Mangrove: The Next Truf Card Indonesia

Conference of the Parties (COP) 21 yang diadakan di Paris dua tahun lalu merupakan perjanjian para anggota UNFCC terkait aksi nyata penurunan emisi karbon. Indonesia turut hadir dan menyampaikan rencana aksi untuk mendukung penurunan emisi karbon sehingga mencegah pemanasan global yang membahayakan Bumi. Hutan tropis Indonesia sebagai salah satu senjata cadangan karbon di Bumi tampaknya telah ‘usang’ sehingga tidak bisa diharapkan lagi. Tingkat deforestasi yang tinggi karena aktivitas perkebunan sawit menjadi salah satu penyebab utama.

Beruntungnya, Indonesia masih mempunyai ‘kartu truf’ andalan lainnya untuk mengurangi emisi karbon di Bumi. Seperti dalam COP 21, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa sebagai langkah penurunan emisi Bumi, Indonesia akan memperkuat fungsi ekosistem laut dan mangrove. Pernyataan Presiden Joko Widodo diperkuat Daniel et al. (2011) yang menyatakan bahwa kemampuan mangrove menyimpan karbon lebih dari hampir semua hutan lainnya di bumi.

Implementasi yang mampu memperkuat fungsi ekosistem mangrove telah dirancang dalam COP 22 di Maroko. Melalui Blue Carbon Partnership, potensi blue carbon Indonesia diharapkan mampu dioptimalkan. Menurut penelitian yang dilakukan Cifor, blue carbon dapat mengurangi emisi karbon sampai 139,77 juta ton karbon/tahun. Tentunya dengan reforestasi lahan mangrove akan meningkatkan kemampuan pengurangan emisi karbon per tahun lebih banyak lagi. Indonesia sangat berpotensi untuk merealisasikan upaya reforestasi, mengingat Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang nomor dua di dunia. Lebih spesifik, menurut Badan Informasi Geospasial (2015), garis pantai Indonesia mencapai 99.093 km atau setara dengan dua kali keliling Bumi!

Mangrove yang bervariasi, mulai dari Avicennia sp., Soneratia sp., Rhizopora sp., Bruguirea sp., menjadikan Indonesia sebagai surga mangrove sekaligus negara penyimpan karbon. Menurut Ditjen KTA dan Ditjen PSDHL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2015), luas mangrove Indonesia yaitu 3,48 Juta Ha, dengan mangrove kondisi baik yaitu 1,67 Juta Ha. Luasan mangrove tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan ekosistem mangrove terluas di dunia (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2008).MANGROVE_INDONESIA

Mangrove mampu menyimpan karbon sehingga tidak terlepas ke atmosfer dan membuat dampak perubahan iklim tidak secara ekstrem di Indonesia. Keberadaan mangrove juga membuat habitat baru bagi kepiting, moluska, gastropoda, dan burung-burung. Mangrove merupakan tempat tinggal bagi beragam biota. Dengan kata lain,  dapat dikatakan mangrove adalah sumber plasma nutfah, sama halnya seperti hutan hujan tropis. Mangrove yang berkondisi baik akan memperkuat bukti bahwa Indonesia merupakan negara mega biodiversitas.

Adalah tanggung jawab kita menjaga mangrove yang tersisa dan berkesempatan untuk berpartisipasi dalam penanaman mangrove yang banyak ditawarkan NGO, pelaku wisata ataupun pemerintah. Bukankah kita juga yang turut berbangga jika Indonesia mempunyai kartu ajaib untuk turut menyelamatkan Bumi? Mari bersama lindungi mangrove yang lebih lestari.

 Bernike Hendrastuti & Mega Dharma Putra

Referensi

Badan Informasi Geospasial. 2015. BIG Sediakan Data dan Informasi Geospasial untuk Mendukung Industri Bahari. (http://www.bakosurtanal.go.id/big-sediakan-data-dan-    informasi-geospasial-untuk-mendukung-industri-bahari/) diakses tanggal 7 Agustus 2017.

Daniel, C.D., Kauffman, J., Murdiyarso, B., Kurnianto, S., Stidham, M., Kanninen, M. 2011. Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience 4.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2015. Kondisi Mangrove Indonesia. Bahan Presentasi Direktorat Konservasi Tanah dan Air. Tidak dipublikasikan.