Refleksi Restorasi Gumuk Pasir Parangtritis

Sejarah berdirinya Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) tidak lepas dari keberadaan gumuk pasir di Parangtritis. Awal berdiri PGSP adalah sebagai laboratorium alam gumuk pasir. Gumuk pasir di Parangtritis merupakan bentanglahan yang unik dan hanya ada di Parangtritis. Pada umumnya, gumuk pasir tipe barkhan hanya terbentuk di iklim arid namun menarik adalah di Parangtritis yang beriklim tropika basah justru terbentuk barkhan.  Gumuk Pasir Parangtritis juga tidak terlepas dari kultur budaya Yogyakarta yang istimewa.

Merefleksikan gerakan restorasi gumuk pasir adalah refleksi panjang menjadikan kawasan gumuk pasir sebagai kawasan konservasi. Secara pribadi hanya saya alami selama satu tahun belakangan ini tetapi ternyata sudah menjadi perjuangan di kalangan akademisi Fakultas Geografi UGM sejak lama. Dan kemudian menjadi lebih menarik bagi saya ketika saya bisa terlibat secara langsung, dengan para akademisi, birokrat dan juga yang kemudian saya sebut sebagai bintang yaitu Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro. Beliau yang membawa kami pada perspektif budaya dalam memperjuangkan kawasan gumuk pasir sebagai kawasan konservasi yang harus segera direstorasi.

Secara sederhana, material pemasok utama gumuk pasir berasal dari Gunungapi Merapi yang kemudian mengalami proses transportasi melalui Sungai Opak dan Progo. Proses selanjutnya material akan terbawa ombak dan mencapai pantai. Material pasir yang mengering akan tertiup angin dan terbawa ke arah darat sehingga mengalami proses deposisi menjadi gumuk pasir.

Gumuk pasir di Parangtritis memegang peran penting bagi kelangsungan kehidupan. Beberapa fungsi ekologis gumuk pasir di antaranya adalah mampu mengurangi risiko bencana yang timbul seandainya terjadi tsunami. Hal ini dikarenakan gumuk pasir berperan sebagai tanggul alam peredam gelombang tsunami dan dapat melindungi kawasan pertanian yang ada di sebelah utara. Gumuk pasir juga berperan sebagai kawasan resapan air (recharge area) yang berasal dari air hujan sehingga menjaga ketersediaan airtanah dan dan bersama dengan lapisan beting gisik di bawah gumuk pasir, secara tidak langsung mencegah intrusi air laut. Secara ekonomis, keberadaan gumuk pasir mampu memberikan pemasukan bagi masyarakat sekitar dari wisatawan yang berkunjung.

Sayangnya, kegiatan manusia saat ini mengancam kemunculan gumuk pasir; seperti penghutanan pantai, pembangunan permukiman, penggunaan lahan untuk kegiatan tambak, dan pengembangan pertanian. Kegiatan manusia tersebut memunculkan penghalang yang akan mengganggu proses deposisi pasir. Gangguan tersebut dicerminkan dari penurunan kecepatan angin bertiup sehingga lambat laun akan mengurangi intensitas pembentukan gumuk pasir.

Tiga makna keberadaan Kagungan Dalem Gumuk Pasir Parangtritis adalah makna Hamemayu Hayuning Bawono, memelihara alam semesta dan mengendalikan hawa nafsu; among tani dagang layar, sinergi pengembangan pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, berada pada sumbu filosofi dan sumbu imajiner sebagai bentuk nyata keistimewaan Yogyakarta.

Gumuk pasir Parangtritis sampai saat ini masih diyakini berada pada Sultan Ground (SG) meskipun keyakinan ini masih ditentang dengan kepemilikan sertifikat hak milik oleh masyarakat, tetapi bukan itu yang akan menjadi catatan refleksi uraian selanjutnya. Gumuk Pasir Parangtritis yang kemudian saya sebut sebagai Kagungan Dalem Gumuk Pasir Parangtritis selain mempunyai makna filosofis juga mempunyai potensi sebagai destinasi wisata.

Top downRefleksi awal restorasi gumuk pasir dimulai pada tanggal 11 September 2015 yang merupakan tonggak awal penetapan Kawasan Kagungan Dalem sebagai kawasan konservasi gumuk pasir barkhan, yang mana pada tanggal bersejarah tersebut Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama dengan Menteri Ristekdikti melakukan penyengkeran di Kagungan Dalem Gumuk Pasir. Perjalanan tidak berhenti ketika tetenger sudah dipasang oleh Ngarsa Dalem. Pekerjaan rumah membawa Kagungan Dalem Gumuk Pasir sebagai kawasan konservasi masih banyak menghadapi pro dan kontra dari masyarakat, stakeholder, pewarta media menjadi peristiwa yang harus dihadapi.

Bersama dengan Forum Keistimewaan untuk Kesejahteraan Daerah Istimewa Yogyakarta, PGSP, dan akademisi Fakultas Geografi UGM, mengusung pendekatan budaya untuk mewujudkan Kagungan Dalem Gumuk Pasir Parangtritis sebagai kawasan konservasi. Sosialisasi budaya kepada masyarakat dilakukan untuk menindaklanjuti penyengkeran dan himbauan untuk menjaga kelestarian kawasan gumuk pasir oleh Ngarsa Dalem. Sosialisasi budaya menjadi pilihan karena diyakini akan membuat masyarakat sadar terhadap kepentingan kelestarian gumuk pasir. “Meneguhkan Makna Garis Imajiner Merapi Parangkusumo dalam Rangka Membangun Masyarakat yang Hamemayu Hayuning Bawono” menjadi modal pendekatan budaya untuk mengikat masyarakat Parangtritis sebagai bagian penjaga kelestarian gumuk pasir.

PGSP dan Fakultas Geografi melanjutkan memasang tetenger di zona inti pada Kawasan Kagungan Dalem Gumuk Pasir untuk memberi tanda kepada masyarakat bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan yang dilindungi dan tidak boleh lagi dimanfaatkan untuk budidaya karena akan dikembalikan fungsinya sebagai gumuk pasir. Penolakan dan perusakan menyertai pemasangan tetenger. Dengan keyakinan niat baik, akhirnya 100 tetenger sudah dipasang di sisi timur dan sisi barat zona inti Kagungan Dalem Gumuk Pasir Parangtritis. Tugas belum selesai, koordinasi dengan stakeholder menjadi tugas kami selanjutnya dan kami optimis bahwa ini akan berhasil dengan baik.

Pendampingan penuh oleh Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro kepada kami sampai saat ini merupakan suntikan semangat yang besar mewujudkan terbentuknya kembali gumuk pasir menjadi ikon landscape yang mendukung keistimewaan Yogyakarta tetap lestari Hamemayu Hayuning Bawono.

TRW&MDP