Kolokium Nasional : Riset dan Kepenulisan untuk Kejayaan Museum

Universitas Negeri Yogyakarta bekerjasama dengan Museum Pendidikan Indonesia, Museum Sonobudoyo, Ikatan Duta Museum Indonesia, dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kolokium dengan tema Diplomasi Budaya oleh Museum dan Karya Seni melalui Riset serta Kepenulisan. Kolokium bertafar nasional tersebut diikuti oleh insan permuseuman, seni, dan budaya se-Indonesia. Narasumber kolokium berasal dari penggiat di bidang kuratorial dan karya seni yang cukup ternama, yaitu James Bennet dari Kurator Seni Asia Art Gallery of South Australia, Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA, Guru Besar Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Christopher A. Woodrich sebagai Pengelola Indonesia Film Poster Achieve.

Gambar 1.  Peserta Kolokium Berfoto Bersama
Gambar 1. Peserta Kolokium Berfoto Bersama

Keynote Speech oleh Kepala Museum Pendidikan Indonesia, Dr. Drs. Hajar Pamadhi, MA. Hons. Satu hal yang ditekankan adalah, “Teknologi jaman dulu masih menyimpan rahasia terkait seni, peradaban, dan budaya. “ Rahasia yang tersimpan dapat terlihat melalui relief yang terdapat di Candi Borobudur. Museum menjadi media yang sangat efektif untuk keperluan penelitian, pengembangan, dan penggalian informasi terdahulu. Museum tak hanya menjadi tempat penyimpanan sampah, namun sarat akan nilai sejarah. Tugas kita bersama nantinya yang dapat mengungkap rahasia yang tersimpan melalui benda-benda sejarah dalam museum.

Dalam Kolokium Internasional, paparan pertama disajikan oleh James Bennet terkait dengan sejarah museum dan peran kurator dalam dunia permuseuman. Perkembangan museum mendapatkan pengaruh dari beberapa negara terutama Yunani. “Sedikit banyaknya beberapa arsitektur peradaban Yunani mempengaruhi arsitektur bangunan museum di dunia, “jelas bapak Bennet di sela diskusi. Selain berbicara tentang sejarah, beliau juga berbicara peran kurator dalam museum. Beberapa museum di Indonesia masih belum banyak yang memiliki kurator museum. Peran kurator yang berada di dalam museum tak hanya merawat benda-benda museum, namun lebih jauh lagi. Peran kurator lainnya adalah bertanggungjawab pengadaan pameran, pembuatan keterangan setiap benda koleksi, penggantian koleksi pameran, memeriksa kondisi benda pameran, memastikan keamanan penyimpanan benda-benda koleksi, menciptakan ketertarikan publik akan koleksi, serta menciptakan suasana nyaman pada saat kunjungan. Kurator di beberapa museum juga berperan terhadap riset lapangan. Kurator untuk beberapa museum juga berperan dalam penggalangan dana untuk pengembangan museum.

Narasumber kedua berasal dari Institut Teknologi Bandung, yakni Prof. Dr. Setiawan Sabana. Materi utama yang disajikan berkaitan dengan permuseuman, kuratorial, dan riset seni. Dewasa ini museum belum mengakar kuat dalam jiwa setiap masyarakat. Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa museum menjadi tempat yang seram sehingga sedikit orang tidak suka datang ke museum. Menurut Dr Setiawan,“Kita harus dapat memasyarakatkan museum dan memuseumkan masyarakat.” Sudah bukan saatnya lagi, museum menunggu masyarakat untuk datang, melainkan saatnya museum yang mendekat ke masyarakat. Penelitian-penelitian yang yang telah dilakukan dalam museum akan mudah disosialisasikan apabila museum telah mendapatkan tempat di hati masyarakat. Kerjasama yang apik antara perguruan tinggi, kolektor, jurnalis, kritikus, kurator, apresiator, dan seniman akan mampu menghasilkan karya seni yang bagus juga.

Narasumber ketiga berasal dari Kanada yakni Christopher A. Woodrich.  Materi yang disampaikan oleh pemateri ketiga berkaitan dengan sejarah perfilman Indonesia yang pernah mengalami pasang surut dalam proses perkembangannya. “Tahun 1977 sebanyak 133 film dihasilkan. Jumlah penonton juga terjadi peningkatan. Tahun 1969 sebanyak 463.000 menjadi 48.200.000 tahun 1979. “Beberapa dokumentasi  film mengalami kerusakan, bahkan hilang sehingga diperlukan upaya restorasi. Upaya penyimpanan data terkait sejarah museum melalui data digital dan non digital. Basis data digital dapat ditelusuri melalui filmindonesia.or.id. Selain berbasis digital, informasi terkait sejarah perfilman Indonesia dapat diketahui melalui museum. Berlokasi di Restoran Ringin Asri, Malang yang dibentuk oleh Hariadi pada tanggal 30 Maret 2017, mulai dibukanya Museum Bioskop Layar Tancap. Pengunjung dapat mengetahui sejarah perfilman Indonesia pada tahun 1970 an dan 1980 an.

Selain pemaparan oleh narasumber, pada sesi selanjutnya adalah berbagi pengalaman terkait kurator oleh tiga museum, yakni Museum Taman Tino Sidin, Museum Taman Mini Indonesia Indah, dan Museum Pendidikan Indonesia. Satu hal yang perlu digaris bawahi dalam pengelolaan museum adalah riset. Suatu museum harus didasarkan oleh adanya riset yang baik dan menyeluruh. Tanpa adanya riset yang mumpuni, maka objek yang ditampilkan di dalam museum menjadi kurang bermakna. Melalui riset pulalah akan didapatkan informasi yang bagus dengan ditunjang penyampaian yang bagus kepada masyarakat luas.

Kolokium Nasional diisi dengan kegiatan workshop kepenulisan label pada benda koleksi Museum. Workshop dipandu langsung oleh James Bannet, yang mana beliau merupakan kurator Asia di Yayasan Art Galery of South Australia. Diawali dengan paparan dari James Bannet, beliau menekankan bahwa penulisan label harus diawali dengan riset. Beliau mencontohkan, untuk penulisan dua kalimat pada label benda koleksi yang ada di Art Galery of South Australia membutuhkan penelitian selama kurang lebih 8 jam. Dalam paparannya, Mr. James Bannet juga memberikan contoh contoh penulisan label untuk setiap benda koleksi seperti patung, mangkok ikan, dan lain-lain.

Worshop kolokium nasional mengajarkan pembuatan label yang seragam namun berisi. Label dalam benda museum diumpamakan tubuh. Pada kepala harus memuat judul benda. Pada badan harus memuat tahun, tempat pembuatan, bahan pembuatan dan cara pembuatan. Jika benda merupakan hibah maka wajib dicantumkan dalam label sebagai penghargaan bagi pemberi benda. Sebagai penghargaan maka bdalam label benda harus dituliskan pemberi benda dan tahun pemberian benda. Peserta workshop selanjutnya diberikan kesempatan untuk langsung mempraktikan pembuatan label untuk benda koleksi museum masing-masing. Peserta juga mempresentasikan hasil pembuatan label supaya dapat dikoreksi. Dalam praktiknya, pembuatan label memang tidak mudah, dikarenakan label harus menarik dan informatif. Beberapa peserta mengalami kesulitan dalam pembuatan judul. Judul label yang baik tidak menyebutkan jenis benda dan atau bahan benda. Judul benda disarankan unik dan mampu membuat orang penasaran. Informasi lain yang termuat dalam label haruslah melalui penelitian terlebih dahulu sehingga valid.

Sesi selanjutnya, Mr. James Bannet memberikan paparan tentang pembuatan label teks atau deskripsi dari benda koleksi yang ditampilkan dalam museum. Dalam paparannya, Mr. James Bannet mencontohkan label teks yang ada di tempat beliau bekerja. Label teks tidak harus panjang, melainkan informatif dan valid. Di Art Galery of South Australia, label teks cukup dua paragraf. Informasi lain yang lebih detail dapat disampaikan oleh pemandu. Dua paragraf label memuat deskripsi benda untuk paragraf pertama dan informasi budaya atau sejarah benda untuk paragraf kedua (insipiratif). Peserta workshop kembali diberikan kesempatan untuk praktik dalam pembuatan label teks. Pembuatan label teks lebih sulit dipandingkan membuat label sebelumnya. Dalamm suatu benda, ada banyak sekali informasi dalam benda tersebut, namun harus disajikan secara sederhana namun mampu mebuat pengunjung paham dan membayangkan benda tersebut. Peserta yang sudah selesai dalam pembuatan label, dipersilahkan untuk mempresentasikan keseluruhan label yang sudah dibuat disertakan foto bendanya. Melalui presentasi hasil pelabelan, peserta mendapat banyak saran-saran dalam pembuatan label.

Workshop kepenulisan dalam kolokium nasional yang diselenggarakan oleh Museum Pendidikan Indoensia sangat memotivasi dan menginspirasi. Melalui workshop gtersebut, peserta tidak hanya mengetahui namun juga mempraktikkan secara langsung pembuatan label sehingga dapat membawa contoh karya yang dapat diaplikasikan pada benda-benda lain di museum masing-masing. Museum Gumuk Pasir, sebagai salah satu museum yang dalam kelembagaannya belum mempunyai kurator juga merasa sangat tertantang untuk memperbaiki pelabelan yang selama ini belum lengkap informasinya pada museum. Pada akhirnya, kolokium nasional ditutup oleh Kepala Museum Pendidikan Indonesia. Dalam sambutan penutupnya, beliau memotivasi insan permuseuman untuk tetap berkarya, meneliti, dan menulis, untuk kejayaan museum masa depan.