Gumuk Pasir Bikin Naksir!

Tulisan dari pemenang Creative Writing Workshop

Penulis: Belinda Putri Nabila, Sintia Arif Fatunnisa, Rokhain Nur Hafidza (SMPN 1 Sanden)

 

Halo sobat geografi! Pernakah kalian mendengar kata sand dune  atau gumuk pasir? Gumuk pasir adalah gundukan pasir yang terjadi akibat pasir yang terhembus oleh angin. Hal-hal yang memengaruhi terjadinya gumuk pasir ialah aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan Merbabu, aliran Sungai Opak dan Progo yang membawa material vulkanik, serta tenaga gelombang Parangtritis. Gumuk pasir mempunyai beberapa tipe seperti tipe barchan atau bulan sabit, tipe longitudinal, tipe transversal, dan tipe parabola.

 Lalu tahukah kalian bagaimana gumuk pasir dapat terbentuk? Di Parangtritis Geomaritime Science Park, terdapat bangunan yang dapat menggambarkan proses terbentuknya gumuk pasir. Bangunan kerucut dibuat untuk melambangkan Gunung Merapi, lorong pengetahuan melambangkan Sungai Opak dan Progo, kemudian gedung lengkung melambangkan gumuk pasir. Proses terbentuknya gumuk pasir di Parangtritis dimulai ketika meletusnya Gunung Merapi dan mengeluarkan material vulkanik yang berupa awan panas beserta debu, pasir, lahar panas, lahar dingin, dan batu-batuan yang mengalir ke sungai-sungai yang berhulu di Merapi yaitu Sungai Opak, Bedog, Boyong, Gendol, dan lain-lain. Material vulkanik tersebut mengalir menuju muara Opak hingga masuk laut. Tenaga gelombang laut yang besar membawa material tersebut terendap di pantai. Material vulkanik berupa pasir selanjutnya dibawa oleh angin dan menumpuk di suatu tempat.

Syarat terjadinya gumuk pasir adalah pantai yang landai, adanya pasir sebagai pemasok material, gelombang laut mampu menghempaskan pasir dari laut ke darat, arus di sepanjang pantai kuat, serta adanya perbedaan tegas antara musim kemarau dan musim hujan. Gumuk pasir sering kali kita lihat di sepanjang Pantai Parangtritis hingga Pantai Depok. Mungkin sebagian dari kalian masih bingung bagaimana wujud nyata dari gumuk pasir. Berikut adalah tipe-tipe gumuk pasir.

tipe gumuk

Sumber : http://www.gurugeografi.id/2017/02/jenis-gumuk-pasir-sand-dune.html

Gumuk pasir di Parangtritis merupakan kawasan geoheritage yaitu kawasan dengan nilai-nilai kebudayaan. Sebenarnya dahulu gumuk pasir Parangtritis ditujukan menjadi kawasan yang dilindungi dan diakui oleh United Nations Educational Scientific Cultural Organization. Namun, seiring berjalannya waktu gumuk pasir telah dialihfungsikan menjadi lahan pertanian dan pariwisata. Contohnya, para petani menanam pohon cemara udang di gumuk pasir sehingga menghalangi angin yang membawa pasir. Warga sekitar memanfaatkan lahan gumuk pasir untuk pariwisata dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya menjadi spot foto dan sandboarding yang hanya ada di Asia Tenggara khususnya Indonesia.

Gumuk pasir Parangtritis pernah mengukir sejarah karena adanya siklon tropis cempaka. Ingatkah kalian tentang siklon tropis cempaka?  Beberapa waktu lalu Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu wilayah yang terkena dampak parah dari siklon tersebut. Walaupun siklon tersebut membawa dampak negatif namun juga membawa positif bagi para pengunjung yaitu hal menarik di Desa Parangtritis dimana mereka bisa menikmati pemandangan oase di tengah gumuk pasir. Fenomena oase ini terjadi di area yang dinamakan “dune slack” atau lembah gumuk. Habis gelap terbitlah terang, begitulah peribahasa yang dapat menggambarkan gumuk pasir beberapa waktu yang lalu.

Sobat, apakah kalian tahu bahwa gumuk pasir ada 2 di dunia, yaitu di Meksiko dan Indonesia. Gumuk pasir di Parangtritis memiliki tipe barchan yang cukup langka. Mengapa? Karena tipe ini hanya ada di Indonesia. Termuat dalam salah satu surat kabar di Jogja,  gumuk pasir berkurang karena dampak dari penambangan pasir yang berukuran sekitar 10×50 meter di area tersebut. Terdapat pula bekas ban truk pengangkut material pasir. Hal lain yang dapat merusak keaslian gumuk pasir ialah banyaknya wisatawan yang datang dan meninggalkan sampah serta   Namun, masih terdapat gumuk pasir yang bisa dinikmati keasliannya yaitu di sebelah tenggara Pantai Parangtritis. Hal tersebut dikarenakan masyarakat pesisir memindahkan gumuk pasir kecil yang menghalangi rumah, akses jalan, dan lahan pertanian sehingga gumuk pasir tidak bertambah banyak namun justru berkurang.

Coba kalian bayangkan, jika gumuk pasir dari tahun ke tahun semakin berkurang. Pasti generasi kita selanjutnya tidak dapat menikmati panorama gumuk pasir yang ada di Parangtritis. Maka dari itu sobat, marilah kita sebagai generasi penerus bangsa haruslah menjaga keaslian gumuk pasir dengan cara tidak menghalangi jalan angina dalam membawa pasir misalnya tidak membangun perumahan penduduk, tidak menanam pohon yang dapat menghalangi jalan angin, dan tidak campur tangan dalam pembentukan gumuk pasir seperti mengeruk, memindahkan, dan meratakan.

 

Daftar Pustaka

Tribun Jogja. 2018. Gumuk Pasir Parangtritis Hilang karena Ditambang, Ini Buktinya. Diakses di http://jogja.tribunnews.com/2018/02/19/muncul-cerukan-di-gumuk-pasir-parangtritis-diduga-bekas-penambangan pada tanggal 9 April 2018.