Lamun, Si Tumbuhan Super !

Pasti udah pada tahu kan bahwa pesisir mempunyai banyak kekayaan yang beragam dan unik? Bentuk kekayaan dan keunikan tersebut terletak di wilayah kepesisiran dan terbagi menjadi tiga ekosistem. Ketiga ekosistem yang dimaksud, yaitu ekosistem mangrove, terumbu karang, dan tumbuhan lamun. Dibandingkan dengan ekosistem terumbu karang dan mangrove, ekosistem padang lamun masih kurang dipelajari. Ungkapan tersebut berdasarkan peninjauan melalui GOOGLE CENDEKIA, hasil pencarian yang membahas tentang mangrove sekitar 536.000 dokumen, terumbu karang sekitar 12.300 dokumen, sedangkan lamun sekitar 8.580 dokumen.

Tumbuhan lamun atau biasa disebut seagrass adalah tumbuhan yang hidup dan tumbuh di bawah permukaan laut dangkal (Permana, Amir, & Siti, 2016). Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi lamun di perairan antara lain, cahaya, suhu, salinitas, sedimen, dan nutrien (Dewi, Bekti, & Farida, 2016). Lamun atau seagrass mempunyai bunga, buah, daun dan akar sejati serta tumbuh pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu (Sjafrie et al., 2018). Itulah mengapa lamun dikategorikan ke dalam tumbuhan tingkat tinggi layaknya tumbuhan yang berada di daratan.

Ekosistem lamun yang terletak di wilayah kepesisiran
Gambar 1. Ekosistem padang lamun di perairan laut (Sjafrie et al., 2018)

Ekosistem lamun yang terletak di wilayah kepesisiran memiliki banyak potensi yang sangat bermanfaat bagi manusia dan biota laut. Potensi tersebut mencakup potensi fisik, potensi ekologis, dan potensi farmakologis. Potensi fisik adalah manfaat yang diberikan oleh lamun dalam bentuk perlindungan terhadap alam, seperti menjaga kecerahan perairan dan melindungi bumi dari polusi. Potensi ekologis adalah manfaat adanya lamun yang dapat dirasakan oleh manusia sebagai mata pencaharian dan tempat hidup biota laut. Potensi farmakologis adalah manfaat lamun sebagai bahan obat-obatan.

Potensi fisik tumbuhan lamun ialah sebagai pendaur zat hara dan menstabilkan sedimen agar perairan tidak keruh (Satrya et al., 2012). Ekosistem lamun juga berperan sebagai pelindung pantai dengan cara meredam arus dan gelombang. Dampak positif dengan adanya lamun ialah sebagai penyerap karbon dioksida di perairan untuk proses fotosintesis (Rangkuti et al., 2017).

Potensi ekologis ekosistem lamun antara lain sebagai habitat hidup dan daerah asuhan (nursery ground) bagi berbagai macam biota laut (Rahmawati, 2011). Ekosistem lamun berperan seperti terumbu karang, yaitu untuk habitat ikan sehingga telah lama dimanfaatkan oleh nelayan sebagai area penangkapan ikan (fishing ground) (Tebay & Denny, 2017). Organisme laut seperti penyu hijau, dugong, dan lumba-lumba menjadikan lamun sebagai makanannya (Permana, Amir, & Siti, 2016). Serasah lamun dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair yang dalam penggunaanya akan lebih ramah terhadap lingkungan (Dewi, Bekti, & H, 2016).

Selain memiliki potensi ekologis, tumbuhan lamun juga memiliki potensi farmakologis karena mengandung senyawa bioaktif sebagai mekanisme pertahanan diri (Assuyuti, Alfan, Firdaus, & Reza, 2016). Metabolit sekunder yang dimiliki lamun dijadikan sebagai obat alami oleh masyarakat pesisir (Newmaster et al., 2011 dalam Assuyuti et al., 2016). Lamun atau seagrass dengan nama spesies Thalassia hemprichii diketahui mengandung senyawa bioaktif sebagai antibakteri, antifungi, antiprotozoa, dan sebagai bahan obat untuk penyakit kardiovaskular (Laksmi et al., 2006 dalam Satrya et al., 2012)

Lamun dapat dimanfaatkan bagi manusia maupun biota laut
Gambar 2. Ekosistem Padang Lamun yang dihuni oleh gerombolan ikan (Sjafrie et al., 2018)

Sejak pertengahan tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990, seluas 12.000 km2 padang lamun di seluruh dunia rusak (Rahmawati, 2011). Penurunan luasan ekosistem lamun di Pulau Pari, Jakarta dalam kurun waktu lima tahun seluas 678.300 m2 (Rahmawati, 2011). Penurunan luas padang lamun di Indonesia disebabkan oleh faktor alami dan hasil aktivitas manusia. Faktor alami antara lain gelombang dan arus yang kuat, badai, dan tsunami. Sementara itu, kegiatan manusia yang berkontribusi terhadap penurunan padang lamun adalah reklamasi pantai, pengerukan dan penambangan pasir, serta pencemaran.

Nah sudah pada tahu kan bagaimana pentingnya ekosistem lamun atau seagrass bagi manusia dan biota laut. Sayang sekali apabila seiring berjalannya waktu kerusakan ekosisten lamun semakin hari semakin bertambah. Gerakan nyata dalam upaya melestarikan ekosistem lamun, yaitu melalui penyampaian kepada masyarakat tentang pentingnya lamun dan bagaimana menjaga ekosistem lamun. Menghimbau kepada nelayan untuk tidak menggunakan metode penangkapan ikan yang merusak padang lamun. Ikut serta dalam mendukung pembentukan taman-taman laut yang melindungi habitat lamun serta tidak membuang sampah di pantai (Rahmawati, 2011).

 

Septiarini Krisnawati
terrytiaaa@gmail.com

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian
Universitas Trunojoyo Madura


Referensi: 

Assuyuti, Y. M., Alfan, F. R., Firdaus, R., & Reza, B. Z. (2016). Estimasi jumlah biomassa lamun di Pulau Pramuka, Karya dan Kotok Besar, Kepulauan Seribu, Jakarta. Jurnal Depik, 85-93.

Dewi, N. K., Bekti, K., & Farida, H. (2016). Pemanfaatan Serasah Lamun (Seagrass) sebagai Bahan Baku POC. Proceeding Biology Education Conference, (hal. 649-652). Madiun.

Laksmi, V., A, K. Goel., M, N. Srivastava., D, K. Kulshreshtha., & R, Raghubir. 2006. Bioactivity of marine organism : Part IX – Screening of some marine flora from the Indian coast. Indian Journal of Experimental Biology, 137-141.

Newmaster, A.F., K, J. Berg., S, Ragupathy., M, Palanisamy., K, Sambandan., & S, G. Newmaster. 2011. Local Knowledge and Conservation of Seagrasses in the Tamil Nadu State of India. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine, 7-37.

Permana, A. H., Amir, H., & Siti, A. B. (2016). Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak Lamun Cymodocea sp. Jurnal Teknologi Pertanian, 37-46.

Rahmawati, S. (2011). Ancaman Terhadap Komunitas Padang Lamun. Jurnal Oseana, 49-58.

Rangkuti, A., M, M, R. Cordova., A, Rahmawati., Yulma, & E, H. Adimu. (2017). Ekosistem Pesisir dan Laut Terbuka. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Satrya, C., Muhammad, Y., Muhandis, S., Beginer, S., Dondy, A., & Fitryah, A. (2012). Keragaman Lamun di Teluk Banten, Provinsi Banten. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan, 29-34.

Sjafrie, N. D., Udhi, E. H., Bayu, P., Indarto, H. S., Marindah, Y. I., Rahmat, . . . Suyarso. (2018). Status Padang Lamun Indonesia 2018 Ver.02. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Tebay, S., & Denny, C. M. (2017). Kajian Potensi Lamun dan Pola Interaksi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Lamun (Studi Kasus Kampung Kornasoren dan Yenburwo,Numfor, Papua). Jurnal Penglolaan Perikanan Tropis, 59-69.

 

Referensi Gambar:  

Sjafrie, N. D., Udhi, E. H., Bayu, P., Indarto, H. S., Marindah, Y. I., Rahmat, . . . Suyarso. (2018). Status Padang Lamun Indonesia 2018 Ver.02. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

https://twitter.com/seafoodsavers/status/537192227307397121?lang=ca (Manu Sanfelix/Twitter)

Ekosistem lamun yang terletak di wilayah kepesisiran
Ekosistem padang lamun di perairan laut