Potensi Sektor Kemaritiman Sebagai Penyuplai Energi

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.499 pulau dengan total luas wilayah Indonesia sekitar 7,81 juta km2. Keseluruhan total luas wilayah Indonesia terdiri dari luas daratan sekitar 2,01 juta km2 sedangkan luas lautan sekitar 3,25 juta km2 dan 2,55 juta km2 yang merupakan  Zona Ekonomi Eksklusif. Sehingga potensi energi bahari di Indonesia sangat besar, seperti sektor perikanan, wisata, industri pelayaran dan sumber energi. Secara geografis Indonesia diuntungkan sebagai jalur penghubung antar negara dan benua karena letaknya yang berada di daerah ekuator. Hal ini juga memberikan habitat terbaik bagi ikan laut sehingga potensi yang tinggi untuk sektor perikanan.

Sumber Gambar : Kementerian ESDM

Indonesia mempunyai wilayah laut yang luas sekitar 76,94% dari luas negara berpotensi menjadi sumber energi yang berasal dari dinamika massa air laut. Potensi energi yang dapat dihasilkan dapat bersumber dari adanya energi pasang surut air laut (tidal power), energi gelombang laut (wave energy), dan energi panas laut (ocean thermal energy). Potensi energi bersumber dari pergerakan air laut akibat adanya dorongan pergerakan angin sehingga membentuk gelombang laut. Angin terbentuk akibat adanya  perbedaan tekanan pada dua titik lokasi yang disebabkan adanya respon suhu akibat pemanasan udara oleh matahari. Kondisi ini menjadikan energi gelombang laut dapat dikategorikan sebagai Energi Terbarukan . Energi terbarukan menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan energi fosil yang masih massif penggunaannya dan berpotensi akan habis di masa mendatang. Energi terbarukan merupakan energi bersih yang dapat menggantikan peran energi fosil dan berdampak lebih baik bagi lingkungan karena tidak menghasilkan emisi.

Wilayah pantai di Indonesia mempunyai rata-rata  kecepatan arus pasang surut  sebesar 1,5 m per detik dan beberapa wilayah bisa mencapai kecepatan arus 2,5 – 3,4 m per detik seperti selat-selat  di Pulau Bali , Lombok dan Nusa Tenggara Timur. Selat antara Pulau Taliabu dan Pulau Mangole di Kepulaun Sula, Provinsi Maluku Utara mempunyai arus pasang surut  terkuat hingga mencapai kecepatan 5,0 m per detik. Arus laut menghasilkan energi kinetik akibat gerakan horizontal massa air laut yang mampu menggerakkan rotor atau turbin sehingga dapat menghasilkan listrik. Gerakan gelombang laut  secara horizontal pada massa air hanya terjadi pada kolom air di lapisan permukaan laut saja, sedangkan arus laut terjadi pada perairan dalam.

Sumber Tabel : Ditjen EBTKE (2018) dalam Dewan Energi Nasional (2019)
Sumber Gambar : Kementerian ESDM

Kondisi wilayah Indonesia berupa kepulauan menjadi penghambat pasokan listrik ke sejumlah daerah dan pulau-pulau  terpencil. Sumber energi laut menjadi alternatif bagi masyarakat pesisir untuk mendapatkan listrik yang belum terlayani oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN ). Berdasarkan potensi dari berbagai jenis energi, energi laut mampu menghasilkan 17,9 GW. Segi biaya berdasarkan tarif per kWh, untuk energi arus laut sebesar Rp 1,268/kWh, energi gelombang laut sebesar Rp 1.709 /kWh, energi pasang surut sebesar Rp 2.048/kWh dan energi dari perbedaan suhu air laut mencapai Rp 4.030/kWh. Saat ini tarif listrik PLN untuk rumah tangga sebesar Rp 1.352/kWh, sehingga tarif tidak selisih jauh dengan energi laut, kecuali energi dari perubahan suhu air yang mempunyai tarif cukup tinggi.

Potensi energi laut di Indonesia sangat besar, pengembangan teknologi penghasil energi terbarukan dari kawasan laut harus terus diupayakan. Bila setiap pulau dapat menghasilkan listrik sendiri maka kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat Indonesia akan terwujud. Masyarakat pulau terpencil akan dapat menikmati hadirnya listrik sehingga memberikan peningkatan fasilitas baik pendidikan dan perekonomian. Adanya listrik dari energi laut dapat mengurangi penggunaan energi fosil oleh masyarakat untuk menghidupkan mesin genset sebagai penghasil listrik dan mengurangi polusi udara.

 


Referensi:

Dewan Energi Nasional, S.J. (2019). Outlook Energi Indonesia 2019. Jakarta : Sekretariat Dewan Energi Nasional.

https://ebtke.esdm.go.id

https://mgi.esdm.go.id

https://www.kompasiana.com

 

Share: