Abrasi dan Ablasi: Berbeda Makna, Berdampak Sama

Indonesia merupakan negara dengan wilayah perairan yang lebih besar dibandingkan dengan daratannya. Semua fenomena yang terjadi di darat maupun laut, baik karena perbuatan manusia ataupun terjadi secara alami, akan berdampak pada perubahan lingkungan. Begitu juga dengan fenomena pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim yang memberikan pengaruh signifikan terhadap berubahnya pola hujan, naiknya muka air laut, terjadinya badai dan gelombang tinggi, serta dampak merugikan lainnya yang mengancam kehidupan (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup, 2012). Kenaikan permukaan air laut dapat memberikan dampak buruk berupa abrasi maupun ablasi.

Wilayah pesisir Indonesia merupakan pertemuan antara darat dan laut. Wilayah pesisir memiliki batas ke arah darat meliputi bagian daratan kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut. Beberapa faktor yang mempengaruhi wilayah pesisir seperti angin laut, pasang surut, dan perembesan air laut yang mana ciri-ciri perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar (Hakim, 2012).

dampak abrasi
Gambar 1 Dampak Abrasi di Pantai Depok (Dokumen pribadi) 8° 0’54.54″S dan 110°17’44.59″E

Abrasi adalah hilangnya daratan di wilayah pesisir disebabkan oleh faktor alami dan manusia, seperti pada gambar 1. Faktor alami di antaranya adalah arus laut, gelombang, kondisi morfologi serta vegetasi yang tumbuh di pantai, sedangkan faktor yang disebabkan oleh aktivitas manusia adalah adanya bangunan baru di pantai, perusakan terumbu karang, penebangan atau penggunaan wilayah sabuk pantai seperti mangrove dan break water (pemecah gelombang) untuk kepentingan lain seperti lokasi budidaya atau fasilitas lainnya (Suwarsono, 2004).

Fenomena abrasi menyebabkan perubahan bentang alam sehingga terbentuknya Cliff (tebing pantai), cave, arch, dan daratan abrasi. Cliff adalah pantai yang memiliki batuan keras dan terjal yang terjadi dari pengikisan di bagian bawah tebing. Cave merupakan sebutan dari gua yang berada di tebing pantai, arch merupakan terobosan gua hingga sampai kedua sisi tebing,sedangkan dataran abrasi adalah wilayah daratan yang telah mengalami pengikisan sehingga terlihat jelas apabila air surut (Yulia, 2015).

dampak ablasi
Gambar 2 Dampak dari Ablasi Sungai Progo Kulonprogo (Triangga, 2011) 7°58’35.17″S dan 110°13’0.21″E

Apabila di pantai dapat terjadi pengikisan, maka di Daerah Aliran Sungai (DAS) juga dapat terjadi pengikisan yang disebut ”ablasi”, seperti Gambar 2. Kecepatan aliran air, banyaknya volume air, dan proses transportasi sedimen adalah berbagai faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya proses pengikisan. Sama seperti abrasi, fenomena ablasi juga menyebabkan perubahan sehingga membentuk bentang alam yang baru seperti meander atau sungai yang berliku, apabila terjadi terus menerus maka akan membentuk oxbow lake (danau tapal  kuda) (Yulia, 2015).

peta lokasi ablasi dan abrasi
Gambar 3 Peta lokasi Ablasi dan Abrasi di DI Yogyakarta

Kedua fenomena tersebut memberikan dampak buruk dengan semakin mundurnya garis daratan dari wilayah perairan. Hal tersebut akan memberikan ancaman terhadap pemukiman maupun ekosistem yang ada di belakangnya seperti halnya yang terjadi di wilayah DI Yogyakarta pada Gambar 3. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kegiatan mitigasi. Kegiatan mitigasi struktural berupa kegiatan reboisasi, yaitu penghijauan dan pembangunan bangunan pelindung, sedangkan mitigasi non struktural dengan membuat peraturan mengenai larangan kegiatan yang dapat mempercepat abrasi maupun ablasi, seperti penebangan mangrove atau pertambangan pasir. Apabila kegiatan mitigasi struktural maupun non struktural dapat berlangsung dengan imbang, maka kesejahteraan dan keamanan masyarakat maupun lingkungan akan terpenuhi.

Ayu Puji Larasati (Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya)
e-mail: ayupuji.larasati@gmail.com

Referensi:

Hakim, Buddin A., Suharyanto dan Wahju Krisna Hidajat. 2012. Efektifitas Penanggulangan Abrasi Menggunakan Bangunan Pantai di Pesisir kota Semarang. Semarang : Universitas Dipenogoro

Jabatan Pengairan Dan Saliran Negeri Perak. 2016. Membaikpulih Tebing Sg. Bidor Di Bt. 9 Changkat Jong, Hilir Perak. http://www.jpsperak.gov.my// Diakses Kamis, 21 Juli 2016 Pukul 11.00 WIB

Karuniastuti, Nurhenu. 2016. Peranan Hutan Mangrove Bagi Lingkungan. Forum Manajemen Vo. 6 No.1

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2012. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Program Kampung Iklim Hal. 6-12

Suwarno, Supiyati dan Suwardi. 2011. Zonasi Karakteristik Kecepatan Abrasi Dan Rancangan Teknik Penanganan Jalan Lintas Barat Bengkulu Bagian Utara Sebagai Jalur Transportasi Vital. Makara Teknologi Vol. 15 No. 1 Hal. 31-38

Triangga, Panuju. 2015. Tanggul Sungai Progo Ambrol. http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/03/24/81101/Tanggul-Sungai-Progo-Ambrol// Diakses pada hari Jumat, 29 Juli 2016 Pukul 10.00 WIB

Yulia, M.SI. 2015. Abrasi dan Erosi, Pengertian, Perbedaan, Jenis dan Macamnya. http://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/abrasi-dan-erosi// Diakses pada hari Kamis, 21 Juli 2016 Pukul 09.00 WIB.

.

Share: