Kawasan Konservasi Baros sebagai Penyeimbang Lingkungan

Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah dengan panjang garis pantai kurang lebih 17 km (DKP Bantul. 2013). Di pesisir Kabupaten Bantul, ditemukan mangrove yang dapat tumbuh dengan baik, tepatnya pada wilayah estuari, yaitu pertemuan antara pantai selatan dengan muara Sungai Opak. Mangrove merupakan sekelompok tanaman yang dapat hidup di daerah pasang surut yang masih terkena pengaruh dari laut maupun darat. Dusun Baros yang ditumbuhi mangrove ditetapkan menjadi kawasan konservasi pesisir, yaitu wilayah yang mempunyai ciri khas tertentu sebagai satu kesatuan ekosiste, yang dilindungi, dilestarikan dan atau dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan, sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 17 Tahun 2008.

Penanaman Mangrove secara bertahap terus dilakukan
Penanaman Mangrove secara bertahap terus dilakukan

Kawasan konservasi mangrove di pesisir Baros tidak terbentuk secara instan, namun telah melalui proses yang cukup panjang. Penanaman mangrove mulai dilakukan di Dusun Baros pada tahun 2003 sebagai bentuk kerjasama antara masyarakat Dusun Baros dan LSM Relung untuk mengatasi permasalahan lingkungan di pesisir Dusun Baros. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem mampu menggerakkan mereka untuk melakukan sebuah aksi nyata demi melestarikan lingkungan di sekitarnya. Dinaungi oleh LSM Relung, masyarakat dan relawan mulai melakukan penanaman mangrove secara bertahap (Cahyawati, 2013).

Baca: Mangrove Sejati, Perisai Melawan Abrasi dan Intrusi

Pemilihan lokasi penanaman mangrove di pesisir Baros bukan tanpa alasan. Wilayah pesisir pantai Baros merupakan peralihan antara ekosistem darat dan laut yang bersifat kompleks dan terdiri dari beberapa ekosistem, di antaranya ekosistem estuari dan pesisir. Bertambahnya populasi manusia di Dusun Baros berakibat pada peningkatan aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti mengubah fungsi lahan menjadi lahan pertanian. Kehidupan masyarakat pantai Baros yang makin padat penduduknya secara tidak langsung membawa dampak bagi alam dan kehidupan yang berada di sekitar pantai Baros. Seiring berjalannya waktu, lahan di kawasan pantai Baros mulai beralih fungsi, sebagian besar digunakan untuk pemukiman dan sebagai ladang bercocok tanam (Setiawan, 2014).

Akibat adanya pemanfaatan lahan secara berlebihan, kerusakan alam di wilayah Pantai Baros mulai terlihat. Banjir rob, abrasi, pergeseran muara sungai (hilir), dan berkurangnya habitat hewan adalah dampak yang timbul akibat aktvitas masyarakat di sekitar pesisir Pantai Baros. Dampak yang juga mulai dirasakan oleh masyarakat Baros adalah terancamnya lahan pertanian karena pengikisan baik oleh aliran sungai maupun gelombang laut serta tanaman yang kering akibat tidak adanya pembatas antara darat dan laut sehingga partikel garam dari air laut menempel pada daun tanaman.

Baca: Meluruskan Istilah “Hutan Mangrove” Bukan Hutan Bakau

Mangrove Baros 2
Mangrove sebagai ‘Pagar’ lahan pertanian warga

Dilatarbelakangi oleh berbagai hal tersebut, dimulailah penanaman mangrove di wilayah pesisir Baros sebagai upaya untuk mengurangi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Pemilihan mangrove sebagai vegetasi untuk ditanam didasarkan pada karakteristik mangrove sebagai vegetasi pantai tropis yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Mangrove mampu tumbuh baik di wilayah pesisir yang tinggi kadar garamnya, namun juga dapat tumbuh di wilayah muara sungai yang ddidominasi oleh air tawar. Mangrove dengan peranan ekologis, ekonomis, dan sosialnya sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem pantai dan sebagai pertahanan dari beberapa bencana alam, seperti gelombang tinggi akibat gempa (tsunami), pengikisan daerah pantai (abrasi), masuknya air laut ke dalam batuan dan air tanah (intrusi), dan pencemaran. Penanaman mangrove juga bersifat edukatif karena memberikan pengetahuan kepada masyarakat di sekitar pantai Baros mengenai pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup.

Inset Baros
Letak Dusun Baros

Dengan mangrove seluas 2,1 hektar, kini kawasan konservasi mangrove Baros tak hanya berfungsi secara ekologis sebagai penyeimbang ekosistem, namun juga menjadi salah satu lokasi wisata edukatif yang tak hanya menyuguhkan keindahan alam, namun juga memberikan pengetahuan bagi wisatawan yang mengunjunginya. Pengelolaan yang terpadu sangat dibutuhkan untuk menunjang kelestarian dari kawasan konservasi mangrove Baros, agar fungsi ekologis, ekonomis, dan sosialnya dapat terus terlaksana.

 

Puspa Khaerani (Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya)
email: puspakhrni@gmail.com

Referensi

Setiawan, Bagus Eko. 2014. Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Mangrove Di Kawasan Pantai Baros Bantul Yogyakarta Ditinjau dari Deep Ecologyarne Naess. Skripsi. Universitas Gadjah Mada.

Cahyawati, Reni. 2013. Pengelolaan Hutan Mangrove terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Di Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupate Bantul. Tesis. Universitas Gadjah Mada.

 

Share: