Meluruskan Istilah “Hutan Mangrove” Bukan Hutan Bakau

Kawasan pesisir pada umumnya ditumbuhi berbagai tanaman dengan berbagai macam jenisnya, baik yang berupa kayu kayuan, ilalang, atau tetumbuhan menjalar. Perlu menjadi catatan bahwa semua itu adalah “Mangrove”.

DCIM100MEDIADJI_0487.JPG

Mangrove merupakan tumbuhan tropis yang mampu hidup beradaptasi di daerah payau dan mampu mengeluarkan kelebihan kadar garam dalam tanaman hasil penyerapan substrak, akan tetapi mangrove tidak membutuhkan zat garam tersebut. Oleh sebab mangrove hidup di kawasan pasang surut, pada saat akar mangrove menyerap nutrisi, mangrove pun menyerap zat garam namun sistem tumbuhan akan mengeluarkan kelebihan zat garam dalam bentuk butir garam. Apabila memperhatikan tanaman mangrove pada siang hari, akan terlihat bulir putih mengkilap saat terkena sinar matahari. Bulir tersebut merupakan zat garam yang dikeluarkan oleh system tanaman, umumnya dikeluarkan melalui  batang dan daun,

Berdasarkan definisi diatas, maka semua pepohonan baik kayu, ilalang maupun tanaman merambat yang mampu hidup beradaptasi dengan ekosistem pantai maka termasuk Mangrove.

Salah satu jenis mangrove adalah Rhizophora mucronata atau dalam bahasa daerah disebut Bakau, ada yang menyebutnya Bakau-Hitam, Bakau-Gandul, Bakau-Bandul dan bayak lagi sebutan untuk tanaman ini. Jenis Mangrove ini menjadi tanaman yang dominan tumbuh di hutan-hutan Mangrove Indonesia sehingga menjadi lumrah orang menyebut Hutan Mangrove sebagai Hutan Bakau kendati ditumbuhi dengan jenis tanaman lain selain bakau.

Hutan Mangrove memiliki kekhasan, salah satunya Zonasi Mangrove. Umumnya Hutan Mangrove memiliki 3 zona yang masing masing ditumbuhi jenis tanaman tertentu. Mangrove Zona Depan umumnya ditumbuhi tanaman dengan akar tunjang untuk mengokohkan pohon dari terjangan ombak besar, Zona Tengah biasanya ditumbuhi tanaman yang beradaptasi dengan akar nafas untuk mampu hidup di lumpur dan zona belakang umumnya ditumbuhi jenis tanaman yang mampu beradaptasi dengan akar papan. Tanaman Bakau merupakan jenis Mangrove yang hidup di zona garis pantai atau zona depan dengan adaptasi akar tunjangnya yang mampu mengokohkan pokok batang agar tidak roboh dihantam ombak.

Kini, masyarakat pesisir perlu merubah kebiasaan menyebut hutan mangrove sebagai hutan bakau, Karena tidak semuanya berjenis Bakau. Bahkan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I, Ngurah Rai Bali menyebutkan, Indonesia tidak punya Hutan Bakau. satu kawasan pesisir dikatakan memiliki Hutan Bakau jika hanya ditumbuhi bakau saja. Faktanya pasti ada tanaman lain yang menyertai. Karena mangrove memiliki karakteristik yang khsas dengan zonasinya, dan tidak setiap tanaman mampu hidup di zona yang berbeda sehingga memerlukan simbiosis mutulisme antar jenis tanaman agar menjadi hutan mangrove yang kokoh terhadap abrasi dan interusi air laut.

F. Ibrahim

Referensi :

Kitamura, Shozo, Chairil Anwar, Amoyos Chaniago dan Shigeyuki Baba. 1997. Handbook of Mangrove in Indonesia. Volume. Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh: Mangrove Information Center Project. Denpasar: Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah 1, Mangrove Information Center Project.