Perhatian Lebih, Kurangi Erosi Tanah

Kamis, 05 Desember 2019 merupakan hari yang diperingati sebagai Hari Tanah Sedunia. Tanah merupakan unsur terpenting dari bumi yang diperlukan untuk kehidupan manusia. Penelitian mengenai karakteristik tanah penting dilakukan untuk mengetahui kegiatan rehabilitasi atau konservasi yang akan direncanakan pada lahan tanah tersebut (Setiawan, 2013).

Proses pembentukan tanah dimulai dari pelapukan batuan induk menjadi bahan induk tanah (Sugiharyanto dan Nurul, 2009). Hal tersebut diikuti pencampuran bahan organik dengan bahan mineral di permukaan tanah. Pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas tanah ke bawah, dan berbagai proses lain yang dapat menghasilkan horizon tanah (Sugiharyanto dan Nurul, 2009). Kelembapan dan temperatur yang baik dapat membuat tanah memiliki ruang pori yang cukup sehingga sirkulasi udara di dalam tanah berjalan dengan baik (Karamina et al., 2017).

Kondisi tanah dan hidrologi adalah dua aspek yang saling berkaitan (Wibisono, 2016). Curah hujan yang tinggi dapat menurunkan nilai temperatur tanah dan dapat meningkatkan kelembapan tanah. Akibat dari peristiwa tersebut akan membawa unsur-unsur mikro dalam tanah dari tempat tinggi ke rendah organik (Karamina et al., 2017). Akibat dari kelembapan tanah  juga dapat berpengaruh pada tekstur tanahnya (Karamina et al., 2017). Jenis tekstur tanah meliputi lumpur, lumpur berpasir, pasir, pasir berlumpur, dan lain-lain.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah tanah pasir terluas di dunia (Ma’ruf, 2018). Tanah pasir dicirikan bertekstur pasir, memiliki struktur berbutir, sehingga memiliki kerapatan dan bahan organik yang rendah dan pori-pori lebih besar daripada tanah liat (Ma’ruf, 2018). Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai aspek perlindungan dan pelestarian lahan pasir. Tanah pasir tersebut memiliki ciri bertekstur kasar mudah diolah, gaya menahan air rendah, dan permeabilitas baik (Ma’ruf, 2018).

Penampakan struktur tanah pasir pantai Depok Bantul
Gambar 1. Pasir Pantai Depok (Vitri, 2019)

Sifat tanah pasir yang memiliki kerapatan rendah akan mudah terbawa air dan mengalami perpindahan, hal tersebut dikenal sebagai peristiwa erosi tanah. Erosi mengakibatkan tanah yang memiliki struktur pasir lebih cepat mengalami perpindahan tempat seperti tanah pasir di pantai. Pasir di pantai akan lebih mudah terbawa air karena memiliki tingkat kerapatan rendah. Pasir akan terbawa air laut dan mengalami penggerusan wilayah pantai. Pada saat pasang yang tinggi  pasir yang akan terbawa lebih banyak terangkut oleh air laut dibandingkan dengan pasang terendah.

Pasir pantai yang semakin lama mengalami perubahan perlu dilakukan kegiatan pencegahan. Salah satu kegiatan yang harus dilakukan untuk melindungi pasir pantai agar tidak mengalami erosi yaitu dengan cara menanam tanaman cemara udang. Berdasarkan penelitian Suhardi, Kepala Laboratorium Fisiologi Pohon dan Bioteknologi Kehutanan UGM menunjukkan bahwa tanaman cemara udang sangat efektif untuk pencegahan abrasi, erosi dan peredam tsunami (Yunianto, 2009). Sehingga dapat mengurangi tanah pasir yang hilang pada saat terjadi pasang tertinggi.

Berbagai aspek kegiatan pencegahan harus dilakukan untuk melindungi tanah pasir pantai yang semakin lama mudah mengalami penggerusan. Hal tersebut dapat terjadi karena tidak adanya penanaman media tumbuhan yang dapat menahan tanah pasir agar tidak terbawa air pada saat pasang. Terjadinya erosi tanah atau pengikisan tanah secara terus menerus akan berdampak negatif untuk masyarakat pesisir. Oleh karena itu, mari kita menjaga tanah pasir pantai untuk mencegah terjadinya erosi tanah dengan cara penanaman media tumbuhan seperti cemara udang.

 

Vitri Nur Salechah
vitrichaa@gmail.com

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian
Universitas Trunojoyo Madura


Referensi:  

Karamina, H., H.W. Fikrinda., dan A.T. Murti. (2017). Kompleksitas Pengaruh Temperatur dan Kelembapan Tanah Terhadap nilai pH Tanah di Perkebunan Jambu Biji Varietas Kristal (Psidium guajava I.) Bumiaji, Kota Batu. Jurnal Kultivasi, 430-434.

Ma’ruf, A. (2018).Karakteristik Lahan Pesisir dan Pengelolannya untuk pertanian. Diakses 29 April 2018, dari https://www.researchgate.net/publication/324830583_KARAKTERISTIK_LAHAN_PESISIR_DAN_PENGELOLAANNYA_UNTUK_PERTANIAN.

Setiawan, H. (2013). Status Ekologi Hutan Mangrove pada Berbagai Tingkat Ketebalan. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 104-120.

Sugiharyanto., dan Nurul, K. (2009). Diktat Mata Kuliah Geografi Tanah. Makalah. Diakses Juni 2009, dari http://staffnew.uny.ac.id/upload/132319826/pendidikan/diktat-geografi-tanah.pdf.

Wibisono, I. (2016). Kajian Kelayakan dan Pengembangan Desain Teknis Rehabilitasi Pesisir di Sulawesi Tengah. Bogor: World Agroforestry Centre.

Yunianto, B. (2009). Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Pencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di Pantai Selatan Kulonprogo, Yogyakarta . Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara, 1-16.

 

Referensi Gambar:  

https://pixabay.com/photos/hands-macro-plant-soil-grow-life-1838658/