SAND DUNES EXPOSURE: Mengenal Lebih Dekat Gumuk Pasir dan Pengelolaannya

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki 44 museum dengan berbagai latarbelakang dan spesialisasi. Keberagaman museum di DIY merupakan suatu daya tarik sendiri. Setiap museum harus bisa menonjolkan keunikannya agar dapat menarik pengunjung. Salah satu museum yang ada di DIY adalah Museum Gumuk Pasir. Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berhubungan dengan geomaritim, pemetaan, hingga gumuk pasir. Museum ini sendiri berada di bawah pengelolaan Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP). Lewat museum ini, masyarakat dapat mengetahui informasi seputar sejarah, pembentukan, hingga pengelolaan Gumuk Pasir secara mendalam.

Dengan latar belakang tersebut, Duta Museum Gumuk Pasir 2017 mengadakan program yang bertajuk SAND DUNES EXPOSURE: Mengenal Lebih Dekat Gumuk Pasir dan Pengelolaannya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 28 Juli 2017 pukul 14.00 – 17.00 WIB di Museum Gumuk Pasir. Acara ini dihadiri oleh masyarakat umum, Karang Taruna pengelola wisata Gumuk Pasir, serta beberapa komunitas lingkungan seperti Greenpeace Yogyakarta, Youth for Climate Change Yogyakarta, Muda Menginspirasi, Earth Hour Jogja, hingga Kelompok Pengamat Peneliti Pemerhati Ekowisata (KP3 Ekowisata).

Acara dipandu oleh Citra Siagian, selaku Duta Museum Gumuk Pasir. Program ini diawali dengan Museum Tour dimana para peserta tidak hanya mengelilingi namun juga memahami koleksi – koleksi museum. Selanjutnya dilaksanakan kegiatan Science on Screen, yaitu menonton film bertemakan sains, teknologi ataupun lingkungan. Kegiatan Science on Screen akan menjadi acara bulanan dari Museum Gumuk Pasir. Pada kesempatan kali ini, peserta diajak untuk menyaksikan film dokumenter Years of Living Dangerously: End of the Woods dengan latar belakang deforestasi di Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan diskusi seputar pengelolaan wisata di Gumuk Pasir. Pada diskusi ini ada 4 orang pembicara, yaitu Reza dan Bina dari Karang Taruna pengelola Gumuk Pasir, Mega dari PGSP, serta Carala Rosadi dari KP3 Ekowisata. Lewat diskusi ini, peserta memahami awal mula wisata Gumuk Pasir, pembagian manajemen, konsep pengelolaan, implementasi ekowisata, dampak hutan cemara pada kelestarian Gumuk Pasir, hingga membandingkan pengelolaan Gumuk Pasir di Jepang dan di Jogja. Acara ditutup dengan English Class khusus untuk Karang Taruna pengelola wisata Gumuk Pasir. Pada kelas ini, anggota karang taruna belajar bahasa inggris yang biasa digunakan dalam pelayanan wisata melalui permainan-permainan interaktif.

Sanddunes

Harapan diadakannya program ini selain untuk menarik minat masyarakat mengunjungi Museum Gumuk Pasir namun juga untuk meningkatkan kepekaan masyarakat tentang isu-isu lingkungan yang ada di Yogyakarta, khususnya Gumuk Pasir. Pengelolaan Gumuk Pasir tidak akan lestari jika hanya dilakukan oleh pengelola saja tapi memerlukan dukungan dari komunitas lingkungan serta masyarakat Yogyakarta.