Keragaman Budaya dan Adaptasi Masyarakat Pesisir Utara Jawa

Saat ini, Parangtritis Geomaritime Science Park tengah menyusun Buku Geoekologi Pesisir Jawa Tengah. Geoekologi Pesisir Jawa Tengah dibagi ke dalam dua bahasan utama, yakni Pesisir Utara Jawa Tengah dan Pesisir Selatan Jawa Tengah. Kondisi geografis dipandang menjadi faktor utama munculnya beberapa keunikan ekologi di sepanjang pesisir Jawa Tengah. Keunikan ekologi masyarakat pesisir terlihat dari keragaman budaya, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, serta keragaman usaha masyarakat.

Keragaman budaya dicerminkan dari akulturasi dalam segi struktur bangunan, kegiatan masyarakat, serta beberapa kebiasan atau adat masyarakat. Salah satu yang menjadi bahasan survei hari pertama di Pesisir Utara Jawa mengenai keragaman budaya dilihat dari struktur bangunan.  Akulturasi kebudayaan yang paling kental adalah berkembangnya situs kebudayaan Cina. Menurut sejarah, Jawa merupakan jalur strategis perdagangan Internasional maupun lokal. Kota-kota di pesisir Utara Jawa, seperti Tuban, Lasem, Rembang, Jepara, Demak, Semarang, Banten, Jakarta merupakan kota yang menjadi tempat singgah para pedagang Cina. Tidak aneh rasanya apabila banyak situs bangunan yang bercirikan arsitektur Cina. Bangunan bercorak Cina bercirikan pada penekanan pada bentuk atap yang khas, penempatan beberapa ornamen-ornamen bangunan yang khas, serta tampak dari penggunaan warna yang khas. Warna dalam kebudayaan Cina melambangkan beberapa hal dalam kehidupan. Penggunaan warna merah melambangkan kebahagiaan (berunsur Yang), biru/ hijau melambangkan pertumbuhan dan perkembangan (berunsur Yang), putih melambangkan kesucian dan kesempurnaan (berunsur Yin), kuning melambangkan keseimbangan (berunsur Yin-Yang), dan hitam melambangkan kemunduran/ kehancuran/ kematian  (berunsur Yin) (Suliyati: 2009).

lasem02Berbicara mengenai kebudayaan, kondisi sosial masyarakat dapat mempengaruhi terjadinya akulturasi kebudayaan. Masyarakat pesisir cenderung memiliki sifat terbuka, sehingga budaya asing akan lebih mudah diterima dan berbaur dengan budaya masyarakat lokal. Bercampurnya kebudayaan asing dengan pendatang akan dapat memunculkan beragam kebudayaan baru di dalam masyarakat. Beberapa kebiasaan maupun ragam pekerjaan

Selain sisi akulturasi kebudayaan masyarakat pendatang dan penduduk lokal adalah adaptasi penduduk pesisir tehadap alamnya. Beberapa bangunan di kawasan pesisir memiliki beberapa ciri khas yang unik diantaranya terdapat bangunan non permanen dengan tembok dari bilik atau papan dengan atap tidak terlalu tinggi. Rumah terkesan menjadi luas, meskipun di dalamnya terdapat beberapa sekat-sekat ruangan. Rumah kayu di kawasan pesisir merupakan salah satu bentuk adaptasi penduduk terhadap lingkungannya. Bangunan kayu dinilai lebih tahan terhadap air garam dibandingkan dengan semen dan batu bata. Semen cenderung mudah mengelupas apabila terkena air garam. Beberapa adaptasi lainnya yang dilakukan penduduk terhadap kondisi alamnya adalah dengan meninggikan bangunan, serta membuat penahan banjir dari pasir yang diletakkan di dalam karung atau batuan sebagai penahan air masuk ke dalam rumah.

Keunikan lain di Pesisir Utara Jawa adalah mengenai keragaman mata pencaharian penduduk. Beberapa mata pencaharian penduduk yang dimaksud adalah sebagai petani, nelayan, serta pembuat kapal. Lahan pertanian di kawasan Pesisir Utara Jawa sebagian besar menggunakan sistem tadah hujan dan sumur bor sebagai pengairannya. Beberapa lahan pertanian tidak menggunakan sumur bor disebakan karena adanya intrusi air laut, sehingga sumber utama pengairan menggunakan air hujan. Kawasan Pantai Utara juga dikenal sebagai kawasan penangkapan ikan. Kondisi laut yang tenang memudahkan penduduk dalam pegusahaan penangkapan ikan. Pantai Utara memiliki beberapa pelabuhan penangkapan ikan. Industri pembuatan kapal juga didapatkan di Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang. Menurut salah satu perajin, kapal dipesan dari beberapa daerah di luar Pulau Jawa, seperti dari Kalimantan dan Sulawesi. Pengerjaan kapal tersebut diperkirakan memakan waktu selama enam bulan.