Hutan Mangrove sebagai Sarana Mewujudkan Ketahanan Pangan

Pengelolaan ekosistem mangrove yang tepat selalu memberikan jasa ekosistem baik secara tangibel maupun intangibel. Dewasa ini, ekosistem mangrove merupakan eksistem yang  erjasa sebagai penyimpan karbon. Keberadaannya juga menjadi benteng alam dari hempasan gelombang laut sehingga pantai tidak abrasi. Ekosistem mangrove mampu memberikan iklim mikro sehingga menjadi habitat yang nyaman bagi satwa pesisir, biota, dan mangrove itu sendiri. Keanekaragaman jenis yang berlimpah tersebut dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat baik buah mangrovenya, ranting-rantingnya, daunnya, ikan Рikan, kepiting, dan masih banyak lagi.

Ekosistem mangrove di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan merupakan salah satu contoh ekosistem mangrove yang keanekaragaman  hayatinya tinggi. Kurang lebih ada 15 jenis ikan, 6 jenis udang, dan 11 jenis kepiting.1 Jenis mangrove juga berbagai macam seperti Avicennia sp , Sonneratia sp , Rhizophora sp, dan masih banyak jenis mangrove di Indonesia. Kekayaan jenis flora dan fauna dalam ekosistem mangrove bukanlah hanya daftar kekayaan tanpa manfaat. Berbagai jenis ikan yang berhabitat di sekitar ekosistem mangrove adalah sumber pangan bagi masyarakat. Ikan Рikan yang melimpah dapat ditangkap dengan cara yang ramah lingkungan mengandung protein tinggi bila dimakan. Tidak hanya ikan, udang dan kepiting juga merupakan sumber protein yang dapat ditangkap oleh masyarakat. Buah mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Ya, ekosistem mangrove mempunyai sisi lain kebermanfaatan yang dapat mendukung ketahanan pangan masyarakat pesisir.

Ekosistem dalam Hutan Bakau
Kepiting khas Bakau

Keanekaragaman jenis flora dan fauna dalam ekosistem mangrove menjadi sumber pangan lokal bagi masyarakat. Dimulai dari mengkonsumsi ikan, udang, kepiting yang disediakan ekosistem mangrove, kebutuhan protein masyarakat terpenuhi. Selain itu, bunga dari jenis mangrove Bruguiera sp juga dapat dijadikan tepung. Tepung buah mangrove dapat menjadi bahan pembuatan kue, dodol, lapis yang mempunyai kandungan karbohidrat tinggi. Mangrove juga merupakan sumber vitamin. Salah satu jenis yang mempunyai kandungan vitamin C tinggi adalah jenis Sonneratia caseolaris. Jenis yang mempunyai nama lokal bogem atau pidada tersebut dapat diolah menjadi sirup atau selai. Nah, dimulai dari mengkonsumsi hasil hutan non kayu dalam eksositem mangrove, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan gizinya. Semangat mengkonsumsi hasil olahan dari hutan mangrove sebaiknya dapat ditanamkan agar ketahanan pangan di lingkungan kepesisiran dapat terwujud. Pengelolaan hasil hutan mangrove saat ini memang banyak dipasarkan. Namun, masyarakat sekitar pun juga harus mengkonsumsinya sebagai sumber pangan sehari – hari. Dengan demikian, tidak hanya ketahanan pangan yang terwujud namun kepercayaan calon pembeli pada produk mangrove yang dibelinya akan meningkat, sehingga berbagai produk, olahan, dan tangkapan dari ekosstem mangrove terus diminati.

Pemanfaatan jasa ekosistem harus diperhatikan. Keberadaan ekosistem mangrove yang sudah memberikan manfaat harus terus dijaga dengan menerapkan pengelolaan berkelanjutan. Pengelolaan yang berkelanjutan akan memberikan manfaat yang terus menerus bagi masyarakat hingga generasi mendatang. Di Indonesia bagian timur, ada penerapan sasi laut yang dapat menjadi suatu kesempatan bagi ikan – ikan berpijah. Pengelolaan mangrove pun dapat menerapkan hal serupa dengan kearifan lokal daerah masing – masing dan sesuai kesepakatan dan arahan. Pengelolaan yang tidak terlalu ekspoiltatif sangat penting untuk menjaga hutan mangrove tetap lestari dan dapat menjadi alternatif dalam mewujudkan ketahanan pangan di daerah kepesisiran.

 

Bernike Hendrastuti
Pendamping Kunjungan dan Promosi
Parangtritis Geomaritime Science Park
Badan Informasi Geospasial


REFERENSI:

1Anonim. 2020. Kontribusi Mangrove terhadapt Ketahanan Pangan dan Ekonomi Masyarakat di Marusu-Maros Capai 62%. (https://www.menlhk.go.id/site/single_post/2911/kontribusi-mangrove-terhadap-ketahanan-pangan-dan-ekonomi-masyarakat-di-marusu-maros-capai-62) diakses 28 Mei 2020