Menanam Mangrove Yang Baik Dan Benar

Mangrove merupakan ekosistem yang tumbuh sepanjang garis pantai tropis dan sub tropis, biasanya pada perairan landai dan berada di sekitar muara sungai (Rahman, 2013). Mangrove berfungsi sebagai tempat pemijahan dan tempat makan bagi berbagai ikan, kerang, dan berbagai jenis kepiting. Mangrove juga sangat penting bagi kualitas air pada ekosistem di sekitar nya seperti ekosistem terumbu karang. Akar mangrove dapat menjadi pelarut nutrien, penahan gelombang, sedimen dan material suspensi yang terangkut dari sungai ke pantai serta melindungi dan mencegah erosi pantai (Rahman, 2013).

Ekosistem mangrove merupakan suatu ekosistem yang rentan akan kerusakan. Menurut Majid et.al (2016) mangrove di Indonesia saat ini dalam keadaan kritis, terdapat kerusakan sekitar 68 % atau 5,9 juta hektar dari laus keseluruhan 8,6 juta hektar.  Hal tersebut cukup mengkhawatirkan, disebabkan ulah manusia seperti mengalihfungsikan lahan mangrove menjadi tambak, permukiman, ataupun tempat wisata secara besar-besaran serta tanpa izin dari pihak yang berwenang. Seperti penebangan mangrove untuk dijadikan wisata kolam pemandian. Kondisi ini memerlukan perubahan sikap dan persepsi untuk memperbaiki ekosistem mangrove Karena pentingnya mangrove untuk ekosistem dan juga biota yang ada di sekitarnya.

Upaya untuk memperbaiki ekosistem mangrove salah satunya dengan restorasi, untuk mengembalikan karakteristik dan fungsi ekosistem ini. Mangrove merupakan tumbuhan yang dapat melakukan penyembuhan sendiri, melalui suksesi sekunder dalam periode 15-30 tahun, dengan syarat pasang-surut air tidak berubah, dan tersedia propagul atau bibit (Setyawan dan Kusumo, 2006). Namun hal itu membutuhkan waktu yang sangat lama, maka perlunya restorasi buatan bantuan manusia untuk mempercepat proses restorasi.

Proses restorasi buatan bisa dengan cara penanaman propagul (bibit) dan juga semai. Namun, semai mempunyai keunggulan lebih dari pada propagul, karena mempunyai ukuran dan juga akar yang lebih kuat dari pada propagul. Akar dan ukuran semai dapat lebih mudah untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan seperti kondisi tanah, salinitas, temperatur, curah hujan dan pasang surut (Hutahaian, Cecep, & Helmy, 1999).

Proses Penanaman mangrove ada beberapa tahapan
Gambar 1. Lokasi Penanaman Mangrove

Proses Penanaman mangrove ada beberapa tahapan, dimulai dengan penyemaian (pembuatan semai) pada wilayah yang dipengaruhi pasang surut, untuk memberikan pasokan air laut bagi pertumbuhan mangrove. Setelah proses penyemaian dilakukan proses kesesuaian lahan untuk menentukan lokasi yang cocok untuk penanaman mangrove (Gambar 1). Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan lubang untuk penanaman (Gambar 2), dengan jarak tanam antar bibit yaitu 1 m. penanaman mangrove dikatakan berhasil apabila mangrove tumbuh subur, yang ditunjukkan daun-daun yang tampak hijau segar dan adanya pertumbuhan pucuk daun baru, dan sebaliknya. Penanaman mangrove dikatakan gagal apabila mangrove yang ditanam mati, ditunjukkan oleh daun dan batang yang mengering, menguning, sebagian layu, dan tidak adanya pertumbuhan pucuk baru (Sari & Dwi, 2014).

Jarak Antar Mangrove Sekitar 1 meter
Gambar 2. Membuat Lubang Mangrove

Setelah melakukan penanaman mangrove, maka dilakukan pemantauan pertumbuhan mangrove. menurut Sari dan Dwi (2014), pemantauan penanaman mangrove, meliputi pengukuran parameter lingkungan mangrove dan penghitungan tingkat kelulusan hidup mangrove. Pemantauan hasil penanaman mangrove untuk mengetahui apakah tumbuhan itu masih hidup, kondisi baik, buruk atau sudah mati. Kegiatan restorasi mangrove, mulai dari penyemaian sampai dengan pemantauan merupakan salah satu upaya untuk menjaga ekosistem mangrove.

Muhammad Fajrul Falah
fajrulmuhammad5@gmail.com

Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Pertanian.
Universitas Trunojoyo Madura


Daftar Pustaka

Hutahaian, E. E., Cecep, K., & Helmy, R. D. (1999). Studi Kemampuan Tumbuh Anakan Mangrove Jenis Rhizophora mucronata, Bruguiera gimnorrhiza dan Avicennia marina pada Berbagai Tingkat Salinitas. Jurnal Manajemen Hutan Tropika , 77-85.

Majid, I., Mimien, H. I., Fachur, R., & Istamar, S. (2016). Konservasi Hutan Mangrove di Pesisir Pantai Kota Ternate Terintegrasi dengan Kurikulum Sekolah. Jurnal BIOEDUKASI , 488-496.

Rahman, S. (2013). Potensi Hutan Mangrove Sebagai Pelindung Pantai Terhadap Serangan Gelombang. Hasil Penelitian Fakultas Teknik (Halm. 1-6). Makassar: Group Teknik Perkapalan .

Sari, S. P., & Dwi, R. (2014). Tingkat Keberhasilan Penanaman Mangrove pada Lahan Pasca Penambangan Timah di Kabupaten Bangka Selatan . Tingkat Keberhasilan Penanaman Mangrove pada Lahan Pasca Penambangan Timah di Kabupaten Bangka Selatan , 71-80.

Setyawan, A. D., & Kusumo, W. (2006). Permasalahan Konservasi Ekosistem Mangrove di Pesisir Kabupaten Rembang, Jawa Tengah . B I O D I V E R S I T A S , 159-163 .