Kemenristekdikti dan 22 STP Indonesia

Nawacita bukanlah sekadar janji manis kampanye tanpa pemikiran mendalam. Sebagai contoh mari kita ambil satu, yaitu Nawacita ke-6. Secara singkat, Nawacita ke-6 membahas tentang peningkatan produktivitas rakyat dan daya saing Indonesia. Untuk mewujudkannya, Presiden Joko Widodo memusatkan pada 3 hal, yaitu: sumber daya manusia (SDM); sains dan teknologi; dan penerapan geospasial. Ketiganya kemudian dikemas dalam Program 100 Science Techno Park (STP) Indonesia dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ditunjuk sebagai penanggungjawabnya (Kemenristekdikti, 2015). Di bawah Kemenristekdikti, Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi didaulat sebagai pelaksananya.

Kemenristekdikti membagi wujud STP di Indonesia menjadi tiga jenis (Asmara et.al., 2016). Pertama, Techno Park (TP) yang difungsikan sebagai pusat penerapan teknologi di tingkat kabupaten/kota. Kedua, Science Park (SP) merupakan level yang lebih tinggi dari TP karena ada di tingkat provinsi. Ketiga, adalah National Science Techno Park (NSTP). NSTP berperan sebagai pusat pelayanan terkait sains dan teknologi bagi masyarakat yang paling tinggi. Penyesuaian ini dilakukan dengan memperhatikan potensi daerah yang ada dan kemungkinan kerja sama lintas daerah yang memiliki isu sama/global.

 Program 100 STP terdengar begitu hebat namun apakah memang benar ada 100 STP? Mendirikannya memang mudah, tetapi memelihara dan menjalankan STP jauh lebih menantang. “Setidaknya dibutuhkan 28-35 tahun untuk menjadikan STP benar-benar selesai terbangun” kata Patdono Suwignyo selaku Dirjen Kelembagaan Iptek Dikti. Kini, Kemenristekdikti bersama kementerian dan badan lainnya mengurangi target dari 100 menjadi 22 STP sejak tahun 2016 (Asmara et.al., 2016). BPPT menjadi institusi dengan jumlah STP terbanyak (1 NSTP dan 5 TAPI), disusul Kemenperin (5 STP), Kemenristekdikti (4 STP), BATAN (1 NSTP dan 3 TP), LIPI (1 STP dan 1 TP), dan Kementan (1 STP).

Rasanya, tidak perlu malu untuk mengakui adanya pengurangan target dari 100 menjadi 22 STP. Pilihan ini justru menjadi pilihan yang paling bijak mengingat keterbatasan infrastruktur, sumber pendanaan, waktu, dan kebutuhan masing-masing instansi. Perlu diingat bahwa dasar pendirian STP adalah potensi daerah yang ada. Memaksa pembangunan STP tanpa disertai alasan yang rasional justru bukan menjadi pilihan yang tepat. Setidaknya, niat baik pemerintah tetap terjaga. Berdirinya STP adalah untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Dari 22 STP yang tengah berkembang, semakin banyak inovasi yang dilakukan sehingga ketergantungan Indonesia terhadap negara lain dapat dikurangi. Hasil dari 22 STP yang matang adalah Indonesia yang mandiri sains dan teknologi.

Bukankah lebih berharga satu pensil yang runcing ketimbang sepuluh pensil yang tumpul? Inilah keniscayaan. Di bawah komando Kemenristekdikti, 22 STP siap kembali menuliskan tinta emas kebangkitan teknologi nasional Indonesia.

Mega Dharma Putra

Staf Parangtritis Geomaritime Science Park

mega.dharma@mail.ugm.ac.id

Referensi

Asmara, Anugerah Yuka, Dini Oktaviyanti, Purnama Alamsyah, Muhammad Zulhamdani. 2016. Science-Techno Park and Industrial Policy in Indonesia. Diakses di http://www.akes.or.kr/eng/papers(2016)/F29.pdf pada 2 Agustus 2017.

Kemenristekdikti. 2015. Pedoman Pembangunan dan Pengembangan Taman Sains dan Teknologi. Diakses di http://stp.ristekdikti.go.id/donwloads/f5fd2df92e4356f6bb2dd215c9c54a414387feb9/Pedoman%20Pembagunan%20dan%20Pengembangan%20STP%2015%20Nop%202015.compressed.pdf pada 15 Juli 2017.