Surga Kecil di Karimunjawa

Karimunjawa merupakan wilayah kepulauan di utara Pulau Jawa. Kepulauan Karimunjawa secara administratif merupakan kecamatan dari daerah Kabupaten Jepara yang berjarak kurang lebih 45 mil arah barat laut dari Kota Jepara (Gustiani & Delyuzar, 2012). Mencapai ke lokasi ini dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu jalur laut dan satu jalur udara. Pada jalur laut dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang dengan kapal cepat dan dari Pelabuhan Kartini Jepara dengan kapal feri. Pada jalur udara yaitu dengan pesawat terbang yang mendarat di Bandara Dewadaru Karimunjawa.

Karimunjawa dikenal sebagai “Indonesia Mini” karena penduduknya sangat beragam, terdiri atas berbagai suku seperti suku Jawa, Bugis, Madura, Buton, Bajo, dan Mandar (Anis, 2015). Oleh karena itu, tidak salah jika Karimunjawa dikatakan sebagai pulau kecil yang memiliki multikulturalisme yang kental. Sebagian besar penduduk di Karimunjawa adalah pendatang yang kemudian mencari penghidupan dan menetap di pulau tersebut, sehingga Pulau Karimunjawa tidak memiliki suku asli (Anis, 2015).

Karimunjawa dikelilingi oleh beberapa pulau kecil. “Karimunjawa ini mempunyai sekitar 20an pulau kecil yang mengelilingi” ujar Yusa, pemandu wisata. “Di sini pulau yang di huni hanya beberapa saja, sekitar 8 pulau yang berpenghuni” ujarnya. Beberapa pulau-pulau kecil yang terdapat di Karimunjawa yaitu Pulau Karimunjawa, Pulau Cemara Kecil, Pulau Cemara Besar, Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil, Pulau Kemujan, dan masih banyak lagi.

Wisata Bawah Laut Karimunjaya Masih Menjadi Daya Tarik

Kepulauan Karimunjawa memiliki potensi dalam pariwisata yang juga didukung adanya Taman Nasional dan letak Kepulauan Karimunjawa yang cukup strategis. Menurut BTNKJ (2001) potensi yang ada di Taman Nasional Karimunjawa ada tiga. Pertama, yaitu keanekaragaman hayati yang tinggi terutama di lingkungan terumbu karang, mangrove dan lamun. Kedua, wilayah yang mempunyai keindahan alam dengan kondisi hutan yang masih asli dan asri, pasir putih di pantainya, adanya pohon dewandaru, burung elang, kerang merah, danpenyu. Ketiga, potensi sumber daya tinggi baik wisata bahari maupun wisata lingkungan dan rekreasi yang ditujukan untuk skala nasional dan internasional.

Terdapat macam-macam kegiatan pariwisata di Karimunjawa, yaitu snorkeling, diving, tracking mangrove, tracking bukit, dan wisata religi. Tempat  yang biasa wisatawan snorkeling yaitu di Pulau Cemara Besar. Snorkeling di Pulau Cemara Besar tidak akan pernah menyesal dikarenakan terumbu karang di wilayah tersebut sangat indah dan luas, ikannya pun juga cukup banyak dan beragam. Wisata di bawah laut sangat bagus, indah, dan juga lautnya jernih.

Karimun Jawa Primadona Wisata di Jawa
Kawasan Karimunjawa masih mempunyai daya tarik dalam wisata alam

Di Karimunjawa juga terdapat penangkaran hiu yang berada di Pulau Menjangan Besar. Hiu di penangkaran tersebut dibedakan dari hiu yang berukuran sedang hingga yang berukuran besar. Di penangkaran tersebut juga terdapat bintang laut berwarna merah yang cukup besar dan juga terdapat ubur-ubur. Pengunjung juga dapat berfoto langsung dengan hewan yang ada di penangkaran tersebut. Hiu tersebut diambil langsung dari perairan Karimunjawa dan semua hiu di penangkaran diberi nama “Vino” oleh petugas penangkaran.

Wilayah yang memiliki hutan mangrove di Karimunjawa yaitu Pulau Kemujan. Pulau Kemujan merupakan salah satu pulau di Taman Nasional Karimunjawa (Januardi, Agus, & Pujiono, 2016). Hutan mangrove yang terdapat di Pulau Kemujan sangat terjaga keasriannya, sehingga nyaman saat kita menjelajahi tempat tersebut.

Banyak sekali keunikan-keunikan yang terdapat di Karimunjawa, mulai dari masyarakat hingga alam. Keindahan alam di Karimunjawa tidak diragukan lagi. Karimunjawa mempunyai destinasi wisata yang cukup lengkap, dari keindahan di bawah laut, hutan mangrove, hingga bukit. Wisata yang terdapat di wilayah tersebut dapat memanjakan para wisatawan yang akan berkunjung ke sana.

 

Euis Asterina Al Gadri
euisastergad@gmail.com

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian
Universitas Trunojoyo Madura


Referensi:  

Anis, W. (2015). Akar Konflik Dalam Masyarakat Multikultural di Karimunjawa. Yustisia, 602-616.

BTNKJ [Balai Taman Nasional Karimunjawa]. 2001. Laporan Kegiatan Survey Potensi dan Penyebaran Terumbu Karang dan Pemasangan Plot Permanen di Balai Taman Nasional Karimunjawa. BTN Karimunjawa.

Gustiani, L., & Delyuzar, I. (2012). Foraminifera Bentik dalam Sedimen Sebagai Indikator Kondisi Lingkungan Terumbu Karang di Perairan Pulau Cemara Besar dan Cemara Kecil Kepulauan Karimunjawa Jawa Tengah. Jurnal Geologi Kelautan, 23-36.

Januardi, R., Agus, H., & Pujiono, W. P. (2016). Analisis Habitat dan Perubahan Luasan Terumbu Karang di Pulau Menjangan Bsar, Kepulauan Karimunjawa Menggunakan Citra Satelit. Diponegoro Journal of Maquares, 302-310.