Model 3D: Teknologi Tanggap Bencana Longsor untuk Landasan Kebijakan Pasca Bencana

Bencana alam menjadi akrab dengan bangsa Indonesia mengingat bahwa Indonesia berada di wilayah pertemuan 3 lempeng (Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Autralia, dan Lempeng Pasifik) menjadikan dinamika geologi yang mempengaruhi bentang lahan di Indonesia sangat variatif. Hal ini membentuk Indonesia tersusun dari pegunungan vulkanik dan perbukitan perbukitan kapur serta daerah dataran tinggi hasil pengangkatan. Wilayah Indonesia juga berada di garis katulistiwa yang menyebabkan Indonesia beriklim tropis. Wilayah yang berada di iklim tropis pada posisi 60 Lintang Utara dan 110 Lintang Selatan memiliki curah hujan yang tinggi serta intensitas matahari yang optimal hingga mencapai 12 jam perhari.

Kondisi tersebut akan mempercepat pelapukan batuan di susul dengan curah hujan yang tinggi memicu kerentanan bencana longsor lahan di Indonesia. Bangsa Indonesia perlu sadar diri akan potensi alam sekaligus kerentanan bencana yang dimiliki. Kerentanan dan kejadian bencana longsor perlu disikapi dengan kesigapan seluruh elemen masyarakat. Penginderaan jauh dan sistem informasi geografi memberikan teknologi pemetaan cepat untuk setiap kejadian bencana alam. Salah satunya adalah pemodelan 3 dimensi cepat untuk mendapatkan gambaran umum kejadian bencana longsor.


Data pemodelan diperoleh dari pemotretan udara menggunakan nirrawak dengan resolusi temporal yang sangat tinggi, kapanpun terjadi bencana, dapat dilakukan pemotretan di lokasi bencana untuk mendapatkan data spasial.

Pemotretan udara semacam ini akan menghasilkan paling tidak dua data spasial utama yakni citra udara resolusi tinggi serta DEM (Data Elevation Model). Kedua data ini menjadi data utama untuk membuat pemodelan 3 dimensi untuk kejadian longsor lahan.

Data citra merupakan foto permukaan (surface) yang diambil dari ketinggian tertentu dengan posisi tegak terhadap garis horizontal dan tersimpan dalam tipe file raster. Sedangkan DEM merupakan data topografi tiruan tinggi rendah dari rupabumi yang divisualisasikan dengan teknologi digital. Apabila data citra dan DEM berada dilokasi yang sama dengan sistem koordinat yang sama pula, maka citra yang menggambarkan visualisasi permukaan bumi dapat diangkat untuk memberi kesan tinggi rendah sehingga lebih representative menunjukkan bentuk bentuk lereng dan perbukitan.

Teknologi 3 Dimensi diatas akan sangat berguna untuk mengetahui kronologi kejadian longsor lahan serta dapat mengestimasi volume matrial yang longsor. Hal ini akan sangat membantu dalam proses pasca bencana terutama pendugaan jumlah korban tertimbun dan total materi yang rusak. Lebih lanjut dapat menjadi landasan kebijakan konservasi lahan.

Salah satu hasil pemodelan yang dibuat adalah kejadian longsor Loano, Purworejo, Provinsi Jawa tengah hari Sabtu, 18 Juni 2016. Sedangkan Akuisisi Data Penginderaan jauh dilakukan pada hari selasa 21 Juni 2016 pada ketinggian 255 feet (77,72 meter diatas permukaan) dengan resolusi spasial mencapai 2 cm belum orthorektifikasi.

Data digital dapat diunduh di website Ina-Geoportal

-FI-

.