Gumuk Pasir Parangtritis Ternyata (Tidak) Langka

Kata ‘istimewa’ memang sangat  tepat diberikan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia dan memiliki kebudayaan yang khas, apabila ditinjau melalui sudut pandang ilmu geomorfologi, DIY memiliki keistimewaan karena bentuklahan (landform) yang ada di wilayah ini hampir lengkap. Definisi bentuklahan sendiri adalah kenampakan muka bumi yang terbentuk akibat genesis tertentu (Sunarto, 2014). Salah satu bentuklahan yang dimiliki DIY namun jarang dimiliki oleh daerah lainnya di Indonesia adalah bentukan asal aeolian dan yang terkenal adalah gumuk pasir tipe barkhan (barchan). Hal yang menjadi menarik untuk ditelusuri lebih lanjut adalah: “apakah gumuk pasir tipe barkhan di Parangtritis memang benar-benar langka?”.

Sekilas Mengenai Keberadaan Gumuk Pasir Pesisir di Dunia dan Asia Tenggara

Sebelum membahas lebih lanjut tentang keistimewaan dan kelangkaan gumuk pasir tipe barkhan di Parangtritis, sebaiknya perlu diketahui tentang distribusi gumuk pasir pesisir (coastal dunes) yang ada di dunia. Martinez et.al. (2008) menyebutkan bahwa gumuk pasir pesisir terdapat di seluruh garis lintang di dunia mulai dari kutub hingga khatulistiwa, seperti yang ada di Gambar 1.

Gambar 1
Gambar 1

 Terdapat dua jenis gumuk pasir pesisir di seluruh dunia, yaitu gumuk pasir yang telah terbangun dengan baik (well developed dune systems) dan gumuk pasir kecil (small sand dunes) yang umumnya diselingi dengan pantai berpasir, mangrove, rawa air asin, ataupun tanjung berbatu (rocky headlands) (Martinez et.al., 2008). Secara lebih spesifik, penelitian tentang gumuk pasir pesisir di lintang tinggi (wilayah kutub) dibahas oleh Ruz dan Hesp (2014) dan distribusinya dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2
Gambar 2

Distribusi gumuk pasir pesisir di Asia Tenggara setidaknya ditemukan di tiga negara, yaitu Filipina, Vietnam, dan Indonesia (Gambar 3). Ketiga negara ini memiliki gumuk pasir pesisir yang cukup luas dan signifikan dalam proses pembentukannya ketimbang negara lainnya. Gumuk pasir pesisir di Filipina bernama La Paz Sand Dunes dan terletak di Kota Laoag, Provinsi Ilocos Norte (Formantez, 2009) sementara di Vietnam bernama Mui Ne Sand Dune dan terletak di Kota Mui Ne, Provinsi Binh Thuan (Quy et.al., 2001). Indonesia juga memiliki gumuk pasir pesisir yang memanjang di selatan Jawa mulai dari pesisir Provinsi Jawa Barat hingga DIY namun pembentukan yang paling signifikan terdapat di DIY. Hal yang menarik adalah tipe gumuk pasir yang ada di Filipina, Vietnam, dan Indonesia ternyata sama-sama memiliki tipe barkhan. Lalu, apakah barkhan di Parangtritis masih dapat dikatakan sebagai gumuk pasir barkhan yang langka? Atau terdapat perbedaan di masing-masing negara?

Gambar 3
Gambar 3

Gumuk Pasir Barkhan di Parangtritis, Apakah (Masih) Langka?

Untuk mengetahui makna sesungguhnya kelangkaan dari gumuk pasir barkhan di Parangtritis, diperlukan pemahaman lebih lanjut tentang klasifikasi gumuk pasir. Gumuk pasir di dunia terbagi menjadi dua, yaitu desert dunes dan coastal dunes (atau gumuk pasir pesisir saat ini tengah dibahas) (Pye dan Tsoar, 2009). Gumuk pasir pun dapat diklasifikasikan berdasarkan perbedaan iklimnya. Pada iklim basah, umumnya dijumpai gumuk membusut (hummock dunes) dan gumuk parabolik (parabolic dunes) dan pada iklim kering dan setengah kering (arid dan semi-arid) lebih banyak ditemukan gumuk barkhan dan igir barkhanoid melintang (transverse barchanoid ridges) (Sunarto, 2014; Pye dan Tsoar, 2009).

Berdasarkan pembagian gumuk pasir menurut iklim, terdapat satu fakta yang menarik: gumuk pasir di Parangtritis memiliki gumuk pasir tipe barkhan dan Parangtritis memiliki iklim tropika basah. Hal inilah yang menyebabkan gumuk pasir tipe barkhan menjadi langka. Gumuk pasir barkhan tidak seharusnya terbentuk di Parangtritis karena iklimnya tidak sesuai. Seandainya gumuk pasir tipe barkhan terbentuk di Filipina atau Vietnam yang memiliki iklim arid, hal tersebut tidak istimewa karena memang wajar. Hingga tulisan ini selesai dibuat, belum ditemukan bukti/artikel ilmiah mengenai gumuk pasir lainnya yang dapat menyaingi kelangkaan yang ada di gumuk pasir barkhan Parangtritis. Memang beberapa sumber menyebutkan bahwa Meksiko juga memiliki gumuk pasir tipe barkhan namun belum jelas dimana letak kelangkaannya.

Dan ternyata, Gumuk Pasir Barkhan di Parangtritis memang langka!

Mega Dharma Putra

Artikel ini juga dapat dibaca di harian kedaulatan rakyat edisi 20 Juni 2016, halaman 12


Pustaka

Formantes, Ramon B. 2009. Website of Laoag City Government. Physical Characteristic. http://laoagcity.gov.ph/index.php?option=com_content& view=article&id=14&Itemid=53, diakses 23 Juni 2015.

Martinez, M. L., N. P. Psuty, dan R. A. Lubke. 2008. A Perspective on Coastal Dunes dalam M. Luisa Martinez dan Norbert P. Psuty (eds). 2008. Coastal Dunes: Ecology and Conservation. Berlin: Springer.

Putra, Mega Dharma. 2016. Nilai Ekonomi Jasa Ekosistem Kawasan Resapan Air sebagai Penghasil Imbuhan Air Hujan di Gumuk Pasir Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Pye, Kenneth dan Haim Tsoar. 2009. Aeolian Sand and Sand Dunes. Verlag Berlin Heidelberg: Springer.

Quy, Do Van, Kazuyo Hirose, Yuichi Maruyama, Mitsugu Yamashita, Huynh Thi Minh Hang. 2001. Using Satellite Data and Geo-Environmental Research for Environmental Monitoring of Bau Trang Lake, Binh Thuan Province, Vietnam. Dipresentasikan pada 22nd Asian Conference on Remote Sensing, Tanggal 5-9 November 2001, Singapura.                                                                               

Ruz, M. H., P. A. Hesp. 2014. Geomorphology of High-Latitude Coastal Dunes: A Review. https://www.researchgate.net/publication/273891980_Geomorphology_of_high-latitude_coastal_dunes, diakses 16 Juni 2016.

Sunarto. 2014. Geomorfologi dan Konribusinya dalam Pelestarian Pesisir Bergumuk Pasir Aeolian dari Ancaman Bencana Agrogenik dan Urbanogenik. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.