Pemutihan Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang penting di dunia. Terumbu karang (Gambar 1) merupakan sebagai sumber makanan bagi fauna di lautan. Terumbu karang juga menjadi tempat industri pariwisata. Terdapat berbagai jenis biota-biota yang menjadikan terumbu karang sebagai tempat tinggal. Terumbu karang dapat berguna untuk memecah gelombang dan mencegah erosi pantai. Fungsi lain dari terumbu karang adalah penyedia pasir untuk pantai. Di negara berkembang seperti Indonesia, terumbu karang memegang peranan penting untuk menjaga kelestarian biota-biota laut (Westamacott dkk, 2000).

Sumber : Prastiwi, 2012 Gambar 1. Terumbu Karang
Gambar 1. Terumbu Karang (Prastiwi, 2012)

Ekosistem terumbu karang di Indonesia diperkirakan memiliki luas mencapai 75.000 km2 yaitu sekitar 12% sampai 15% terumbu karang dunia. Tidak mengherankan apabila di laut Indonesia ditemukan 362 spesies Scleractinia (karang batu) (Romimohtarto, 2001). Indonesia merupakan inti dari sebaran karang batu dunia, sehingga Indonesia menjadi tempat tujuan pariwisata terumbu karang (Romimohtarto, 2001).

Di Indonesia masyarakat belum banyak yang mengerti tentang penyakit dari terumbu karang yaitu, pemutihan karang (bleaching) (Gambar 2). Pemutihan karang ini disebabkan oleh lapisan ozon tipis yang memicu kasus tekanan termal (kenaikan suhu). Akibat dari kasus tersebut dapat mengganggu kemampuan zooxanthellae untuk berfotosintesis. Apabila zooxanthellae tidak berfotosintesis, dapat menyebabkan produksi kimiawi berbahaya yang merusak sel-sel mereka hingga berubah warna menjadi putih. Keadaan pemutihan yang terlalu lama (lebih dari 10 minggu) dapat menyebabkan kematian polip karang.

Gambar 2. Pemutihan Terumbu Karang (Anonim, 2016)
Gambar 2. Pemutihan Terumbu Karang (Anonim, 2016)

Pemutihan bukan saja terjadi pada karangnya tetapi terdapat juga pada organisme-organisme bukan pembentuk terumbu karang. Pemutihan ini bisa terjadi di karang lunak (soft coral), anemon, dan beberapa jenis alga yang bersimbiosis dalam jaringan karang. Layaknya karang, biota-biota ini dapat mengalami kematian, apabila kondisi pemutihannya sudah terlalu parah. Penyebab pemutihannya adalah karena tingginya suhu air laut, kadar garam yang tidak normal, intensitas tinggi dari sinar ultraviolet, tingginya tingkat kekeruhan air dan kurangnya cahaya matahari. Dalam satu dekade ini penyebab mayoritas pemutihan karang secara besar-besaran disebabkan oleh peningkatan suhu permukaan lautnya (Santoso, 2006).

            Aktivitas manusia terus membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang. Pembuangan sampah secara sembarangan dan penggunaan lahan yang tidak terencana merupakan salah satu contohnya. Melihat dari ancaman-ancaman ini maka diperlukan sebuah strategi pengelolaan untuk menyelamatkan ekosistem terumbu karang yaitu dengan membuat daerah perlindungan laut, membatasi perikanan di terumbu karang, serta menjaga pengelolaan pesisir terpadu. Selanjutnya melakukan restorasi dan konservasi terumbu karang.

            Selain itu diperlukan juga peran dari masyarakatnya sendiri, yaitu dengan menyadarkan mereka tentang pentingnya ekosistem terumbu karang. Mengajak mereka untuk ikut melestarikan dalam pengelolaan dan pemanfaatan transplantasi karang (Dahuri, 1996). Dengan melakukan hal ini akan berdampak positif terhadap terumbu karang untuk jangka waktu yang panjang (Supriharyono, 2007).

R. Ari Muzari (Ilmu kelautan Universitas Sriwijaya)

arimuzari97@gmail.com

Referensi :

Anonim. 2016. Pemutihan Terumbu Karang Massal Terjadi di Sanur dan Nusa Penida. Diakses di   https://beritabali.com/read/2016/03/25/201603250001/Pemutihan-Terumbu-Karang-Massal-Terjadi-di-Sanur-dan-Nusa-Penida  pada tanggal 23   Juni 2017.

Dahuri R, Rais J, Ginting SP, Sitepu MJ, 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita :        Jakarta.

Prastiwi. 2012. Lapisan Ozon, Penyebab Kerusakan Ozon, Akibat Kerusakan Ozon. Diakses di http://tunasluhurgreenclub.blogspot.co.id  pada tanggal 23 Juni 2017.

Romimohtarto K dan Sri  Juana, 2001. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan, Jakarta.

Santoso AD, 2006. Pemutihan Terumbu Karang. Jurnal Hidrosfir  1(2) ISSN 1704-1043 : 61-66.

Supriharyono, 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.

Westmacott S, Kristian Teleki, Sue Wells dan Jordan West. 2000. Pengelolaan Terumbu Karang yang Telah Memutih dan Rusak Kritis. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK. Vii + 36 pp.