Laut Bukan Tempat Sampah Umum

Indonesia merupakan penyumbang sampah di laut terbesar kedua sebesar 3,2 juta ton setelah China (Jambeck et.al., 2015). Sampah yang ada di laut Indonesia bersumber dari aktivitas manusia (Cozar et.al., 2014) dan aliran-aliran sungai yang bermuara ke laut. Jumlah sampah akan semakin meningkat seiring bertambahnya penduduk dan kurang pedulinya manusia terhadap sampah yang dibuang di laut. Sebab pola pikir masyarakat umum mengganggap laut tempat yang cocok untuk membuang sampah, karena kemampuannya yang dapat mengolah sampah (Arifin dan Asia, 2017).

Sampah yang ada di laut memiliki beberapa kategori yaitu sampah plastik, logam, kaca dan kertas (Leite et.al., 2014). Kategori sampah tersebut mampu mencemari pantai, lautan dangkal dan lautan terbuka dengan jumlah yang diperkirakan mencapai sekitar 7.000 dan 35.000 ton (Cozar et.al., 2014). Oleh karena itu, sampah yang ada di laut terutama sampah plastik merupakan sesuatu yang dapat mengancam bumi, baik dalam bentuk makro ataupun mikro(Lima et.al., 2014).

Dampak yang ditimbulkan oleh sampah plastik berbentuk makro di antaranya yaitu terancamnya kehidupan dan kesehatan biota laut.  Oleh karena itu, ketidak nyamanan tersebut sebab habitatnya sekarang mulai dipenuhi sampah plastik berbentuk makro yang lama terurai di alam. Dibuktikan dengan diberitakan di media elektronik bahwa terdapat paus sperma terdampar di Kabupaten Wakatobi. Lebih parahnya lagi, ditemukannya sampah seberat 5,9 kilogram di dalam perut paus sperma tersebut di antaranya adalah botol, penutup gallon, sandal, botol parfum, bungkus mi instan, gelas minuman, tali rafia, karung terpal, kantong kresek dll. (Gambar 1.) (Gunawan, 2018).

 

Sampah Plastik sangat mencemari lingkungan
Gambar 1. Sampah Plastik di dalam Perut Paus Sperma (Gunawan, 2018)

Ancaman sampah plastik yang ada di laut juga akan berdampak pada kesehatan manusia (Cole et.al., 2011) terutama berbentuk mikro. Proses hubungan antara laut dan manusia melalui proses rantai makanan (Fleaming et.al., 2014) menyebabkan manusia bisa terkontaminasi plastik berbentuk mikro. Terjadinya kontaminasi diawali dengan ikan kecil memakan plastik mikro karena kemampuannya yang tidak bisa membedakan plankton dan Plastik mikro. Akibatnya, ikan kecil yang terkontaminasi dimakan ikan besar hingga akhirnya dikonsumsi manusia. Ancaman yang ditimbulkan apabila terkonsumsi manusia maka akan memicu muculnya penyakit salah satunya yaitu kanker (PPLH, 2007).

Dampak negatif yang ditimbulkan plastik sangat serius di lingkungan laut. Masyarakat harus mengolahnya dengan baik tidak menjadi masalah yang serius di laut. salah satu caranya yaitu masyarakat harus bisa menerapkan konsep 3R yaitu reuse (guna ulang), reduce (mengurangi) dan recycle (mendaur ulang) (Arifin dan Asia, 2017). Konsep 3R merupakan konsep yang ampuh untuk mengurangi sampah di laut terutama sampah plastik.

Konsep reuse yaitu menggunakan sesuatu secara berulang-ulang, seperti botol tumbler yang dapat digunakan secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama. Konsep reduce yaitu mengurangi sesuatu yang dapat menimbulkan sampah, seperti membeli makanan diharapkan membawa rantang/ wadah makanan agar dalam membungkus makanan tidak memakai plastik. Konsep recycle merupakan konsep yang paling efektif dalam mengurangi sampah plastik dan juga bernilai ekonomis, seperti beberapa bungkus kopi dapat dijadikan tas dll.

Kehidupan manusia yang tidak bisa lepas dari plastik diharapkan manusia tidak lagi membuangnya di laut, karena laut memiliki sumber daya yang perlu diperhatikan keberlangsungannya. Masyarakat lebih kreatif lagi dalam mengolah plastik agar tidak menjadi masalah yang serius bagi lautan di dunia. Oleh karena itu, jadikan laut adalah sesuatu yang berharga seperti emas yang harus dijaga dan dirawat karena apabila laut tercemar maka berdampak juga pada manusia. Ayo, kita menghadap laut bukan membelakangi laut. Terima kasih.

 

Iqbal Fahmi Abdillah
iqbalabdillah0011@gmail.com

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian
Universitas Trunojoyo Madura


Referensi:  

Arifin, M.Z. dan Asia.2017. Dampak Sampah Plastik bagi Ekosistem Laut. Pojok Ilmiah. XIV (1): 44-48.

Cole, M., P. Lindeque, C. Halsband & Galloway, T.S., 2011. Microplastics as Contaminants in the Marine Environment: A review. Mar. Pollut. Bull. 62:2588–2597.

Cózar, A., F. Echevarría, J.I. González-Gordillo, X. Irigoien, B. Úbeda, S. Hernández-León, Á.T. Palma, S. Navarro, J. García-deLomas, A. Ruiz, M.L. Fernández-de-Puelles & Duarte, C.M., 2014. Plastic Debris in the Open Ocean. PNAS. 1-6 pp.

Fleming, L.E., N. McDonough, M. Austen, L. Mee, M. Moore, P. Hess, M.H. Depledge, M. White, K. Philippart, P. Bradbrook & Smalley, A.,2014. Oceans and Human Health: A Rising Tide of Challenges and Opportunities for Europe. Mar. Environ. Res. 99:16-19.

Gunawan, H. 2018. Bangkai Ikan Paus 9,5 meter Terdampar di Wakatobi. Tribun News. 19 November 2018.

Jambeck,J.R., Geyer,R., Wilcox,C., Sigler,T.R., Perryman,M., Andrady,A., Narayan.R., Law,K.L.2015. Plastic Waste Inputs from Land into The Ocean. Science. 347: 768-771.

Leite, A.S., L.L. Santos, Y. Costa & Hatje, V., 2014. Influence of Proximity to an Urban Center in the Pattern of Contamination by Marine Debris. Marine pollution bulletin. 81:242-247.

Lima, A.R.A., M.F. Costa & Barletta, M., 2014. Distribution Patterns of Microplastics with in the Plankton of a Tropical Estuary. Environ. Res. 132:146-155.

Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup. 2007. Bahaya Bahan Plastik. Move Indonesia: Mojokerto.

 

Referensi Gambar:

https://pixabay.com/id/photos/