Sampah Plastik, No! Diet Plastik, Yes!

Sampah merupakan masalah yang sangat sulit terpecahkan sampai saat ini. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke areal sungai yang alirannya akan bermuara ke laut menyebabkan lingkungan perairan tercemar. Dalam hal ini laut akan berubah fungsi menjadi tempat pembuangan akhir karena menampung aliran air sungai yang berasal dari berbagai daerah yang sudah tercemar sampah. Bukti nyatanya adalah fenomena The Great Pacific Garbage Patch di Samudra Pasifik, yaitu kumpulan sampah yang hampir menyamai luas daratan Indonesia (Kumparan, 2018). Pada umumnya, sampah yang masuk ke laut didominasi oleh sampah plastik.

Sampah plastik yang masuk ke laut lama-kelamaan akan mengalami degradasi dan akan terurai menjadi partikel-partikel kecil yang disebut plastik mikro (Galgani, 2015). Plastik mikro yaitu partikel plastik yang memiliki diameter berukuran kurang dari 5 mm, dan batas bawah ukuran minimal yaitu 330 μm3 (Storck, 2015). Plastik mikro memiliki beberapa bentuk yaitu fragmen, film, dan fiber. Jenis fiber biasanya berasal dari sampah masyarakat nelayan, seperti pancing dan jaring tangkap (Nor dan Obbard, 2014), sedangkan jenis film berasal dari kantong plastik kemasan (Kingfisher, 2011). Jenis fragmen berasal dari buangan limbah atau sampah dari pertokoan dan warung-warung makanan seperti kantong plastik, kemasan makanan siap saji, dan botol-botol minuman plastik (Dewi et al, 2015).

Sampah Plastik Mikro
Jenis-jenis Plastik Mikro (Brate et al, 2016)

Plastik mikro berasal dari dua sumber yaitu primer dan sekunder (Gregory, 1996). Plastik mikro primer adalah butiran plastik murni yang mencapai wilayah laut akibat kelalaian dalam penanganan, sedangkan plastik mikro sekunder adalah plastik mikro yang berasal dari fragmentasi plastik besar (Gregory, 1996). Sumber primer meliputi kandungan plastik dalam produk-produk pembersih dan kecantikan, pelet untuk pakan hewan, bubuk resin, dan umpan produksi plastik (Gregory, 1996). Sumber sekunder meliputi serat atau potongan hasil pemutusan rantai dari plastik yang lebih besar yang mungkin terjadi sebelum plastik mikro memasuki lingkungan (Gregory, 1996). Potongan fragmentasi ini bisa berasal dari bahan yang memang dirancang untuk terdegradasi di lingkungan, seperti serat sintetis dari pencucian pakaian, atau akibat pelapukan produk plastik (Gregory, 1996).

Meskipun ukuran plastik mikro yang kecil dan susah terlihat oleh mata, namun plastik mikro dapat berpotensi memberikan dampak negatif dan mencemari biota-biota yang ada di perairan. Efek samping dari mikro/nanoplastik dapat terjadi dari kombinasi toksisitas intrinsik plastik, komposisi kimia, dan kemampuan untuk menyerap, berkonsentrasi, dan melepaskan polutan lingkungan (Bouwmeester et al., 2015). Selain itu plastik mikro dapat menjadi patogen yang berpotensi membawa spesies mikroba ke perairan. Biota diberbagai tingkat trofik dikhawatirkan terkontaminasi plastik mikro sehingga organisme tingkat trofik yang lebih rendah dikonsumsi, maka akan berpotensi mempengaruhi kesehatan manusia (Rochman et al., 2015). Plastik mikro dalam tubuh biota dapat merusak saluran pencernaan, mengurangi tingkat pertumbuhan, menghambat produksi enzim, menurunkan kadar hormon steroid, mempengaruhi reproduksi, dan paparan aditifnya bersifat toksik (Wright et al., 2013).

Sampah Plastik yang Terbawa Hingga Lautan
Dampak dari Pencemaran Sampah Plastik

Nah, dengan berbagai dampak buruk yang disebabkan oleh si sampah plastik mikro ini sudah sepantasnya kita lebih peduli akan upaya penanggulangannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memulai dari diri sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik atau biasa disebut “diet plastik”. Diet plastik bisa dilakukan dari hal-hal yang sederhana, yaitu mengganti berbagai produk plastik dengan bahan yang bersifat reusable atau dapat dipakai berulang kali. Seperti tumbler untuk minum, kantung kain untuk wadah perbelanjaan, daun untuk membungkus makanan, sedotan dari bambu dan lain-lain.

Diet sampah plastik memang tidak semudah yang dibayangkan, namun meskipun tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Terbukti dengan adanya daerah yang sudah menerapkan diet plastik salah satunya Kota Denpasar. Diet plastik dilakukan secara bertahap diawali dengan mewajibkan setiap swalayan supaya tidak menyediakan kantong plastik, sehingga para pembeli akan membawa kantong belanja sendiri. Itu merupakan salah satu langkah besar yang bisa dilakukan untuk mengawali diet plastik. Dan, ke depannya diharapkan banyak langkah-langkah besar untuk mendukung program diet plastik ini. Nah, Kota Denpasar sudah, kalau kamu kapan?

I Gusti Ayu Dita Juniari
ditajuniari@yahoo.co.id

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan
Universitas Udayana Bali


Referensi Tulisan :

Bouwmeester H, Hollman PCH, Peters RJB. 2015. Potential health impact of environmentally released micro- and nanoplastics in the human food production chain: experiences from nanotoxicology. Environmental Science & Technology. Epub date July 01, 2015.

Dewi, SI, Budiyarsa AA, Ritonga IR. 2015. Distribusi plastik mikro pada sedimen di muara badak, Kapupaten Kutai Kartanegara. Artikel Research get. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Fakultas Mulawarman.

Galgani, F. The Mediterranean Sea: From litter to microplastics. (2015) Micro 2015: Book of abstracts.

Gregory, M.R., 1996).Gregory, 1996. M.R. GregoryPlastic ‘Scrubbers’ in Hand Cleansers: a further (and minor) source for Marine Pollution Identified. Marine Pollution Bulletin.

Kingfisher, J. 2011. Micro-plastic debris accumulation on puget sound beaches. Port Townsend Marine Science Center [Internet]. [diunduh 2014 Apr 6]. Tersedia pada:http://www.ptmsc.org/Science/plastic_project/Summit%20 Final%20Draft.pdf. Diakses pada tanggal 8 April 2015 pukul 16.56 WITA.

Nor, M., J.P. Obbard. 2014. Microplastics in Singapore’s coastal mangrove ecosystems. Marine PollutionBulletin., 79(1/2):278–283.

Rochman, C.M.,Tahir,A.,Baxa, D.V.,Williamsm S., Werorilangi, S. And Teh, S.J.2015. Antropogenic debris in seafood: Plastic debris and fiber from textiles in fish and shellfish sold for human comsumprtion. Sci.Report5: DOI: 10.1038/srp 14340.

Storck, F.R. et al. 2015. Microplastics in FreshWater Resources. Global Water Research Coalition

Wright, S.L., Thompson, R.C., Galloway, T.S., 2013. The physical impacts of microplasticson marine organisms: a review. Environ. Pollut. 178, 483–492.

Akhyari Hananto, Jay Fajar. Sampah di Samudera Pasifik Hampir Seluas Daratan Indonesia. https://kumparan.com/official-mongabay-indonesia/kawasan-samudera-pasifik-yang-dipenuhi-sampah-plastik-kini-hampir-seluas-daratan-indonesia diakses pada tanggal 18 Januari 2019.

 

Referensi Gambar :

Brate, .L.N., Eidsvoll, D.P., Steindal, C.C. & Thomas, K.V. 2016. Plastic Ingestion by Atlantic cod (Gadus marbua) from the Norwegian coast. Mar. Poll. Bull., 112 (1-2):105-110

Liboiron, Max. Not All Marine Fish Eat Plastics. Diperoleh 11 Februari 2019, dari https://phys.org/news/2018-07-marine-fish-plastics.html

Jager, Christina. Mekong River Clean-up. Diperoleh 11 Februari 2019, dari https://make-the-planet-great-again.com/mekong-River

Chias, Jordi. Loggerhead turtle (Caretta caretta) trapped in a drifting abandoned net, Mediterranean Sea. Diperoleh 11 Februari 2019, dari https://www.naturepl.com/stock-photo/loggerhead-turtle-(caretta-caretta)-trapped-in-a-drifting-abandoned-net/search/detail-0_01405775.html

Jordan, Chris. Saving the albatross: The war is against plastic and they are casualties on the frontline. Diperoleh 11 Februari 2019, dari https://www.theguardian.com/environment/2018/mar/12/albatross-film-dead-chicks-plastic-saving-birds