Rempah-rempah: Karakter Kuat, Pengaruh Hebat!

Cengkih dan kapur barus adalah dua benda yang mampu menggambarkan betapa hebatnya sejarah maritim nusantara. Untuk urusan daya jelajah, nenek moyang nusantara juga memiliki pencapaian yang luar biasa. Armada maritim nusantara yang ada sejak 5.000 tahun Sebelum Masehi (SM) itu telah menembus Timur Tengah (Arif, 2005). Hal tersebut menjadi prestasi maritim yang sulit ditandingi bangsa manapun kala itu. Lalu, bagaimana cengkih dan kapur barus mampu menjadi bukti sejarah kehebatan maritim nusantara? Mari simak kelanjutan penjelasannya.

Ketika berbicara mengenai sejarah di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), maka salah satu pemicu terjadinya penjajahan di nusantara adalah cengkih (Gambar 1). Terlepas dari itu, aktivitas perdagangan khususnya komoditas rempah-rempah, telah terkenal ke seluruh dunia, dan salah satunya adalah Timur Tengah. Bukti bahwa rempah-rempah sampai di Timur Tengah ditemukan oleh Prof. Giorgio Buccellati, Arkeolog Italia yang melakukan The Joint Expedition to Terqa pada tahun 1978 (Nugroho, 2011). Beliau menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih dan kemudian dikonfirmasi oleh Dr. Kathleen Galvin yang merupakan ahli Paleobotani (Nugroho, 2011). Penemuan rempah-rempah di Timur Tengah adalah sesuatu yang luar biasa mengingat lokasi tumbuh rempah-rempah kala itu hanya ada di sekitar Kepulauan Maluku (Dick-Read, 2008).

Rempah-rempah cengkih
Gambar 1. Cengkih (Pixabay, 20171)

Selain cengkih, bukti hebatnya kekuatan maritim nusantara di masa lampau juga tercermin pada barus (Dryobalanops aromatica). Barus atau yang biasa disebut sebagai kamper (bahasa inggris; champor) digunakan untuk berbagai keperluan (Gambar 2). Pernah mendengar adanya kebudayaan mengawetkan jasad para raja Mesir? Bahan pengawet yang digunakan adalah kapur barus yang bersumber dari nusantara. Catatan tertua oleh Ptolemaeus menerangkan bahwa ada bandar niaga yang bernama Barousai (Barus) yang berada di pesisir barat Pulau Sumatra, tepatnya di antara Sibolga dengan Singkel (Arif, 2005). Barus kemudian menjadi pemasok kapur barus untuk pengawetan jasad sejak zaman kekuasan Fir’aun Raja Ramses II yang berlangsung pada 5.000 SM (Arif, 2005).

Pohon Barus
Gambar 2. Pohon Dryobalanops Aromatica (Pixabay, 20172)

Penyebaran Cengkih dan Kapur Barus

Lalu apakah benar bahwa pelaut pertama yang melintasi luasnya samudra adalah orang Nusantara? Robert Dick-Read, Peneliti asal Inggris menyatakan bahwa memang orang Nusantaralah yang pertama kali mengarungi luasnya samudra. Robert Dick-Read menyatakan bahwa tidak mungkin orang Persia, Arab, dan India yang pada awal abad ke-1 masih berkutat di wilayah pesisir hampir dapat dipastikan belum memiliki teknologi pelayaran yang mutakhir (Reade, 1996). Orang Tiongkok juga dianggap bukan sebagai orang yang melintasi samudra karena baru memulai pelayaran pada abad ke-7 (Reade, 1996).

Ahli genetik dari Oxford University, Stephen Oppenheimer, menyatakan bahwa pelaut yang membawa cengkih dan kapur barus adalah pelaut Austronesia yang berasal dari wilayah Nusantara. Pendapat tersebut juga didukung oleh penelitian Situs Pasemah, Lembah Bada, dan Goa Made. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa penanggalan kronologi secara akurat, Topeng Perunggu di Goa Made telah ada sejak 3.000 SM (Munandar, 2010). Kebudayaan perunggu yang ada di nusantara ternyata lebih tua ketimbang Kebudayaan Perunggu Dong-Son di Vietnam (Munandar, 2010). Analisis yang dihasilkan tersebut juga menyebutkan bahwa nusantara memberikan pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan perunggu di Asia Tenggara (Munandar, 2010). Hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan catatan bahwa nusantara memiliki armada maritim yang tangguh.

Jadi, lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut memang bukan sembarang lagu. Di dalamnya tergambarkan karakter nenek moyang Indonesia yang begitu tangguh sebagai pelaut. Ketangguhannya telah terbukti mengarungi berbagai lautan hingga memberikan dampak yang luas. Romantisme sejarah maritim inilah yang sedang coba dibangun kembali di pemerintahan era kepemimpinan Joko Widodo selaku presiden Indonesia. Semoga kelak jiwa maritim nusantara akan bangkit memenuhi aliran kehidupan orang Indonesia yang berkarakter kuat, berpengaruh hebat!

Mega Dharma Putra
mega.dharma@mail.ugm.ac.id

Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan, Departemen Geografi Lingkungan
Universitas Gadjah Mada


Referensi Tulisan

Arif, Ahmad. (2005, April 1). Akhir Perjalanan Sejarah Barus. Koran Kompas.

Dick-Read, Robert. (2008). Penjelajah Bahari. Penerjemah Edrijani Azwaldi. Banding: Mizan.

Munandar, Agus Aris. (2010). Peninggalan-Peninggalan Arkeologis Tertua di Nusantara. Makalah Panel Diskusi Indonesia Asal Peradaban Dunia. The Executive Club Jakarta, Hotel Sultan Jakarta, 27 Maret 2010.

Nugroho, Irawan Djoko Nugroho. (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti.

Reade, Julian (1996). The Indian Ocean in Antiquity. London: Kegan Paul International in Association with the British Museum.

 

Referensi Gambar
Pixabay. 20171.  Diakses di https://pixabay.com/en/cloves-spice-brown-488178/ pada tanggal 15 April 2017.
Pixabay. 20172. Diakses di https://pixabay.com/en/branch-camphor-evergreen-herbal-2022575/ pada tanggal 15 April 2017.