Logo Baru Parangtritis Geomaritime Science Park

Bantul, Berita Geospasial BIG – Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis dibangun tahun 2002 oleh Badan Koordinisi Survei dan Pemetaan Nasional yangs ekarang Badan Informasi Geospasial. Laboratorium ini dikelola oleh komitmen dari lembaga pemerintah dan perguruan tinggi yaitu Badan Informasi Geospasial (BIG), Pemerintah Provinsi DIY, Pemerintah Kabupaten Bantul dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Tugas utamanya adalah melakukan riset yang berhubungan dengan segala sesuatu tentang informasi geospasial di bidang kelautan dan kepesisiran. Diantaranya tentang gumuk pasir yang membentang luas di Pesisir Pantai Parangtritis dan merupakan satu fenomena alam yang unik, pemetaan potensi ikan bagi nelayan dan pembuatan basisdata geospasial.

Laboratorium yang terletak di atas lahan pasir seluas 2 ha di Dusun Depok Desa Parangtritis ini, terdiiri dari 6 unit bangunan utama yaitu 1 unit bangunan untuk kantor, 1 unit yang berbentuk piramid untuk ruang pertemuan yang juga dapat digunakan untuk kegiatan penyuluhan, seminar dan diskusi, 1 unit bangunan museum tentang segala jenis pasir pantai dan bebatuan serta karang laut, 1 unit bangunan yang menghubungkan bangunan piramid dengan museum yang dikenal dengan lorong pengetahuan, 1 unit kantin dan 1 unit mess.

Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis (LGPP) dibangun dengan semangat untuk memperkenalkan informasi geospasial terutama dalam bidang kepesisiran dan kelautan kepada semua lapisan masyarakat. LGPP mempunyai visi sebagai center of excellent kajian geospasial pesisir dan laut di Indonesia. Misi LGPP adalah dapat menjadi referensi kajian, pendidikan dan pelatihan serta penelitian geospasial pesisir dan laut, tempat kolaborasi riset geospasial kepesisiran dan kelautan tingkat nasional dan internasional, pusat perkembangan teknologi pemetaan dan sebagai tujuan wisata pendidikan geospasial pesisir serta fungsi sebagai museum gumuk pasir.

Melihat adanya peluang adanya pembangunan berwawasan geospasial kepesisiran dan kelautan sesuai dengan Nawacita menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, LGPP mencoba untuk merevitalisasi dari segala lini menjadi Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP). Masih dalam rangkaian acara peresmian Parangtritis Geomaritime Science Park, LGPP menggelar ajang Perlombaan Branding Logo Parangtritis Geomaritime Science Park. Perlombaan yang telah diadakan dari tanggal 29 Juni hingga 1 Agustus 2015 ini menyisakan 3 orang finalis, dan pada tanggal 10 September 2015 diadakan penjurian final dengan menghadirkan dewan juri Dr. Sumaryono, M.A Dosen ISI Yogyakarta, Prof. Muh Aris Marfai Dosen Universitas Gadjah Mada, dan Dr. Wiwin Ambarwulan Kepala Pusat Penelitian, Promosi, dan Kerja Sama, BIG.

Para finalis yang tersisa pada ajang lomba branding logo ini adalah Agus Istianto (Yogyakarta), Muhammad Taukhid (Yogyakarta), dan Riadika Mastra (Jakarta). Pada malam final lomba branding logo Parangtritis Geomaritime Science Park, para finalis diberikan waktu sekitar 5 menit untuk memberikan paparan dari logo yang telah dibuatnya dan para finalis pun akan diberikan pertanyaan terkait logo buatannya oleh para dewan juri. Masuk pada inti acara, finalis pertama Agus Istianto memberikan paparan akan logonya. Agus menjelaskan bahwa logo PGSP rancangannya disesuaikan dengan visi dan misi PGSP. Agus juga sengaja merancang dengan sederhana agar mudah diingat. Agus menonjolkan local wisdom yang sangat kental dengan nuansa maritim/air sekaligus untuk menunjukkan kepercayaan diri. Namun sangat disayangkan, Agus belum memasukkan unsur “Gumuk Pasir” yang kelak dimaksudkan sebagai icon dari Yogyakarta.

Tidak berbeda dengan Agus, Muhammad Taukhid juga mengusung tema kemaritiman/geomaritime. Para juri berpendapat Muhammad juga belum spesifik mengangkat “Gumuk Pasir” pada rancangan logo. Sedangkan para juri berharap “Gumuk Pasir” dapat digambarkan secara verbal maupun simbolis sebagai icon utama dari PGSP. Lain halnya dengan peserta ketiga, Riadika Mastra, pada tampilan rancangan terbaik dari keenam rancangannya yang dilombakan, Riadika sudah memasukkan unsur bumi mewakili semua ekosistemnya. Riadika menjelaskan bahwa Gumuk Pasir adalah proses akhir dari seluruh gelombang. Para juri berpendapat bahwa rancangan logo karya dari Riadika sudah mendekati mewakili ekosistem di sekitar PGSP. Namun masih diharapkan disesuaikan dengan memasukkan unsur warna hijau untuk merepresentasikan local wisdom.

Setelah semua finalis maju untuk memaparkan logo hasil karyanya, saatnya para dewan juri untuk memutuskan siapakah finalis dengan logo yang terbaik yang akan dinobatkan sebagai pemenangnya. Setelah beberapa saat berunding, akhirnya tiba dewan juri mengumumkan pemenang lomba branding logo Parangtritis Geomaritime Science Park. Adalah Riadika Mastra yang dinobatkan menjadi pemenang pertama pada gelaran Lomba Branding Logo Parangtritis Geomaritime Science Park sekaligus sebagai Pemenang Favorit pilihan penonton yang hadir. Kemudian diikuti oleh Agus Istianto dan Muhammad Taukhid pada pemenang kedua dan ketiga. Para finalis tersebut berhak mendapatkan uang pembinaan dari Badan Informasi Geospasial dengan total 10 juta rupiah.

Pada akhir acara, dewan juri berpesan, Kerucut menggambarkan Gunung Merapi, PGSP membentuk garis imajiner ke Gunung Merapi, yang memuncak di satu tujuan, bahwa semua yang ada di dunia ini mengarah kepada Allah SWT. Para juri juga mengapresiasi semua karya yang setinggi-tingginya namun siapapun yang terpilih, pertanyaan para juri yang mengkritisi rancangan logo harus diakomodasi. Spirit Gumuk Pasir Parangtritis sebagai satu-satunya Gumuk Pasir terbesar di Asia Tenggara pun tidak boleh hilang. Setelah melalui penyesuaian dengan syarat-syarat tersebut melalui komunikasi antara BIG sebagai penyelenggara dengan pemenang lomba logo, maka logo yang terpilih akan menjadi Logo PGSP. (YOS-RW/RB/TR)