Pohon Mangrove Salah Satu Penyeimbang Alam

Menurut Endang, Oktaviyani, Indriyanto, & Surnayanti, (2017) pohon yaitu tumbuhan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dengan ukuran diameter batang kayu lebih dari 20 cm yang mempunyai struktur pertumbuhan akar, dan daun. Faktor lingkungan sekitar yang mempengaruhi berbedanya ukuran diameter pohon, usia pohon, dan pemanfaatan pohon. Usia pertumbuhan pohon dapat dilihat dari ukuran diameter batang kayu, lapisan dalam batang kayu, dan tinggi pohon. Pertumbuhan pohon yang optimal dapat dilihat dari kecepatan pertumbuhan batang kayu dan tinggi pohon (Marsoem, 2013). Menurut Sudarmadji, (2004) pertumbuhan pohon memiliki ciri tersendiri yang sesuai dengan faktor lingkungan yang mendukung.

Pentingnya menanam pohon untuk kelangsungan kehidupan makhluk hidup
Gambar 1. Menanam Pohon (Abdi, Ichlas, & KFCP, 2008)

Menanam pohon adalah suatu kegiatan menumbuhkan bibit pohon sampai menjadi pohon berkayu yang dapat dimanfaatkan (Gambar 1).  Kegiatan menanam pohon dapat dilakukan pada lahan yang kosong, lahan yang mengalami kerusakan maupun lahan yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Untuk menambah jumlah individu pohon yang baru , menanam bibit pohon dapat dilakukan secara langsung pada lahan. Setelah proses penanaman bibit pohon pada lahan, dilakukannya pemantauan dan merawat bibit pohon hingga tumbuh dengan optimal (Subagyo & Ahmad, 2014). Menanam pohon merupakan kegiatan yang penting di Indonesia, sehingga adanya gagasan selanjutnya yang menetapkan bahwa pada tanggal 28 November diadakannya Hari Menanam Pohon Kembali Indonesia.

Pentingnya menanam pohon bagi makhluk hidup adalah untuk berlangsungnya hidup yang banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari (Endang, Oktaviyani, Indriyanto, & Surnayanti, 2017). Salah satu cara untuk memulihkan lahan kembali yaitu dengan cara menanam pohon yang optimal. Akar, daun, dan batang kayu dalam satu pohon dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan makanan makhluk hidup. Pertumbuhan pohon yang optimal memperoleh bibit pohon yang bermutu tinggi (Sudrajat, Nurhasybi, & Zanzibar, 2011). Pentingnya menanam pohon yang lain adalah sebagai salah satu penyumbang udara yang menyegarkan di bumi, karena pohon dapat menyerap gas karbon dioksida (CO2) dan mengeluarkan gas oksigen (O2).

Penanaman pohon di lingkungan pesisir laut yang dapat dilakukan adalah kegiatan menanam bibit pohon mangrove. Bibit mangrove yang digunakan dalam penanaman adalah bibit  mangrove berjenis Rhizhopora apiculata (propagul) (Aris, 2010). Ciri-ciri dari bentuk propagul adalah bentuk yang panjang, berwarna hijau, dan mempunyai kepala (buah) propagul (Gambar 2). Saat penanaman propagul pada lahan mangrove, kepala (buah) propagul dilepaskan terlebih dahulu kemudian ditancapkan dengan posisi ujung (radikula) yang diatas. Bibit mangrove dapat ditanam pada lahan mangrove bersubstrat lumpur dan mengalami pasang terendah surut tertinggi.

Penjelasan setiap bagian di propagul
Gambar 2. Bentuk Propagul: (1) tangkai (2)  kelopak buah (3) bakal daun (4) buah (5) keeping buah (6) hipokotil (7) radikula (Aris, 2010)

Menurut Kebijakan Peraturan Daerah Kabupaten Bangkalan Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bangkalan Tahun 2009 – 2029 bahwa

dilarangnya ada peralihan fungsi terhadap kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, serta mempertahankan dan mengembangkan fungsi lindung terhadap kawasan tersebut misalnya dengan pembentukan hutan mangrove. Terdapatnya ketentuan larangan dalam  kegiatan yang dapat mengubah dan mengurangi luas dan atau mencemari ekosistem mangrove” (Kebijakan Peraturan Daerah Kabupaten Bangkalan Nomor 10 Tahun 2009).

Dengan kegiatan menanam bibit mangrove dapat menambah jumlah individu baru yang mampu mengembalikan kehidupan mangrove yang baru di sekitar wilayah pesisir. Minimnya sumber daya manusia yang dapat mengelola pohon mangrove dengan baik, sehingga kurangnya nilai ekonomi pada masyarakat pesisir sekitar. Dari satu pohon mangrove yang dapat tumbuh, berkembang biak dan bertambah jumlah individu baru dapat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup pesisir dan laut.

 

Vita Niswatul Kartika
vitakartika30@gmail.com

Program Studi Studi Ilmu Kelautan
Universitas Trunojoyo Madura


Referensi:  

Abdi, M., Ichlas, A. Z., & KFCP, T. R. (2008). Panduan Penanaman Pohon Program Reforestasi. Jakarta: Forest Carbon Patnership.

Aris, P. (2010). Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia. Semarang: KESEMAT.

Endang, S., Oktaviyani, Indriyanto, & Surnayanti. (2017). Identifikasi Jenis Tanaman Hutan Rakyat dan pemeliharaannya di Hutan Rakyat Desa Kelungu Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus . Jurnal Sylva Lestari, 63-77.

Kebijakan Peraturan Daerah Kabupaten Bangkalan Nomor 10 Tahun 2009 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bangkalan Tahun 2009 – 2029

Marsoem, N. S. (2013). Studi Mutu Kayu Jati di Hutan Rakyat Gunung Kidul I. Pengukuran Laju Pertumbuhan . Jurnal Ilmu Kehutanan , 108-122.

Subagyo, & Ahmad, T. A. (2014). Evaluasi Implementasi Program Penanaman di Kecamatan Gunungpati oleh Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial. Indonesian Jurnal of Conservation , 33-40.

Sudarmadji. (2004). Deskripsi Jenis – Jenis Anggota Suku Rhizophoraceae di Hutan Mangrove Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Jurnal BIODIVERSITAS, 66-70.

Sudrajat, J. D., Nurhasybi, & Zanzibar, d. M. (2011). Hubungan Umur Pohon dengan Produksi dan Mutu Benih Acacia mangium Willd., Gmelina arborea Linn., dan Eucalyptus deglupta Blume . Jurnal Penelitian Hutan Tanaman , 267-277.

Referensi Gambar:

https://pixabay.com/photos/wood-bridge-mangrove-forest-wood-4620942/