Penggunaan Pancing Ulur Untuk Ikan Tuna

Ikan Tuna merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dengan harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga komoditas ikan lainnya. Ikan Tuna adalah sumber makanan terbaik karena mengandung berbagai sumber vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Salah satu alat tangkap tradisional digunakan untuk menangkap ikan tuna adalah pancing ulur (hand line). Pancing ulur terdiri atas beberapa komponen seperti gulungan tali, tali pancing, mata pancing, dan pemberat. Kelebihan penggunaan pancing ulur adalah metode pengoperasian yang mudah, tidak memerlukan modal besar dan kapal khusus. 

Keberhasilan penangkapan tuna hand line sangat dipengaruhi oleh teknik dalam pengoperasian alat pemancing untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Modifikasi dalam alat tangkap juga dilakukan untuk memperoleh hasil tangkapan yang lebih banyak. Salah satu contoh modifikasi dalam penangkapan tuna hand line yang dilengkapi pemberat tambahan yaitu batu kali. Pemberat tambahan berfungsi untuk mempercepat tenggelamnya pancing dan sebagai wadah umpan hambur yang berisi umpan sayat. Penggunaan umpan berupa sayatan ikan seperti tongkol, cakalang dan tuna kecil yang disayat tipis-tipis kemudian tambahkan ekstrak tinta cumi (cisabu) untuk menarik perhatian tuna. Sayatan ikan ditaruh pada batu dan mata pancing serta kantong minyak cumi yang selanjutnya diturunkan pelan-pelan ke laut pada kedalaman 50-150 m. Ketika sudah mencapai kedalaman yang ditentukan, tali pancing kemudian disentak agar umpan dan kantong minyak terbuka dan berhamburan, sehingga menarik perhatian Ikan Tuna. Proses memberikan hasil tangkapan Ikan Tuna dalam setiap trip bisa mencapai 15 – 20 ekor.

Gambar 1. Deskripsi alat tangkap tuna hine line 

Target tangkapan Ikan Tuna untuk jenis Madidihang (Thunnus albacares) dan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus) yang mempunyai ukuran > 5 kg menggunakan pancing ulur perairan dalam atau deep hand line (dHL). Penarikan dHL yang dilakukan secara manual dapat menimbulkan risiko keselamatan kerja dan kesehatan kerja seperti luka pada kulit tangan, patah tulang dan jatuh ke laut saat menari tali pancing. Meminimalisir resiko keselamatan kerja dilakukan dengan penggunaan alat tambahan berupa pesawat bantu penarik tali dHL berupa mesin penarik tali pancing berukuran kecil (mini line hauler). Alat ini diharapkan dapat meminimalisir resiko kesehatan dan keselamatan nelayan serta penurunan mutu tuna. 

Mini line hauler merupakan alat bantu penarik pancing dHL hasil modifikasi dari teknologi line hauler rawai tuna. Line hauler rawai tuna mempunyai ukuran yang besar dengan berat 200 kg/unit, sedangkan mini line hauler dirancang berukuran lebih kecil yaitu <100 kg/unit dengan konstruksi relatif sederhana. Penggunaan sistem hidrolik pada transmisi tenaga penggerak mini line hauler mempunyai kelebihan yang bersifat handal, efisien dan relatif murah. 

Berbagai modifikasi dari alat pancing ulur dan metode penangkapan untuk Ikan Tuna memberikan hasil tangkapan yang lebih maksimal. Jenis Ikan Tuna yang dapat mencapai berat hingga 100 kg memerlukan teknik dan metode penangkapan yang harus sesuai dengan tetap mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan kerja. Berbagai resiko kerja sebagai nelayan harus dihadapi seperti kondisi cuaca dan karakteristik ombak lautan memerlukan fisik yang kuat. Perkembangan teknologi dan metode penangkapan Ikan Tuna dapat membantu nelayan dalam efektivitas penangkapan ikan di Laut.

Referensi

Karyanto, Emil Reppie dan Johnny Budiman. 2014. Perbandingan Hasil Tangkapan Tuna Hand Line Dengan Teknik Pengoperasian Yang Berbeda di Laut Maluku. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap. 

Ignatius Tri Hargiyatno, Agustinus Ang Widodo, dan Sandi Wibowo. 2020. Analisis Teknik Mini Line Hauler yang Diuji-coba Pada Kapal Pancing Ulur Tuna Berbasis di Wilayah Penangkapan Ikan Prigi. Pusat Riset Perikanan.

Sumber Gambar 

https://www.freepik.com/free-photo/shoal-fish-underwater_1115927.