Diskusi “Seluk Beluk Profesi Kurator” di Museum Sonobudoyo

Gambar 1. Peserta Seminar Berfoto Bersama
Gambar 1. Peserta Seminar Berfoto Bersama

Dewasa ini, pengurus museum belum menjadi profesi impian bagi generasi muda. Museum sendiri bahkan masih dianggap sebagai tempat yang angker dan kuno oleh sebagian masyarakat. Saat ini, museum terus berbenah diri mengikuti perkembangan zaman. Melalui tangan-tangan kreator yang disebut Kurator Museum, ide-ide kreatif terus akan muncul. Menangkap peluang tersebut, Museum Sonobudoyo menyelenggarakan Diskusi Kuratorial dengan tema “Seluk Beluk Profesi Kurator”. Peran seorang kurator menjadi hal yang paling penting di setiap museum. Narasumber yang dihadirkan adalah Greg Sri Wuryanto (dosen Universitas Kristen Duta Wacana) dan Ery Sustiyadi (Kepala Seksi koleksi, Konservasi, dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo). Peserta yang menghadiri acara tersebut adalah para pengurus museum serta komunitas pecinta museum.

Peran kurator sangat penting dalam museum. “Seorang kurator mampu membaca dan mengembangkan konteks sehingga dapat merajut fakta. Menafsir makna, menarasikan artefak, menggagas ide, membangun konstruksi kognisi sehingga dapat mengguncangkan kesadaran,” pesan Bapak Greg dalam presentasinya. Benda-benda seni dapat dijadikan sebagai media menarik untuk dipamerkan. Pengalaman beliau saat menjadi ketua pameran “Pengilon” Museum Sonobudoyo tahun 2017 cukup menarik untuk diperbincangkan. Museum Sonobudoyo memiliki koleksi benda-benda bersejarah yang cukup beragam dan banyak. Tantangan yang dihadapi pada saat itu adalah bagaimana cara mengemas menjadi satu tema yang utuh dan menarik terhadap beragam benda koleksi tersebut. Satu benda museum diharapkan memiliki keterikatan satu dengan yang lain. Terbukti penyelenggaraan pameran cukup sukses menyedot minat masyarakat umum.

Narasumber kedua yakni Bapak Ery juga menceritakan pengalaman dalam menafsir suatu benda koleksi museum. Benda seni yang belum teridentifikasi bukan menjadi penghalang seorang kurator dalam menuangkan ide kreatifnya. Seorang kurator tidak perlu takut salah dalam menarasikan benda bersejarah atau benda koleksi. Apabila nantinya terdapat koreksi, akan mudah untuk diperbaiki. Perbaikan boleh jadi berasal dari pengunjung museum atau mungkin seorang ahli. Terkait dengan pameran, perlu dipikirkan materi yang akan dipamerkan. “Target pengunjung harus disusun terlebih dahulu, baru kemudian media apa yang sesuai untuk diterapkan”, lanjut pak Ery. Seorang kurator museum dituntut mampu menyelenggarakan pameran untuk menambah ketertarikan pengunjung akan museum.

Berbagi pengalaman antar museum dapat menjadi pemicu semangat untuk terus memajukan museum ke arah lebih baik. Penyajian informasi museum secara interaktif dapat menjadi pilihan pengelola museum. Setiap museum memiliki karakter yang berbeda-beda. Penyajian dan pengembangan informasi menjadi pokok kemajuan museum. Semoga kelak museum di Indonesia selalu mendapat tempat bagi para wisatawannya. Majulah permuseum Indonesia. Museum di hatiku.

DWS