PGSP Bersama Garduaction Ajak Siswa Minat Sampah

Rabu (22/1/2020), Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) menyelenggarakan Workshop Pengolahan Sampah. Peserta workshop yang digandeng adalah siswa kelas 8 SMP N 2 Kretek. Hal ini selaras dengan misi SMP N 2 Kretek yang sedang merintis sekolah adiwiyata dengan menggiatkan kegiatan bertema lingkungan bagi siswa kelas 8. Kurang lebih 116 siswa dan 10 guru turut berpartisipasi dalam kegiatan workshop tersebut.

Kondisi pesisir yang banyak sampah menjadi salah satu latar belakang diselenggarakan workshop pengolahan sampah di awal tahun 2020. Dengan menyasar siswa SMP sekitar PGSP yang notabene masih dekat dengan pesisir, harapannya menjadi sarana siswa untuk belajar memanfaatkan sampah yang sering ditemukan di pesisir menjadi barang bermanfaat. Mengangkat tema “Menambah Minat Anak pada Sampah menjadi Barang Bermanfaat”, PGSP menggandeng narasumber dari Gardu Action, sebuah komunitas yang peduli dengan marine debrish.

dari sampah menjadi rupiah
Gambar 1. Siswa Belajar Membuat Karya dari Sampah Plastik

Workshop Pengolahan Sampah berlangsung cukup singkat namun penuh manfaat. Acara diawali sambutan Kepala PGSP, Putri Meissarah, yang menegaskah bahwa penduduk yang tinggal di pantai semestinya menyadari masalah sampah adalah tanggungjawab bersama, bukan hanya dinas kebersihan sampah saja. Pun didukung dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah SMP N 2 Kretek, Kustinah turut menanggapi bahwa peserta didik diharapkan dapat mengambil pelajaran dan wawasan dari kegiatan ini sehingga dapat memiliki keterampilan mengelola sampah dengan kreatif. Sebelum belajar mengenai sampah, siswa dikenalkan kondisi kepesisiran melalui kunjungan museum, Museum Gumuk Pasir.

PGSP memberikan cinderamata kepada peserta workshop
Gambar 2. Penyerahan Cinderamata kepada Peserta Workshop Pengolahan Sampah

Workshop diisi oleh narasumber dari Gardu Action yaitu Budi Anto dan Ardha. Banyak hal dijelaskan mengenai sampah, baik dari materi sampai contoh sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling menakjubkan adalah fakta penggunaan sedotan mencapai 6 juta ton per bulan. Sampah-sampah di pesisir bila tidak dikelola dengan baik akan mencemari laut. Selain materi yang disampaikan, siswa juga diajari untuk mengolah atau mendaur ulang sampah menjadi gantungan kunci yang lucu dan unik.

Dengan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, peserta diajari membuat gantungan kunci yang mana hasilnya dilombakan. Dari 12 kelompok dipilih 3 kelompok terbaik dengan kriteria hasil gantungan kunci unik dan rapi. Melalui workshop sederhana, peserta diajarkan juga cara mengolah sampah sehari-hari menjadi barang yang bermanfaat namun minim effort untuk membuatnya.

Sampah menjadi nilai rupah yang menarik
Gambar 3. Foto Bersama Peserta dan Penyelenggara Workshop Pengolahan Sampah

 


Bernike Hendrastuti
Pendamping Kunjungan dan Promosi
Parangtritis Geomaritime Science Park
Badan Informasi Geospasial