Mengenal Selam dan Dekompresi

Dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional, maka artikel ini mengangkat tema mengenai selam dan dekompresi. Apakah sebelumnya Anda pernah mendengar istilah dekompresi? Dekompresi berhubungan erat dengan kegiatan penyelaman. Nah, selam sendiri merupakan olahraga ekstrem di dunia yang memiliki banyak risiko bagi kesehatan penyelam, salah satunya adalah dekompresi.

Selam merupakan olahraga air yang termasuk dalam kategori olahraga ekstrem di dunia. Berdasarkan metode yang digunakan, selam dibagi menjadi enam dan yang paling dikenal orang yakni free diving dan scuba diving (Suteja, 2017). Free diving biasanya dikenal dengan snorkling, yang mana alat yang digunakan sebatas alat dasar selam (masker, snorkel, dan fin). Namun kadang ada juga orang yang hanya menahan napas dalam melakukan skin diving (Gambar 1).

Penyelaman merupakan olahraga berat
Gambar 1. Kegiatan Penyelaman (Yikki, 2018)

Decompression Sickness (DCS) merupakan kumpulan gejala akibat penurunan tekanan yang terjadi setelah peningkatan tekanan yang lebih besar terlebih dahulu (Duke, Widyastuti, Hadisaputro, & Chasani, 2017). Semakin dalam penyelaman, maka semakin banyak pula nitrogen yang larut dalam jaringan tubuh penyelam. Tingginya kadar nitrogen didalam tubuh tergantung pada kedalaman dan lamanya penyelaman. Maka dari itu, semakin dalam dan lama suatu penyelaman maka semakin tinggi pula kadar nitrogen yang larut dalam tubuh (Hadi, 1991).

Hal ini sesuai dengan Hukum Henry yang berbunyi “Air membutuhkan gas terkondensasi dengan atau, dua, atau lebih tambahan atmosfer. Pada suatu kuantitas biasanya dikompresi akan sebanding dengan dua kali, tiga kali lipat volume yang diserap di bawah tekanan umum atmosfer” (Henry, 1803)

Ada dua tipe dekompresi, yakni dekompresi tipe pertama dan tipe kedua. Dekompresi tipe 1 ditandai dengan bagian sendi yang mendadak terasa nyeri dan berangsur-angsur, kelelahan dan rasa kantuk yang berlebihan (Hadi, 1991). Selain itu juga kepala terasa pusing, terdapat bercak-bercak merah pada kulit yang disertai rasa gatal.

Penyakit dekompresi tipe 2 jauh lebih serius dibandingkan dengan dekompresi tipe 1 (Hadi, 1991). Gejala-gejala dekompresi tipe 2 adalah:

  1. Gejala neuorolgis, Kulit terasa tebal seperti ditusuk jarum yang kadang hilang atau menurun. Kelumpuhan otot anggota gerak hingga terjadi kebutaan.
  2. Gejala paru-paru, Hal ini ditandai dengan rasa nyeri dan berat di dada, sesak napas hingga pucat disertai batuk kering.
  3. Gejala sistem kardiovaskuler (Bends shock), Bends shock merupakan tanda gawat darurat yang perlu ditangani dengan segera dan intensif.

Untuk meminimalisasi risiko terkena dekompresi salah satunya dilakukan dengan cara melakukan penyelaman sesuai prosedur yang sudah ditentukan. Prosedur tersebut antara lain kondisi fisik yang baik, dalam hal ini meliputi sehat jasmani dan rohani. Penyelam disarankan tidak menderita flu berat dan sinusitis, karena kedua penyakit tersebut menyulitkan penyelam untuk melakukan equalizing. Equalizing merupakan langkah ketika kita bergerak semakin kebawah pada suatu kolom air, maka tekanan pada tubuh akan bertambah hingga menyebabkan rasa sakit pada telinga. Untuk mengatasi hal tersebut yakni dilakukan dengan cara menghembuskan napas dengan menutup hidung, dan telinga akan terasa seperti ada yang tertendang keluar

Selain kondisi fisik yang baik, kemampuan berenang yang bagus juga sangat diperlukan dalam kondisi terpaksa saat melakukan penyelaman. Hal yang terpenting adalah mengetahui kemampuan pribadi, karena penyelam tidak boleh memaksakan dirinya untuk diving jika memang tidak mampu.

 

Yikki Yashua Wey Wijaya
yyikki5@gmail.com

Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Kelautan dan Perikanan
Universitas Udayana Bali


Referensi:  

Duke, H. I., Widyastuti, S. R., Hadisaputro, S., & Chasani, S. (2017). Pengaruh Kedalaman Menyelam, Lama Menyelam, Anemia Terhadap Kejadian Penyakit Dekompresi pada Penyelam Tradisional. Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1-18.

Hadi, N. (1991). Tinajuan Tentang Penyelaman. Oseana Volume XVI, 1-12.

Henry, W. (1803). Experiments on the Quantity of Gases Absorbed by Water, at Different Temperatures, and Under Different Pressures. 29-274.

Suteja, Y. (2017, September). Jenis-Jenis Selam. pp. 1-60. (dokumen powerpoint tidak dipublikasikan).