Cemara Udang Sebagai Penanggulangan Bencana dan Pemulih Ekosistem

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan 62% luas wilayah merupakan laut dan perairan. Kondisi ini membuat potensi bencana yang bersumber dari laut  di wilayah Indonesia menjadi cukup tinggi. Bencana alam di pesisir berupa pasang air laut, abrasi, dan tsunami memberikan dampak kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi serta korban jiwa bagi masyarakat pesisir. Meminimalisir resiko becana dan tetap menjaga kondisi lingkungan menjadi suatu tantangan untuk membangun wilayah pesisir yang lestari. Penanaman cemara udang memberikan manfaat dalam menahan kecepatan angin dan menjaga kondisi udara menjadi lebih sejuk. Cemara udang juga mampu mengurangi dampak bencana tsunami dan abrasi pada wilayah pesisir.

Pohon Cemara Udang

Vegetasi cemara udang (Casuarina equisetifolia) juga sangat dibutuhkan pada kawasan pesisir yang gersang dan kering untuk memberikan manfaat lingkungan dalam membentuk ekosistem baru. Pembentukan ekosistem baru diperlukan vegetasi pioner untuk memberikan daya dukung kehidupan bagi tanaman lain. Cemara  udang merupakan vegetasi yang dapat hidup pada kondisi yang ekstrim, tahan kekeringan dan hembusan angin yang kuat serta serangan hama penyakit (Rao, & Dommergeus, 1998). Cemara udang memberikan manfaat bagi tanaman lain dalam menyuburkan tanah dan menciptakan iklim mikro (Whistler & Craig, 2006). Mikroorganisme simbiotik Frankia yang terdapat pada batang dan akar pohon cemara udang mampu mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan kualitas lingkungan melalui penambatan nitrogen di udara (Winastuti, 2013). Stuktur tajuk cemara udang memberikan stabilitas dalam ekosistem, melindungi tanah dari kondisi terbuka dan memelihara kesuburan tanah untuk daya dukung pertumbuhan vegetasi bawah (Domonis & Elleberg, 1974).

Pemanfaatan cemara udang dari segi ekonomi dapat memberikan pemasukan kas  daerah di bidang pariwisata bagi pemerintah daerah. Karakteristik vegetasi yang menarik menjadi daya dukung obyek wisata. Kondisi udara yang sejuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung untuk berkegiatan dan sekedar melepaskan penat. Pola tanam dan areal spot di kawasan wisata memberikan daya dukung bagi wisatawan untuk menjelajahi kawasan pesisir dan meningkatkan minat masyarakat lokal maupun daerah lain untuk berkujung di wilayah pesisir. Beberapa daerah sudah menjadikan kawasan hutan cemara untuk menjadi kawasan obyek wisata. Kondisi ini memberikan dampak penambahan jumlah kawasan wisata dan meningkatkan pemasukan kas daerah.

Cemara udang mempunyai peran penting untuk menjaga ekosistem pesisir sehingga diperlukan kesadaran kita bersama untuk merawat dan melestarikan lingkungan pesisir. Manfaat yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi dalam membentuk unsur hara dan menjaga iklim mikro merupakan keunggulan vegetasi cemara udang. Penanaman cemara udang juga harus menyesuaikan fungsi dan rencana tata ruang wilayah pesisir. Hal ini untuk menghindari tumpang tindih antara pemanfaatan kawasan dengan rencana tata ruang kawasan pesisir. Beberapa kawasan pesisir mempunyai karakteristik yang khas sehingga perlu di jaga dan dilestarikan. Kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perlu dilakukan kajian terlebih dahulu untuk melakukan penanaman cemara udang. Kemampuan pertumbuhan yang cepat dapat menyebabkan intervensi terhadap vegetasi atau karakteristik bentuk lahan yang dilindungi. Perencanaan dan kajian pada lokasi penanaman cemara udang perlu dilakukan untuk mendapatkan manfaat yang efektif dan sesuai peruntukannya.

 


Winastuti, Dwi Atmanto. (2013). Potensi Simbiosis Casuarina – Frankia Dalam Peningkatan Kualitas Tanah di Lahan Pasir Pantai. Disertasi Studi Ilmu Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Rao NSS, Dommergues YS. (1998). Microbial interaction in agriculture and forestry. USA : Science Publishers, Inc.

Whistler WA, Craig R, Elevitch. (2006). Species profiles for Pacific Island Agroforestry. Hawai : Permanent Agricultural Resources (PAR), Holualoa.

Dombois DM, Ellenberg H. (19740. Aims and methods of vegetation Ecology. New York : John Willey and Sons.

 

Share: