Sarasehan Geomaritim Istimewa

Sarasehan Geomaritim Istimewa merupakan salah satu rangkaian dari Festival Gumuk Pasir 2016. Tema Sarasehan Geomaritim Istimewa kali ini adalah “Paradigma Among Tani dagang Layar Sebagai Kunci Transformasi Renaisan Yogyakarta”. Acara yang dimulai pada pukul 09.30 ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat yang terdiri dari praktisi, akademisi dan masyarakat khususnya masyarakat Desa Parangtritis Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro (Budayawan), Dr. Ir. Didik urwadi, M.Ec. (Asisten Keistimewaan Yogyakarta) dan Dr. Suprajaka, M.T. (Badan Informasi Geospasial).

Yosep Priyanto yang berstatus sebagai pegawai di lingkungan Badan Informasi Geospasial dan saat ini sedang mengenyam pendidikan S3 di Universitas Indonesia bertindak sebagai presenter dalam Sarasehan Geomaritim Istimewa. Acara Sarasehan Geomaritim Istimewa dimulai dengan Pembacaan Doa yang disampaikan oleh Farid Ibrahim dan dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh saudara Zandy Yudha. Acara berikutnya dilanjutkan dengan sambutan yang dibawakan oleh Kepala Badan Informasi Geospasial, Dr. Priyadi Kardono, M.Sc. Dalam sambutannya, Dr. Priyadi Kardono mengemukakan pentingnya pembangunan berbasis spasial mengingat betapa luasnya hamparan wilayah Negara Kesatuan Repulik Indonesia. Kepala Badan Informasi Geospasial yang menyelesaikan pendidikan S3-nya di Inggris ini juga mengemukakan bahwa pembangunan dari sektor geomaritime sangat urgent untuk dilakukan karena Indonesia mempunyai potensi laut yang luar biasa. Bukan hanya laut, garis pantai Indonesia yang menenpati urutan ke empat di dunia juga berpotensi untuk dikembangkan ke berbagai sector seperti pariwisata dan perindustrian karena kawasan kepesisiran Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa.

3 - sarasehan
Gambar 1. I Made Andi Arsana ST., M.E., Ph.D. sebagai moderator Sarasehan Geomaritim Istimewa

Acara selanjutnya diambil alih oleh moderator yang dibawakan oleh I Made Andi Arsana ST., M.E, Ph.D. Doktor muda lulusan Australian National Centre for Ocean Resources and Security, University of Wollongong, Australia membuka Sarasehan Geomaritim Istimewa dengan membacakan curriculum vitae para pembicara yang hadir pada acara Sarasehan Geomaritim Istimewa. Lebih lanjut, dosen muda yang pernah mendapat penghargaan Alison Sudradjat Awards, AusAID di tahun 2008 dan UN-Nippon Foundation of Japan Fellowship, UN-Nippon Foundation di tahun 2007 menyampaikan pentingnya menjaga kawasan kelautan Indonesia. Beliau juga menyampaikan beberapa program strategis nasional yang dilaksanakan oleh Mentri Kelautan NKRI, Ibu Susi tentang pengamanan perairan dari pencurian dan penjarahan oleh negara tetangga. Akibat program nasional tersebut Uni Eropa memberi kartu kuning pada Thailand yang selama ini menjadi salah satu pemasok ikan terbesar ke Uni Eropa karena ikan yang didapat salah satunya berasal dari Indonesia. Dosen muda yang saat ini menjabat sebagai Head, Office of International Affairs Universitas Gadjah Mada juga menceritakan sejarah bagaimana perairan Indonesia diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sehingga hingga saat ini Indonesia diakui sebagai negara kepulauan.

Sesi pertama Sarasehan Geomaritim Istimewa disampaikan oleh Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro dengan tema “Paradigma Among Tani Dagang Layar dalam Era Keistimewaan Yogyakarta”. Pada kesempatan ini, Kanjeng Wiro mengemukakan bahwa Jogja telah memasuki babak baru. Hal ini ditandai dengan Titah Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang “menginstruksikan” Pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai halaman depan. Hal ini akan berdampak banyak terhadap arah pembangunan di Yogyakarta. Kawasan selatan yang selamai ini “tertinggal” diharapkan mampu untuk diangkat semaksimal mungkin sehingga pemerataan perekonomian utara-selatan dapat tercapai. Kanjeng Wiro juga menyoroti betapa masyarakat Yogyakarta belum sepenuhnya menghayati sumberdaya pesisir selatan Yogyakarta yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa. Hal ini dibuktikan bahwa tidak lebih dari tiga persen masyarakat Yogyakarta “pernah” melihat daratannya dari sisi laut lepas. Kanjeng Wiro berharap masyarakat dapat mencintai dan mensyukuri anugrah yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta kepada Pesisir Selatan Yogyakarta.

2 - sarasehan
Gambar 2. KPH Wironegoro menjadi salah satu pembicara di acara Sarasehan Geomaritim Istimewa

Sesi dua disampaikan oleh Dr. Ir. Didik Purwadi, M.Ec selaku Asisten Keistimewaan Yogyakarta dengan tema “Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Poros Maritim Dunia”. Menyambung apa yang telah disampaikan oleh Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro di awal, Dr. Ir. Didik Purwadi, M.Ec menyampaikan langkah nyata pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memajukan wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu upaya nyata dalam percepatan pembangunan di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah dengan percepatan pembangunan Jalur Lintas Selatan. Dengan pembangunan jalur lintas selatan, akan banyak kesempatan kerja baru yang terletak di sekitaran kawasan-kawasan Jalur lintas selatan. Beberapa langkah strategis tentang strategi Pemerintah Daerah Yogyakarta juga disampaikan secara mendetail oleh Dr. Ir. Didik Purwadi, M.Ec.

Sesi tiga disampaikan oleh Dr. Suprajaka, MT dengan tema “Paradigma Geomaritim dalam Perspektif Geografi”. Doktor jebolan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada ini menyajikan presentasi yang sangat menarik. Dr. Suprajaka menyinggung permasalah-permasalahan yang ada pada beberapa daerah di Indonesia dengan menyajikan studi kasus. Dasar berfikir yang digunakan dilandasi oleh buku Paradigma Geomaritim yang tahun lalu diterbitkan oleh Pusat Standarisasi Badan Informasi Geospasial yang beliau pimpin.

4 - sarasehan
Gambar 3. Dr. Suprajaka, MT dan Dr. Ir. Didik turut menjadi pembicara di acara Sarasehan Geomaritim Istimewa

Penutupan Sarasehan Geomaritime Istimewa dilakukan oleh Kepala Parangtritis Geomaritime Science Park, Theresia Retno Wulan. Calon Doktor dari Fakultas Geografi yang pernah mengenyam pendidikan master di Negeri Sakura ini menutup Sarasehan Geomaritime Istimewa dengan sebuah kutipan dari buku “Geoekologi Kepesisisran dan Kemaritiman Daerah Istimewa Yogyakarta” yang akan dilauncing di Cibinong, Bogor pada tanggal 17 oktober 2016.

EM

SHARE: