Workshop : Sharing Proses Konservasi Koleksi Museum di Museum Sonobudoyo

Museum Gumuk Pasir-Parangtritis Geomaritime Science Park berkesempatan untuk mengikuti kegiatan workshop yang dilaksanakan selama dua hari, yakni pada tanggal 26-27 Maret 2018. Kegiatan workshop bertajuk Sharing Proses Konservasi Koleksi Museum. Tujuan utama dilaksankannya kegiatan workshop adalah untuk berbagi ilmu mengenai penanganan terhadap agen perusak koleksi museum yang telah dilakukan oleh Museum Sonobudoyo. Tidak hanya mendengarkan paparan oleh narasumber, namun peserta juga diajak untuk diskusi, praktek, dan studi kasus terkait dengan agen perusak yang terdapat di Museum Sonobudoyo. Peserta workshop berasal dari para penggiat museum di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hari pertama workshop menghadirkan dua narasumber, yakni Ery Sustiyadi, ST, MA (Kepala seksi koleksi dan konservasi Museum Sonobudoyo) dan Ria Diar Stya Primastiti, S.Si (pengelola museum Benteng Vredeburg). Materi yang disajikan pada sesi pertama mengenai 10 agen perusak beserta 5 strategi penangkalnya. Agen perusak yang dimaksud adalah gaya fisik, kriminal, api, air, hama, polutan, cahaya, temperatur yang tidak sesuai, kelembaban yang tidak sesuai, dan disosiasi. “Tidak hanya agen perusak saja yang dipaparkan, namun terdapat 5 strategi untuk menghadapi agen perusak, yaitu avoid, block, detect, respon, dan recover, “jelas bapak Ery dalam diskusi tersebut. Pemateri kedua menjelaskan terkait dengan Integrated Pest Management (IPM). “Pertimbangan dalam pemilihan metode penangan koleksi terdapat empat, yakni kondisi koleksi, tipe serangga yang menyerang koleksi, biaya yang dibutuhkan untuk penanganan, dan material campuran yang terdapat dalam koleksi”, papar ibu Ria dalam kegiatan workshop.

Suasana Workshop Sharing Proses Konservasi Koleksi Museum
Workshop Sharing Proses Konservasi Koleksi Museum

Hari kedua dalam kegiatan workshop adalah berkunjung ke dalam Storage Museum Sonobudoyo Unit II. Benda koleksi tidak semuanya dipamerkan, namun disimpan dalam beberapa ruangan-ruangan di dalam museum. Beberapa benda koleksi juga dilakukan recovery apabila ditemukan kerusakan di dalamnya. Penempatan benda koleksi tidak boleh sembarangan, namun melalui tahapan-tahapan tertentu sebelum dilakukan penyimpanan. Penempatan benda koleksi juga diminimalisasi dalam kaitannya dengan serangan 10 agen perusak benda koleksi. Kegiatan lain dalam workshop di hari kedua adalah diskusi mengenai agen perusak beserta strategi menghadapinya. Beberapa kelompok ditempatkan di ruangan-ruangan yang berbeda di dalam museum Sonobudoyo. Diskusi yang dilakukan cukup menarik, terlihat dari antusiasme para peserta dalam menunjukkan hasil penelitian dan diskusi bersama kelompok. “AC sebaiknya dinyalakan selama 24 jam untuk menjaga kelembaban benda koleksi, “pendapat salah satu kelompok peserta workshop. Pemanfaatan AC setiap museum menjadi salah satu pilihan untuk menjaga benda koleksi agar terlindung dari ancaman kerusakan. Penempatan AC sebaiknya berada pada ruangan yang tertutup untuk tetap menjaga kelembaban benda koleksi. Bagaimana dengan ruangan galeri yang terdapat di Museum Sonobudoyo? “Pemanfaatan automotic door dengan material kaca juga dapat menjadi pilihan setiap museum pada ruangan ber AC agar tetap tertutup tanpa memberikan kesan museum menjadi tertutup” pendapat berbeda peserta workshop.

Melalui kegiatan workshop tersebut diharapkan dapat memberikan pendidikan dan pelatihan dasar terhadap pengelolaan museum. Benda koleksi diharapkan dapat menjadi aset pendidikan untuk generasi mendatang. Museum mampu menunjukkan jejak sejarah peninggalan masa lampau agar dapat diketahui generasi masa kini. Museum di hatiku. (-DSW & GAP-)