PGSP Menghadiri Simposium Nasional Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) menghadiri Simposium Nasional Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang diadakan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan bersama WWF. Simposium diadakan dari tanggal 9-10 Mei 2017 di Gedung Mina Bahari IV Kementrian Kelautan dan Perikanan. Simposium nasional diisi oleh keynote speaker dari berbagai instansi dan universitas.

 “Indonesia merupakan area terancam, hasil monitoring 30 lokasi di Indonesia menyatakan bahwa sebagian padang lamun di Indonesia kurang bagus terlebih di Indonesia bagian barat kondisinya parah, sementara terumbu karang di Indonesia hanya 5% yang bagus”, jelas Bapak Udhi Eko Hernawan dari Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI yang saat itu merupakan keynote speaker pertama. Bapak Udhi juga menceritakan tentang status dan ancaman ekosistem pesisir di Indonesia. Beliau juga menyatakan bahwa perlu adanya rehabilitasi untuk ekosistem pesisir Indonesia.

Keynote speaker kedua adalah Bapak Dasril yang merupakan Kepala Dinas Perikanan Kota Pariaman. Kota Pariaman merupakan daerah pesisir. Pengelolaanya dimulai dari pengembangan konservasi tahun 2008, kemudian dilakukan pemberdayaan ekonomi pesisir. Menurut Bapak Dasril, pemberdayaan ekonomi pesisir dilakukan dengan memodifikasi alat tangkap dan melakukan kerjasama dengan TNI AL dan polisi. Pengembangan ekowisata juga dilakukan, khususnya di Pulau Angso. Pengembangan ekowisata sangat sukses, hingga saat ini ada 36.000 pengunjung per tahun.

Keynote speaker ketiga yaitu Kepala Balai Pengawasan dan Konservasi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Wilayah Selatan. Beliau bercerita tentang pengelolaan kegiatan konservasi penyu hijau di Pantai Pangumbahan yang memanfaatkan CSR. CSR perusahaan didapatkan dari promosi adopsi penyu hijau yang menetaskan telur di pantai. Langkah promosi ini dapat menjadi contoh bahwa pada dasarnya mencari dana untuk kegiatan konservasi tidaklah susah, hanya memerlukan inovasi.

Selain menghadirkan keynote speaker, simposium nasional hari pertama juga mengadakan sesi poster dan presentasi dari pemakalah yang sudah terpilih sebelumnya. Sesi poster dan presentasi menyuguhkan tiga topik bahasan yaitu Manfaat Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, topik  yaitu Strategi Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, topik ketiga yaitu Status dan Ancaman Konservasi Perairan dan Pulau-Pulau Kecil. PGSP turut mengambil bagia dalam sesi poster dengan menampilkan 2 judul poster dengan judul; (1) Penilaian Kesesuaian Lahan Pada Kawasan Konservasi Mangrove Baros Muara Sungai Opak Sebagai Pencadangan Taman Pesisir Di Kabupaten Bantul dan (2) Urgensi Data Spasial Resolusi Tinggi Untuk Konservasi Kawasan Kepesisiran (Studi Kasus: Pemotretan Udara Kawasan Pesisir Desa Parangtritis, Kabupaten Bantul, DIY). PGSP juga menampilkan satu judul presentasi pada hari pertama yaitu Aplikasi DPSIR Framework Berbasis Spasial pada Degradasi Lahan di Kawasan Warisan Geologi Gumuk Pasir Pesisir Parangtritis. Sesi poster dan presentasi diisi oleh berbagai NGO seperti WWF, CI, dll yang juga turut menyumbangkan penelitian demi kelestarian ekosistem pesisir Indonesia.

Hari kedua pelaksanaan simposium diawali dengan mengahadirkan keynote speaker  dari Universitas Queensland yaitu Prof. Peter Mumby. Beliau menjelaskan tentang implementasi pengelolaan kawasan konservasi perairan. Satu hal yang beliau tekankan bahwa, kita ini terbiasa mengalokasikan anggaran negara untuk pengkayaan SDM saja, namun anggaran untuk lingkungan dan konservasi sangatlah rendah. Hal ini menjadi bahan instropeksi kita semua dalam mengelola kawasan konservasi perairan Indonesia.

keynote speaker  kedua di tanggal 10 Mei 2017 adalah Dr. Ir. Toni Ruchimat, M. Sc. Beliau menjelaskan bahwa penelitian sangat penting untuk mendukung konservasi perairan pesisir dan pulau-pulau kecil untuk perikanan berkelanjutan. Pusat riset perikanan, Kementrian Kelautan dan Perikanan sudah melakukan berbagai penelitian dari tahun-tahun sehingga dapat menghasilkan data yang akurat yang dapat dipakai untuk mendukung keberlanjutan perikanan Indonesia.

Hari kedua juga diisi dengan sesi poster dan presentasi. PGSP turut mempresentasikan hasil penelitian PGSP dengan judul Evaluasi Konservasi Penyu Hijau (Chelonia mydas)  di pantai Goa Cemara Sebagai Entitias Ekosistem Pesisir dengan Analisis CASM. Makalah yang sudah dibuat poster dan presentasi dilombakan untuk tingkat mahasiswa. Sementara, beberapa makalah terbaik akan dimasukan dalam Coastal and Ocean Journal.

Acara penutupan Simposium Nasional Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diisi dengan menghadirkan keynote speaker yaitu Bapak Wawan Ridwan selaku Direktur Program Coastal Triangle WWF-Indonesia dan Bapak Brahmantya Satyamurti Poerwadi, S. T selaku Direktur Jendral Pengelolaan Ruang Laut, Kementrian Kelautan dan Perikanan. kedua pembicara menyajikan topik menarik, ditambah lagi dengan pemutaran video di Pulau Koon. Bapak Wawan Ridwan menegaskan bahwa masih ada harapan untuk menjaga keanekaragamanhayati laut Indonesia, seperti yang ada di Pulau Koon. Sementara Bapak Dirjen Pengelolaan Ruang Laut menegaskan bahwa, “Every single effort , pasti akan menghadirkan manfaat untuk anak cucu kita”. Beliau memberikan semangat untuk tetap mendorong konservasi kawasan perairan Indonesia. Beliau juga menekankan bahwa dalam mengelola harus jelas kawasan dan jenis yang dikelola.

Pada akhirnya, di keterpurukan laut Indonesia ini masih ada harapan untuk tetap maju.