Labuhan: Tradisi Upacara Adat yang Masih Terjaga

Siapa yang tidak mengenal Yogyakarta? Kota yang kaya akan tradisi dan adatnya seakan-akan tidak pernah istirahat dari keramaian, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Sebagai kota yang kaya akan budaya tradisional, Yogyakarta memiliki tradisi yang hingga kini masih terjaga yaitu Upacara Adat Labuhan.

Labuhan adalah salah satu upacara adat yang dilakukan oleh Raja-raja di Keraton Yogyakarta. Upacara adat ini bertujuan untuk memohonkan keselamatan Kanjeng Sri Sultan, Kraton Yogyakarta dan rakyat Yogyakarta. Upacara tersebut sarat akan makna magis yang biasanya dihubungkan dengan legenda-legenda tertentu. Sebagai contoh adalah Upacara Labuhan Parangkusumo yang identik dengan legenda Ratu Pantai Selatan dan Panembahan Senopati.

Upacara adat labuhan diadakan dalam empat waktu, yaitu :
1. Satu Hari setelah Jumenengen (penobatan seorang raja).
2. Satu hari setelah Tingalan Jumenengan (peringatan satu tahun penobatan raja) biasanya disebut dengan Labuhan Alit.
3. Dilakukan delapan tahun sekali (Labuhan Ageng).
4. Dilakukan dalam kondisi tertentu (contohnya adalah ketika putra atau putri dari raja akan menikah).

Sedangkan lokasi yang dijadikan tempat untuk diselenggarakannya Upacara Labuhan adalah:
1. Pantai Parangkusumo.
2. Gunung Merapi.
3. Gunung Lawu.
4. Dlepih Kahyangan.

01
photo: Marhose 2015

Dalam prosesinya, banyak perlengkapan yang perlu disiapkan. Diantaranya adalah Apem (gunungan), Panjenengan Dalem yang telah dibungkus kain putih dan dipayungi, kain batik, rambut dan kuku milik Sri Sultan yang dikumpulkan selama satu tahun. Diawali dengan membawa bahan persembahan labuhan ke Kecamatan Kretek yang diterima langsung oleh Bupati Bantul, kemudian dilakukan penyerahan sesembahan labuhan dari Bupati Bantul ke juru kunci Parangkusumo. Sesembahan dibawa berjalan kaki menuju pembusanaan di pendapa LKMD, dilanjutkan prosesi doa oleh juru kunci. Setelah pembacaan doa, maka mulai dilakukan penanaman benda labuhan di areal pantai dan juga pelarungan barang ke laut. Masyarakat Yogyakarta, khususnya daerah pesisir pantai selatan meyakini bahwa dengan upacara labuhan akan tercipta ketenteraman, kesejahteraan dan keselamatan. Semoga tradisi dan adat istiadat yang mencerminkan pribadi masyarakat ini dapat tetap terjaga kelestarianya.