya berbeda dengan apa yang mereka dapat di rumah. Oleh sebab itu keberadaan tenaga medis sangat diperlukan untuk mengurangi dampak psiko-sosial yang terjadi pada masyarakat yang berada di barak-barak pengungsian.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh BNPB tertanggal 28 Desember 2016, masyarakat sudah mulai kembali ke rumah masing-masing. Pelan tapi pasti, aktivitas masyarakat kembali normal. Masyarakat sudah mulai membersihkan rumah dan lingkungan sekitarnya dari genangan lumpur yang terbawa oleh banjir. Pembersihan jalan juga dilakukan oleh TNI dibantu oleh stake-holder terkait sehingga fungsi jalan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pemulihan terhadap keberadaan fasilitas umum juga terus dilakukan oleh dinas terkait di bawah komando masyarakat. BNPB juga mengeluarkan dana cash for work untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak, mengingat pada beberapa hari ke belakang masyarakat tidak dapat bekerja. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu merangsang tumbuh kembangnya ekonomi masyarakat yang sempat mati suri akibat banjir. Proses rehabilitasi diharapkan rampung pada 3 Januari 2017, sehingga kondisi Kota Bima sudah bisa normal pada tanggal tersebut.

Pencegahan Banjir di Masa Akan Datang

Pencegahan terhadap bencana banjir di Provinsi Nusa Tenggara Barat di waktu mendatang dapat dikelompokkan menjadi tiga tahapan yaitu Pencegahan Jangka Pendek, Menengah dan Jangka Panjang. Pencegahan jangka pendek dapat dilakukan dengan melakukan normalisasi sungai sehingga ketika kembali terjadi hujan deras air dapat dialirkan dengan baik dan tidak terjadi luapan. Pengijauan kawasan hulu juga harus dilakukan sehingga infiltrasi di kawasan hulu dapat berjalan dengan baik sehingga limpasan permukaan tidak terjadi dalam jumlah besar. Penanaman tanaman semak belukar juga dapat dilakukan di bagian hulu untuk menghindari terjadinya erosi percik dan mengurangi jumlah sedimen yang terbawa ke bagian hilir. Penanaman semak belukar relatif tahan terhadap iklim kering dan dapat pula dimanfaatkan untuk lahan penggembalaan yang akan menjadi nilai tambah ekonomi masyarakat.

Pencegahan jangka menengah dapat dilakukan dengan mengeluarkan Peraturan Daerah yang bersifat mengikat sehingga masyarakat tidak membangun bangunan di sempadan sungai. Hal tersebut dapat meminimalkan risiko terhadap bencana banjir bandang maupun banjir luapan. Aturan untuk konservasi daerah hulu juga mulai harus dipikirkan mengingat salah satu penyebab banjir bandang dan banjir luapan di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa adalah permasalaha deforestasi di kawasan hulu.

Perencanaan jangka panjang dapat dilakukan dengan melakukan pemetaan desa di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa. Penyediaan data dan informasi geospasial pada skala detil (1:5.000) dapat menjadi bahan dalam perencanaan wilayah dan tata ruang. Perencanaan tata ruang pada skala detil tersebut harus memasukkan unsur multi-bencana dalam luarannya. Dokumen pemetaan desa dan perencanaan tata ruang wilayah dapat dijadikan acuan dalam proses pembangunan di masa mendatang. Dokumen ini juga dapat digunakan sebagai dasar penertiban bangunan yang melanggar peraturan tentang sempadan sungai.

Share: