Jateng-DIY Darurat Bencana, PGSP Terjunkan Tim Reaksi Cepat

Bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, juga melanda Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kerugian yang muncul dari banjir dan longsor tentu tidak sedikit. Oleh karena itu, pembangunan yang ada di setiap daerah idealnya selain memperhatikan potensi sumber daya, juga memperhatikan karakteristik kebencanaan yang ada. Persiapan yang lebih baik untuk mengurangi risiko bencana akan dapat dilakukan ketika mengetahui jenis bahaya yang dihadapi di suatu wilayah. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah keterlibatan berbagai pihak baik sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana. Penanganan bencana tentu membutuhkan berbagai elemen yang ada di masyarakat untuk mencegah dan menanggulanginya.

Saat ini, penanganan bencana ada di Tahap Setelah Bencana (mengacu pada Siklus Manajemen Kebencanaan). Dalam Tahap Setelah Bencana, beberapa kegiatan yang penting dilakukan adalah kegiatan Evakuasi, Perlindungan, Pencarian dan Penyelamatan Korban, serta Penilaian Kebutuhan Pengungsi dan Kerusakan Akibat Bencana. Kegiatan lainnya yang juga penting dilakukan dalam tahap setelah bencana adalah inventarisasi data mengenai bencana yang terjadi. Kegiatan ini dapat dikatakan setara dengan penyelamatan nyawa, bahkan lebih. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh dapat dijadikan informasi yang berharga untuk memprediksi kejadian bencana di waktu mendatang. Informasi yang didapatkan dapat digunakan untuk penentuan kebijakan selanjutnya dan mampu mengurangi risiko bencana yang ada.

Sungai Seling
Gambar 1. Wilayah Sungai Seling di Desa Kulur, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, DIY

Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) menyikapi bencana banjir dan longsor di Jateng-DIY dari sudut pandang science park dengan menerjunkan tim reaksi cepat pada Senin (20/6) untuk inventarisasi data kebencanaan di Kecamatan Temon (Gambar 1) dan Panjatan (Gambar 2), Kabupaten Kulonprogo, DIY. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengumpulan data foto udara menggunakan pesawat nirawak. Selasa ini (21/6) PGSP kembali menerjunkan tim reaksi cepat bekerjasama dengan Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada (PSBA UGM). Lokasi penerjunan berada di Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

Desa Krembangan
Gambar 2. Foto Condong Kawasan Tergenang Banjir di Desa Krembangan, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, DIY

Hasil kaji cepat ini akan bermanfaat untuk pemetaan kerusakan wilayah akibat banjir. Sementara ini, telah dibuat Peta Multi Bencana Banjir dan Longsor (Gambar 3). Peta ini dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik tingkat bencana yang ada di setiap daerah. Lebih lanjut, dari Peta Multi Bencana Banjir dan Longsor dapat digunakan untuk menentukan prioritas penanganan bencana yang terjadi. Berdasarkan peta tersebut, ditambah dengan kontribusi data dari Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik BIG, diketahui daerah mana saja yang memiliki perpaduan bencana yang lebih komprehensif dan selanjutnya akan dilakukan kajian lebih lanjut bersama PSBA UGM.

Peta Indikatif Multi Bencana Banjir dan Longsor
Gambar 3. Peta Indikatif Multi Bencana Banjir dan Longsor

-MDP-