Benarkah Pesisir Indonesia Akan Hilang?

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang ada di dunia dengan ±17.504 pulau yang menyusun wilayah Indonesia dari Sabang sampai MeraukeGaris pantainya (Kemenkeu, 2015) . Fakta yang lebih mengejutkan penduduk Indonesia saat ini diprediksi >240 juta dan lebih dari 60% penduduk Indonesia tersebut bertempat tinggal di wilayah pesisir (Durand, 2010). Hal ini terjadi bukan tanpa alasan akan tetapi karena keanekaragaman hayati yang tinggi di wilayah pesisir dan laut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Isu kenaikan muka air laut ini bukanlah topik hangat yang baru diperbincangkan akan tetapi sudah mulai digemakan pada tahun 1990an. Hal ini terbukti dengan terbentuknya Protokol Kyoto pada tahun 1997 yang mengikat negara-negara yang meratifikasi untuk mengurangi dan menjaga emisi gas karbon di masing-masing negara untuk menjaga stabilitas lingkungan.

Penyebab utama terjadinya kenaikan muka air laut adalah pemanasan global (gobal warming). Efek tersebut terjadi karena naiknya suhu rata-rata di bumi sehingga mengakibatkan mencairnya es atau gletser di kutub utara maupun selatan yang akhirnya menambah volume air di lautan. Sesuai dengan laporan International Panel On Climate Change (IPCC ) bahwa rata-rata suhu permukaan global meningkat 0,3 – 0,6 0C sejak akhir abad 19 dan sampai tahun 2100 suhu bumi diperkirakan akan naik sekitar 1,4 – 5,8 0C (Bratasida, 2002). Laporan IPCC (2001) lainnya menyebutkan bahwa Indonesia akan kehilangan sekitar 34.000 km2 dan mengancam kehidupan 2 juta penduduk jika mengalami kenaikan muka air laut hingga 60 cm. Hal ini tentunya sangat mengancam keberlangsungan kehidupan yang ada di pesisir Indonesia.

Wilayah Indonesia yang diprediksi secara signifikan mengalami kenaikan muka air laut adalah Indonesia bagian Tengah sampai Indonesia bagian Timur. Wilayah Indonesia bagian barat hanya beberapa yang mengalami kenaikan muka air laut (Gambar 1). Salah satu wilayah Dasanto (2010) juga mengemukakan bahwa berdasarkan trend kenaikan muka air laut sebesar 0,01 m/tahun maka pada tahun 2050 dapat menyebabkan banjir rob yang dapat menggenangi wilayah pesisir Kabupaten Indramayu seluas 2900 ha. Dampak lain yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut dan pasang tinggi dapat berakibat terganggunya aktivitas masyarakat yang menimbulkan kerugian materi sebesar 1,1 – 1,9 milyar rupiah. Angka tersebut cukup besar dan perlu adanya penanganan yang lebih lanjut untuk meminimalisasi dampak lebih buruk yang akan terjadi.

Gambar 1. Kenaikan muka air laut Indonesia berdasarkan altimeter tahun 1993-2008 (Sofian dan Wijanarto, 2008)
Gambar 1. Kenaikan muka air laut Indonesia berdasarkan altimeter tahun 1993-2008 (Sofian dan Wijanarto, 2008)

Upaya yang dapat dilakukan terhadap pemanasan global yang menyebabkan kenaikan muka air laut meliputi 2 hal yakni upaya pencegahan sebagai langkah dini mengantisipasi terjadinya kenaikan muka air laut dan upaya penanggulangan sebagai langkah kuratif yang dapat dilakukan setelah terjadinya kenaikan muka air laut. Beberapa upaya pencegahan tersebut adalah mengurangi aktivitas yang menghasilkan Gas Rumah Kaca (GRK) dan merusak lapisan ozon, melakukan perencanaan tata ruang yang berwawasan lingkungan, dan peningkatan kepedulian masyarakat mengenai pentingnya lingkungan. Langkah penanggulangan yang dapat dilakukan adalah peningkatan sarana dan prasarana penanggulangan banjir, merehabilitasi lahan kritis dengan cara reboisasi, peningkatan penanganan lingkungan dan habitat pesisir, serta peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat (Suwedi, 2005).

Indonesia tentu tidak lepas tangan atas permasalahan Hal ini perlu adanya dukungan penuh dari masyarakat Indonesia. Dukungan tersebut dapat dimulai dengan langkah-langkah kecil yakni mulai memakai alat-alat yang ramah lingkungan dan menjaga kebersihan lingkungan.

 

Penulis

Ikrima Avicenna

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura

Surel: avicennaikrima@gmail.com

 

DAFTAR PUSTAKA

Bratasida, L. 2002. Tinjauan Dampak Pemanasan Global dari Aspek Lingkungan Hidup. Seminar Nasional Pengaruh Global Warming terhadap

      Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Ditinjau dari Kenaikan Permukaan Air Laut dan Banjir. Jakarta.

Dahuri, R. 2002. Pengaruh Global Warming terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Seminar Nasional Pengaruh Global Warming terhadap Pesisir

      dan Pulau-Pulau Kecil Ditinjau dari Kenaikan Permukaan Air Laut dan Banjir. Jakarta.

Dasanto, B.D. 2010. Penilaian Dampak Kenaikan Muka Air Laut pada Wilayah Pantai: Studi Kasus Kabupaten Indramayu. Jurnal Hidrosfir

      Indonesia. 5(2):43-53.

Durand, S.S. 2010. Studi Potensi Sumberdaya Alam di Kawasan Pesisir Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 6(1):1-7.

IPCC. 2001. Summary for Policymakers In: Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment

      Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Houghton, J.T., Y. Ding, D.J. Griggs, M. Noguer, P.J. van der Linden, X. Dai, K.

Maskell, and C.A. Johnson (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, US.

Kementerian Keuangan Indonesia. 2015. Media Keuangan Transparansi Informasi Kebijakan Fiskal Ekonomi Biru Harapan Baru. Vol. 10 No. 91.

Jakarta.

Sofian, I and A.B. Wijanarto . 2008. Kenaikan Tinggi Muka Laut di Jakarta berdasarkan IPCC AR4. Jurnal Geomatika. 14(2):71-80.

Suwedi, N.  2005. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Pemanasan Global. Jurnal Teknik Lingkungan. 6(2):397-401.