Gelombang Datang, Gumuk Pasir Menghadang

Fenomena gelombang pasang yang melanda sejumlah wilayah pesisir di Indonesia menjadi topik hangat untuk diperbincangkan akhir-akhir ini. Beberapa wilayah pesisir yang diperkirakan mengalami gelombang pasang di antaranya adalah Sabang, Kepulauan Mentawai, Bengkulu, selatan Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur.

Penyebab gelombang pasang diperkirakan karena pengaruh sejajarnya Bumi, Bulan, dan Matahari dalam satu garis lurus. Sebenarnya ini merupakan fenomena yang wajar namun karena bertepatan dengan pengaruh perbedaan tekanan Australia-Indonesia, ditambah anomali positif kenaikan muka air laut di Indonesia, menyebabkan kecepatan angin dan daya jangkau gelombang lebih jauh ke arah daratan.

DSC02915Dampak negatif dari gelombang pasang di antaranya adalah kerusakan bangunan dan kerugian materi lainnya. Namun, terdapat hikmah yang dapat diambil dari kejadian ini untuk mempersiapkan diri di masa depan, khususnya apabila dikaitkan dengan isu pemanasan global yang menyebabkan kenaikan muka air laut.

Ada kecenderungan bahwa kenaikan muka air laut semakin meningkat. Hal ini tentu memberikan dampak negatif karena mampu menyebabkan berkurangnya luasan wilayah pesisir dan terancamnya keberadaan pulau-pulau kecil. Apabila tidak disikapi dengan baik sejak dini, maka akan menimbulkan bencana dengan kerugian yang tidak sedikit.

Kota-kota besar di Indonesia, bahkan di dunia, sebagian besar terletak di wilayah pesisir yang sangat rentan terhadap bencana. Diperlukan perencanaan pembangunan untuk mencegah/mengurangi risiko kebencanaan di wilayah pesisir. Sejatinya, menghindari secara total risiko dari bencana adalah hal yang sulit dilakukan. Target yang paling memungkinkan adalah mengurangi risiko bencana yang terjadi di masa depan, ditambah dengan penguatan pembangunan berbasis kebencanaan mulai dari sebelum, saat, dan sesudah terjadi bencana.

Millenium Ecosystem Assessment menawarkan paradigma baru dalam pembangunan berbasis pengurangan risiko bencana. Apabila sebelumnya penanganan bencana berfokus pada pembangunan fisik, Millenium Ecosystem Assessment memberikan pilihan melalui konservasi ekosistem alami yang ada di wilayah kepesisiran.

Gumuk pasir yang ada di beberapa lokasi di pulau jawa, khususnya di Desa Parangtritis, merupakan suatu ekosistem yang penting dalam pengurangan risiko kebencanaan kepesisiran. Kemunculan gumuk pasir parangtritis mampu menjadi tembok alam yang mampu meredam gelombang pasang di masa yang akan datang.

Selain itu, gumuk pasir di Parangtritis memiliki keunggulan dibandingkan ekosistem lainnya seperti mangrove ataupun terumbu karang. Gumuk pasir di Parangtritis merupakan ekosistem yang langka karena memiliki tipe barkhan (barchan). Pada umumnya, gumuk pasir barkhan hanya terbentuk di iklim arid namun di Parangtritis yang beriklim tropis basah, justru terbentuk gumuk pasir tipe barkhan.

Oleh karena itu, keberadaan ekosistem gumuk pasir, tanpa melupakan ekosistem lainnya seperti mangrove, dan terumbu karang, perlu dijaga fungsinya. Pembangunan yang ada perlu memperhatikan keberadaan dan fungsi ekosistem tersebut. Harapannya, jasa ekosistem untuk pengurangan risiko bencana, dipadukan dengan rencana pembangunan dapat berjalan saling melengkapi.

Mega Dharma Putra

Pustaka

Barbier, Edward B. 1993. Sustainable Use of Wetlands Valuing Tropical Wetland Benefits: Economic Methodologies and Applications. The Geographical Journal Volume 159 No.1 Maret 1993 halaman 22-32.

Martinez, M. L., N. P. Psuty, dan R. A. Lubke. 2008. A Perspective on Coastal Dunes dalam M. Luisa Martinez dan Norbert P. Psuty (eds). 2008. Coastal Dunes: Ecology and Conservation. Berlin: Springer.