Ladang Oksigen Dari Timur Madura

Perkembangan industri yang pesat di perkotaan menyebabkan meningkatnya aktivitas manusia yang diikuti dengan perkembangan transportasi yang merupakan sarana utama aktivitas di perkotaan. Perkembangan fasilitas-fasilitas lainnya seperti hotel, pasar, sekolah, rumah sakit, tempat hiburan, pabrik serta sarana umum lainnya juga ikut meningkat. Peningkatan pengguna transportasi dan fasilitas lain ini memunculkan limbah yang dapat menyebabkan polusi udara (Gambar 1). Udara yang tercemar dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Salah satu alternatif untuk mengatasi gangguan kesehatan akibat polusi udara adalah dengan terapi oksigen. Terapi oksigen dapat dilakukan dengan cara memasukkan oksigen tambahan ke paru-paru menggunakan alat sesuai kebutuhan (Setiawan, 2014).

Gambar 1. Polusi Udara di Wilayah Kota Sumber: Koran Sindo (2017)
Gambar 1. Polusi Udara di Wilayah Kota
Sumber: Koran Sindo (2017)

Dalam perkembangan saat ini, cukup sulit untuk menemukan tempat dengan kadar oksigen yang baik terutama di perkotaan besar. Kadar oksigen yang menurun di kota-kota besar disebabkan karena kurangnya penghijauan yang berakibat menurunnya tingkat kesehatan. Kurangnya tempat untuk terapi dan relaksasi di kota-kota besar menyebabkan mulai diliriknya lokasi-lokasi wisata di pulau-pulau kecil yang berada di dekat perkotaan. Lokasi wisata yang lebih alami dan indah di pulau-pulau kecil membuat banyak orang tertarik untuk merelaksasikan diri dan melepaskan diri dari rutinitas kehidupan yang sibuk di perkotaan. Sebagai contoh yaitu berkembangnya fasilitas wisata Kepulauan Seribu di Jakarta dan Pulau Karimun Jawa di Jepara.

Pulau Madura memil beberapa potensi wisata yang dapat dikembangkan. Potensi wisata yang saat ini sedang banyak diminati di Pulau Madura yaitu wisata pantai di pulau-pulau kecil. Salah satu pulau kecil yang berpotensi untuk dijadikan tempat wisata khususnya wisata kesehatan yaitu Pulau Gili Iyang. Pulau Gili Iyang (Gambar 2) merupakan salah satu pulau kecil yang berada di timur Pulau Madura. Secara administratif Pulau Gili Iyang termasuk daerah Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Pulau dengan luas sekitar 9 km2 itu terdiri dari dua desa yaitu Desa Banraas dan Desa Bancamara. Kondisi alam di Pulau Gili Iyang masih alami. Masyarakat Pulau Gili Iyang masih sangat menjaga kelestarian potensi sumberdaya alam yang ada.

Gambar 2. Peta Lokasi Pulau Gili Iyang  Sumber: Google Earth (2018)
Gambar 2. Peta Lokasi Pulau Gili Iyang
Sumber: Google Earth (2018)

Pulau Gili Iyang dikenal dengan sebutan Pulau Oksigen. Pulau Gili Iyang dipercaya masyarakat memiliki kadar oksigen (O2) yang tinggi bahkan tertinggi kedua setelah Laut Mati (Sumaryati, 2015). Keyakinan ini didukung oleh fakta bahwa penduduk Gili Iyang banyak yang mencapai usia tinggi dengan kondisi yang sehat dan kuat. Kemudian timbul kepercayaan bahwa masyarakat yang tinggal di Pulau Gili Iyang ini menjadi awet muda sehingga Pulau Gili Iyang ini juga mendapat julukan Pulau Awet Muda. Secara ilmiah, kondisi masyarakat Pulau Gili Iyang tersebut belum bisa dijadikan pembenaran akan pernyataan bahwa Pulau Gili Iyang memiliki kadar oksigen tinggi. Pengukuran yang akurat di lapangan dan analisis yang ilmiah yang bisa dijadikan dasar untuk menyatakan kebenaran akan kondisi oksigen di Pulau Gili Iyang yang diyakini tinggi.

Berdasarkan penelitian terakhir yang dilakukan Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL-PP), menurut Ketua Tim sekaligus Kepala BBTKL PP, Zainal Ilyas Nampira, hasil kajian sementara, kondisi oksigen (O2) mencapai 20,9 hingga 21,5 persen atau berada di ambang normal yaitu 20 persen (BBTKLPP Surabaya, 2013). Kondisi kadar karbon dioksida (CO2) di Pulau ini juga baik, berkisar antara 302‒313 ppm, masih di bawah batas normal yang diperbolehkan di udara sebesar 387 ppm (BBTKLPP Surabaya, 2013). Sementara tingkat kebisingan udara 36,5‒37,8 dBA, di bawah baku mutu kebisingan wilayah permukiman yaitu 55 dbA (BBTKLPP Surabaya, 2013). Kondisi udara yang bersih dan tingginya kadar oksigen ini serta wisata alam (Gambar 3) yang terdapat di sana yang melatarbelakangi Pemerintah Kabupaten Sumenep berencana menjadikan Pulau Gili Iyang sebagai wisata kesehatan.

Gambar 3. Wisata Alam Tebing Betoh Cangge Sumber: Info Madura (2015)
Gambar 3. Wisata Alam Tebing Betoh Cangge
Sumber: Info Madura (2015)

Mengingat potensi pulau Gili Iyang dan fakta minimnya kadar oksigen di perkotaan yang menimbulkan banyak gangguan kesehatan, maka perlu adanya fasilitas wisata kesehatan di Pulau Gili Iyang. Fasilitas wisata kesehatan ini dimaksudkan untuk menjadi lokasi wisata yang sekaligus dapat menyehatkan dari segi fisik maupun pikiran. Selain itu fasilitas ini dibangun untuk mengakomodasi Rencana Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk membuat Pulau Gili Iyang sebagai ikon wisata kesehatan.  Potensi kadar oksigen yang tinggi memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Peningkatan jumlah penduduk di Gili Iyang mengalami peningkatan hingga mencapai angka 7.933 orang pada tahun 2015 (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep, 2016). Maka tidak perlu diragukan lagi jika Pulau Gili Iyang dijadikan sebagai salah satu tujuan destinasi wisata yang diunggulkan.

Referensi:

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya. Laporan Kajian Kualitas Lingkungan dan Faktor Risiko Kesehatan di Kawasan Wisata Gili Iyang Kabupaten Sumenep Tanggal 1-3 Mei 2013. Surabaya: Author, 2013.

Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep. 2016. Laporan Jumlah Wisatawan Kabupaten Sumenep dan Pulau Gili Iyang Periode 2010‒2015. Sumenep: Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Info Madura. 2015. http://www.pulaumadura.com/2015/12/obyek-wisata-betoh-cangge-pulau-gili-iyang.html. Diakses tanggal 10 Januari 2017.

Koran Sindo. Sabtu, 26 Agustus 2017. Polusi Udara di Jakarta Mengkhawatirkan.

Setiawan, Yulianita dan Eunike Kristi Julistiono, S.T., M.Des.Sc. 2014. Fasilitas Wisata Kesehatan di Pulau Gili Iyang, Madura. JURNAL eDIMENSI ARSITEKTUR. II (1): 174-181.

Sumaryati. 2015. Kajian Potensi Wisata Kesehatan Oksigen Di Gili Iyang. Berita Dirgantara. XVI (2): 83‒90.